Benarkah Pengangguran di NTT Didominasi oleh Perempuan? Ini Temuan BPS!

- Belum ada jaminan kerja yang kuatMenurut BPS NTT, sektor pertanian menjadi penopang utama penyerapan tenaga kerja di desa. Sementara itu, wilayah perkotaan bergantung pada sektor jasa dan perdagangan.
- Pengangguran laki-laki lebih rendah dari perempuanTPT laki-laki per November 2025 adalah 3,00 persen, lebih rendah dibanding TPT perempuan yang mencapai 3,21 persen. Keduanya mengalami penurunan dibanding Agustus 2025.
- Pekerja berpendidikan rendah masih dominanPekerja di NTT didominasi lulusan pendidikan dasar dengan tingkat pengangguran tertinggi dimiliki oleh lulusan SMK. Seb
Kupang, IDN Times - Badan Pusat Statistik Nusa Tenggara Timur (BPS NTT) mencatat pengangguran di wilayah perkotaan justru naik tajam per November 2025. Fenomena ini terjadi saat tingkat pengangguran terbuka (TPT) secara umum justru menurun. Dari segi gender, BPS mencatat bahwa perempuan lebih banyak menjadi pengangguran dibandingkan laki-laki.
Kepala BPS NTT, Matamira B. Kale, menjelaskan jumlah pengangguran di NTT sekitar 0,10 juta orang atau 100 ribu orang. Angka ini berasal dari total angkatan kerja 3,11 juta orang, dengan 3,01 juta orang bekerja. Sementara TPT NTT turun sebesar 3,10 persen namun jika dilihat berdasarkan wilayah, terlihat jelas perbedaan kota dan desa.
“TPT di wilayah perkotaan naik menjadi 6,44 persen, sementara di perdesaan turun menjadi 1,70 persen. Ini menunjukkan tekanan pasar kerja di kota lebih tinggi,” kata Matamira dalam keterangannya yang diterima pada Senin (9/2/2026).
1. Belum ada jaminan kerja yang kuat

Menurutnya penopang utama penyerapan tenaga kerja lapangan pekerjaan di desa relatif tertolong oleh sektor pertanian. Penambahan jumlah pekerja terbesar terjadi pada sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan. Sementara itu, wilayah perkotaan lebih bergantung pada sektor jasa dan perdagangan yang pertumbuhannya tidak secepat pertambahan angkatan kerja.
"Yang menyerap 44,15 persen penduduk bekerja di NTT," ujarnya.
Kualitas pekerjaan juga menjadi tantangan karena dari total penduduk bekerja, 68,26 persennya masih berada di sektor informal, sedangkan sektor formal hanya 31,74 persen. Artinya, kata dia, sebagian besar pekerja belum memiliki jaminan kerja yang kuat, baik dari sisi pendapatan tetap maupun perlindungan sosial.
2. Pengangguran laki-laki lebih rendah dari perempuan

Sementara TPT laki-laki per November 2025 lalu sebesar 3,00 persen, atau lebih rendah dibanding TPT perempuan yang sebesar 3,21 persen.
"TPT laki-laki dan perempuan mengalami penurunan masing-masing sebesar 0,21 persen poin dan 0,22 persen poin dibandingkan Agustus 2025," tukasnya.
Pengangguran sendiri adalah penduduk usia 15 tahun ke atas yang tidak bekerja namun sedang mencari pekerjaan, mempersiapkan usaha baru, sudah diterima bekerja, sudah siap berusaha tetapi belum mulai bekerja/berusaha. BPS juga melihat ada yang merasa tidak mungkin mendapatkan pekerjaan (putus asa).
3. Pekerja berpendidikan rendah masih dominan

Pekerja di NTT saat ini juga masih didominasi lulusan pendidikan dasar. Sebanyak 39,37 persen pekerja berpendidikan SD ke bawah walau jumlah lulusan diploma dan sarjana meningkat. Sementara lulusan SMK menjadi kelompok dengan tingkat pengangguran tertinggi yakni 7,46 persen. Hal ini menjadi perhatian karena pendidikan kejuruan dirancang untuk mencetak tenaga siap kerja.
Berdasarkan kategori jam kerja, tercatat 10,91 persen adalah tingkat setengah pengangguran, sementara pekerja paruh waktu mencapai 33,22 persen. Kondisi ini menunjukkan banyak pekerja belum bekerja secara penuh sehingga berpotensi memiliki pendapatan terbatas.



















