BMKG: Bibit Siklon Tropis 97S Pemicu Utama Cuaca Ekstrem di NTB

- Bibit siklon tropis 97S mempengaruhi pola angin dan suplai massa udara basah ke wilayah NTB
- Dampak tidak langsung bibit siklon tropis 97S di wilayah NTB
- Angin kencang dan banjir melanda tiga kabupaten di Pulau Lombok
Mataram, IDN Times - Kepala BMKG Stasiun Meteorologi Zainuddin Abdul Madjid (ZAM) Lombok, Satria Topan Primadi mengungkapkan keberadaan bibit siklon tropis 97S menjadi pemicu utama terjadinya cuaca ekstrem yang melanda wilayah Nusa Tenggara Barat, dalam beberapa hari terakhir. Cuaca ekstrem diperkirakan melanda wilayah NTB hingga 26 Januari mendatang.
BMKG Stasiun Meteorologi ZAM Lombok melakukan koordinasi dengan stakeholder terkait seperti BPBD, ASDP, UPP Pelabuhan, BUMN transportasi, Basarnas, dan berbagai pihak terkait mengenai potensi cuaca ekstrem yang terjadi di NTB, pada Rabu (21/1/2026). Topan memaparkan kondisi cuaca, dinamika atmosfer, serta potensi risiko bencana hidrometeorologi.
"Tujuannya untuk menginformasikan kepada masyarakat serta kesiapan dalam mengantisipasi potensi cuaca ekstrem," kata Topan.
1. Bibit siklon tropis 97S mempengaruhi pola angin dan suplai massa udara basah ke wilayah NTB

Topan menjelaskan keberadaan bibit siklon tropis 97S terpantau di barat daya Teluk Carpentaria, Australia. Sistem tersebut mempengaruhi pola angin dan suplai massa udara basah ke wilayah NTB.
Bibit siklon itu memiliki kecepatan angin maksimum sekitar 25 knot dengan tekanan udara minimum 998 hpa dan bergerak ke arah barat. "Selain itu, gangguan atmosfer lain seperti aktivitas Madden Julian Oscillation (MJO), gelombang Rossby ekuator, dan gelombang Kelvin juga terpantau aktif di NTB," bebernya.
Dia menambahkan, terpantau pula adanya potensi low pressure di selatan NTB yang dapat menyebabkan pertemuan dan perlambatan kecepatan angin di sekitar wilayah NTB. Kondisi tersebut menyebabkan kelembaban udara cenderung basah di berbagai lapisan ketinggian serta meningkatkan labilitas atmosfer yang mendukung proses konvektif skala local.
"Kondisi itu berpotensi menimbulkan hujan sedang hingga sangat lebat yang dapat disertai kilat atau petir serta angin kencang," kata dia.
2. Dampak tidak langsung bibit siklon tropis 97S di wilayah NTB

Topan menjelaskan dampak tidak langsung dari keberadaan bibit siklon tropis 97S juga meningkatkan kecepatan angin di wilayah NTB yang akan mempengaruhi tinggi gelombang laut di wilayah perairan NTB.
Kategori tinggi gelombang laut mencapai 1.25 - 2.5 meter berpotensi terjadi di perairan utara Lombok hingga Sumbawa, sedangkan kategori tinggi gelombang laut mencapai 2.5 - 4 meter berpotensi terjadi di perairan selatan Lombok hingga Sumbawa.
Bagi masyarakat yang tinggal dan beraktivitas di wilayah rawan bencana diimbau agar terus waspada dan siaga. Terutama saat terjadi hujan lebat, untuk mengantisipasi dampak yang dapat terjadi, seperti banjir, banjir bandang, banjir rob, tanah longsor, angin kencang, puting beliung, sambaran petir, dan pohon tumbang.
3. Angin kencang dan banjir melanda tiga kabupaten di Pulau Lombok

Pada hari ini, angin kencang dan banjir melanda tiga kabupaten di Pulau Lombok, yaitu Lombok Utara, Lombok Tengah dan Lombok Barat. Cuaca ekstrem berupa angin kencang melanda wilayah Kabupaten Lombok Utara pada Selasa (20/01/2026) hingga Rabu (21/01/2026).
Kejadian ini berlangsung sejak pukul 17.00 WITA hingga 05.00 WITA, ditandai dengan hujan lebat yang disertai angin kencang serta kilat petir, sehingga berdampak pada sejumlah wilayah di daerah tersebut.
Berdasarkan laporan yang diterima BPBD NTB, cuaca ekstrem terjadi di beberapa kecamatan, meliputi Kecamatan Bayan, Gangga, Pemenang, dan Tanjung. Wilayah terdampak antara lain Desa Akar-Akar dan Desa Mumbul Sari di Kecamatan Bayan, Desa Sambil Bangkol di Kecamatan Gangga, Desa Pemenang, Gili Meno, dan Gili Air di Kecamatan Pemenang, serta Desa Sigar Penjalin di Kecamatan Tanjung.
Peristiwa cuaca ekstrem ini disebabkan oleh intensitas hujan yang tinggi disertai angin kencang dan petir yang berlangsung cukup lama. Kondisi tersebut berpotensi menimbulkan gangguan terhadap aktivitas masyarakat serta risiko terjadinya bencana hidrometeorologis.
Kepala Pelaksana BPBD NTB Sadimin menjelaskan bahwa dalam penanganan kejadian ini, sejumlah personel telah dikerahkan, terdiri dari Tim Reaksi Cepat Penanggulangan Bencana (TRC-PB) BPBD Kabupaten Lombok Utara, Damkarmat Kabupaten Lombok Utara, serta unsur TNI dan Polri. Aparat gabungan melakukan pemantauan, koordinasi, dan kesiapsiagaan di wilayah terdampak guna memastikan kondisi tetap aman dan terkendali.
Sementara itu, hujan dengan intensitas lebat hingga sedang yang mengguyur wilayah NTB sejak Rabu dini hari (21/1/2026) mengakibatkan terjadinya bencana banjir di Kabupaten Lombok Tengah dan Kabupaten Lombok Barat. Kejadian tersebut dipicu oleh curah hujan tinggi yang terjadi secara merata sejak pukul 01.00 WITA dini hari.
Di Kabupaten Lombok Tengah, banjir terjadi sekitar pukul 02.30 WITA dan berdampak pada sejumlah kecamatan, yaitu Kecamatan Praya Barat Daya, Praya Barat, dan Pujut. Lokasi terdampak meliputi Dusun Kending Sampi Desa Kabul, Dusun Kelambi Desa Pandan Indah, Dusun Selong Paok Desa Bonder, Desa Selong Belanak, serta Desa Kuta di Kecamatan Pujut.
Sementara di Kabupaten Lombok Barat, banjir terjadi sekitar pukul 03.00 WITA dan merendam permukiman warga di Kecamatan Labuapi, tepatnya di BTN Pepabri, Desa Perampuan Kecamatan Labuapi. Banjir dipicu oleh hujan dengan intensitas sedang hingga lebat sejak pukul 01.00 WITA. Berdasarkan data sementara, sebanyak 22 unit rumah terendam dan 22 Kepala Keluarga (KK) terdampak.
Sadimin menjelaskan BPBD Provinsi NTB telah berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Lombok Tengah dan BPBD Kabupaten Lombok Barat serta stakeholder terkait. Tim Reaksi Cepat (TRC) BPBD di masing-masing kabupaten telah diterjunkan untuk melakukan asesmen dampak bencana dan pendataan kebutuhan masyarakat terdampak.


















