Hearing gabungan LSM NTB dengan Satgas MBG Provinsi NTB dan BGN Regional NTB terkait adanya dugaan mark up anggaran MBG, Senin (2/3/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)
Berdasarkan hasil pemantauan langsung, komunikasi dengan masyarakat setempat, serta pengumpulan data awal, Gabungan LSM NTB menemukan sejumlah indikasi yang mengarah pada dugaan praktik mark up anggaran. Beberapa di antaranya meliputi ketidaksesuaian spesifikasi pekerjaan dengan nilai anggaran yang tercatat, kualitas material yang rendah, serta kondisi sarana dan prasarana MBG yang tidak mencerminkan besaran biaya yang diduga telah digelontorkan.
Selain itu, masyarakat juga mengeluhkan minimnya keterbukaan informasi terkait rincian penggunaan anggaran, sehingga memunculkan kecurigaan adanya penyimpangan. Gabungan LSM NTB telah mengantongi beberapa bukti berupa dokumentasi foto yang dikirimkan langsung oleh masyarakat dan hasil peninjauan lapangan. Foto-foto tersebut memperlihatkan kondisi fasilitas MBG yang mengalami kerusakan, pengerjaan yang tidak rapi, material yang diduga tidak sesuai standar, serta kondisi bangunan yang dinilai tidak layak.
Data Satgas MBG Provinsi NTB per 1 Februari 2026, program MBG telah menjangkau hampir 1,9 juta orang. Di sektor pendidikan dasar, siswa SD kelas 1 hingga 3 menjadi kelompok terbesar dengan jumlah 278.009 jiwa, disusul oleh siswa SD kelas 4 hingga 6 sebanyak 266.110 jiwa.
Pada jenjang pendidikan menengah, program ini menjangkau 182.853 siswa SMP, 117.937 siswa MTs, serta total lebih dari 260.000 siswa di tingkat SMA, SMK, dan MA. Selain itu, program MBG juga menyasar 205.836 Balita, 88.814 anak PAUD, dan 117.827 anak TK. Kemudian Ibu Hamil 32.902 jiwa dan Ibu Menyusui 76.596 jiwa, 117.346 guru, 16.554 tenaga kependidikan, serta 8.194 kader Posyandu.