Satu Siswa Korban Keracunan MBG di Lombok Tengah Masih Dirawat

- Satu siswa korban dugaan keracunan MBG di Batukliang, Lombok Tengah, masih dirawat di Puskesmas Mantang akibat diare, lemas, dan dehidrasi; korban lain telah dipulangkan.
- Ratusan siswa dari lima sekolah mengalami mual, muntah, mules, lemas, sesak napas, dan diare setelah mengonsumsi menu kebab ayam yang dibagikan pada Jumat.
- Dinkes NTB dan BBPOM Mataram menguji sampel makanan untuk memastikan penyebabnya, serta menyarankan menu MBG berbahan lokal yang fresh dengan standar higienitas dan penyajian ketat.
Mataram, IDN Times - Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi NTB menyebutkan satu siswa korban keracunan makan bergizi gratis (MBG) di wilayah Kecamatan Batukliang, Kabupaten Lombok Tengah, belum membaik. Korban masih menjalani perawatan di Puskesmas Mantang, Lombok Tengah.
Kepala Dinkes NTB dr. Lalu Hamzi Fikri mengatakan ratusan siswa yang diduga keracunan MBG pada Jumat (11/9/2026) berasal dari lima sekolah di kecamatan Batukliang. Yaitu SDN 2 Lendang Tampel Batukliang, SDN Beber Batukliang, SDN Repoq Puyung Batukliang, SDN Mertak Kesambik Batukliang dan MTs Qudwatun Hasanah Batukliang.
Para korban selanjutnya dibawa ke empat puskesmas yaitu Puskesmas Aik Darek 124 orang, Puskesmas Mantang 67 orang, Puskesmas Pringgarata 144 orang dan Puskesmas Bagu 17 orang. Hingga pukul 16.00 WITA, korban diperbolehkan pulang ke rumah masing-masing namun ada satu siswa yang mendapatkan penanganan serius karena harus diinfus.
"Karena memang ada diare dan lemas, mengalami dehidrasi. Yang satu orang masih dirawat. Belum ada updatenya, tapi yang jelas sampai hari ini saya dilaporkan yang masih perawatan satu orang," kata Fikri dikonfirmasi di Mataram, Senin (13/9/2026).
1. Dinkes NTB masih lakukan investigasi bersama BBPOM Mataram

Kepala Dinkes NTB dr. Lalu Hamzi Fikri. (IDN Times/Muhammad Nasir) Fikri mengatakan Dinkes NTB bersama Balai Besar Pengawasan Obat dan Makanan (BBPOM) Mataram masih melakukan investigasi kasus ratusan siswa yang diduga keracunan MBG di Lombok Tengah. Dinkes NTB dan BBPOM Mataram telah mengambil sampel makanan yang dikonsumsi para siswa serta sampel makanan di Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Lombok Tengah Mekar Bersatu.
Selanjutnya, sampel tersebut dilakukan uji laboratorium oleh BBPOM Mataram. Informasi yang diperoleh dari BBPOM Mataram, hasil uji laboratorium tersebut maksimal akan keluar dalam waktu 30 hari. Namun, kata Fikri, BBPOM Mataram akan memprosesnya lebih cepat sehingga hasil uji laboratorium bisa segera diketahui.
"Balai POM menyampaikan maksimal 30 hari hasil uji laboratorium keluar. Karena ada uji mikrobiologi, uji logam berat, termasuk kandungan formalin, apakah ada borax, rodamin atu lainnya. Tapi Balai POM akan memproses secepatnya, ini masih dalam proses pemeriksaan," terangnya.
2. Kronologi ratusan siswa diduga keracunan MBG

Menu MBG kebab ayam yang dikonsumsi para siswa. (IDN Times/Muhammad Nasir) Fikri menjelaskan kronologi yang menimpa ratusan siswa usai mengonsumsi MBG dengan menu kebab ayam. Makanan diantarkan ke masing-masing sekolah pada pukul 08.15 WITA. Kemudian dibagikan ke para siswa pada pukul 09.00 WITA
Selanjutnya para siswa mengonsumsi MBG tersebut pada pukul 09.10 hingga 12.15 WITA. Setelah itu, pada pukul 12.30 WITA, ratusan siswa dilarikan ke empat puskesmas setelah mengalami gejala mual, muntah, mules, lemas, sesak napas dan diare. Hingga pukul 16.00 WITA, korban diperbolehkan pulang setelah mendapatkan penanganan di empat puskesmas, namun masih ada satu orang siswa yang mendapatkan penanganan lebih lanjut karena harus diinfus di Puskesmas Mantang.
"Kita tetap melakukan investigasi. Balai POM bersama Dinas Kesehatan turun ke lapangan mengambil sampel. Kita tetap intens komunikasi dengan Balai POM pada hari yang sama dilakukan pengujian sampel," jelasnya.
3. Dinkes NTB tidak menyarankan MBG makanan siap saji

SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu. (IDN Times/Muhammad Nasir) Untuk mencegah kasus keracunan, Dinkes NTB menyarankan supaya menu MBG yang disalurkan ke penerima manfaat agar makanan yang fresh dari bahan lokal. Dinkes tidak menyarankan MBG yang disalurkan ke penerima manfaat berupa makanan siap saji.
"Kalau kita dorong makanan yang fresh lokal, tidak disarankan makanan siap saji. Karena memang kualitas gizi itu berbeda antara makanan yang fresh dan siap saji. Tantangannya tersendiri kalau mengolah makanan fresh. Kalau makanan siap saji, tinggal sajikan tetapi kualitas gizinya sangat berbeda jauh dengan yang fresh," kata dia.
Untuk mencegah kasus keracunan, Fikri menekankan pentingnya pengelola dapur MBG memperhatikan standar higienitas, waktu dan penyajian. Jika diikuti semua standar yang telah ditetapkan maka outputnya adalah makanan yang sehat dan bergizi.
"Aspek standar SLHS, cara penyajian, kualitas gizi apakah itu sudah terpenuhi. Apakah gapnya lebar atau sempit. Kalau lebar gapnya artinya risiko terjadinya masalah," tandasnya.



















