Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Belum Mampu Ditekan, Harga Cabai di Sumbawa Tembus Rp120 Ribu per Kg

Belum Mampu Ditekan, Harga Cabai di Sumbawa Tembus Rp120 Ribu per Kg
Ilustrasi cabai merah. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Timeline
5W1H
Gini Kak
Sisi Positif
12 Maret 2026
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal melakukan sidak harga kebutuhan pokok di Pasar Brang Biji, Sumbawa, dan menemukan harga cabai rawit mencapai Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram. Ia berdialog dengan pedagang dan menilai tingginya harga dipengaruhi oleh keterbatasan pasokan serta posisi pasar yang bukan pasar induk.
sebelumnya
Pemerintah Provinsi NTB telah mendatangkan lebih dari satu ton cabai dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan, untuk menambah pasokan. Upaya ini belum berhasil menekan harga cabai di tingkat pasar.
kini
Pemprov NTB berkoordinasi dengan Badan Pangan Nasional untuk menambah pasokan cabai dari daerah lain berdasarkan data distribusi antarwilayah. Pemerintah juga memantau harga minyak goreng dan beras selama Ramadan guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok di pasar.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Timeline" helpful?

Sumbawa, IDN Times - Tingginya harga cabai di Nusa Tenggara Barat (NTB) belum mampu ditekan meski telah didatangkan pasokan dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Saat melakukan inspeksi mendadak (sidak) harga kebutuhan pokok di Pasar Brang Biji, Kabupaten Sumbawa, Kamis (12/3/2026), Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal mendapatkan harga cabai masih menembus Rp120 ribu.

Dalam sidak tersebut, Gubernur Iqbal berdialog langsung dengan pedagang serta mengecek harga sejumlah komoditas pangan strategis. Dari hasil pemantauan di dalam pasar, harga cabai rawit masih berada pada kisaran Rp110 ribu hingga Rp120 ribu per kilogram (kg).

Iqbal menilai harga cabai masih relatif tinggi, terutama karena Pasar Brang Biji bukan merupakan pasar induk yang menjadi pusat distribusi utama. “Dari hasil pengecekan langsung di pasar, harga cabai rawit memang masih cukup tinggi. Ini juga dipengaruhi karena pasar ini bukan pasar induk sehingga distribusi pasokan tidak sebesar di pasar utama,” kata Iqbal.

1. Permintaan tinggi, pasokan cabai terbatas

IMG_20260211_172158_989.jpg
Cabai kering. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dia mengatakan kenaikan harga cabai rawit saat ini dipengaruhi oleh mekanisme pasar. Di mana pasokan cabai yang terbatas tidak sebanding dengan tingginya permintaan masyarakat.

Dia menjelaskan, Pemprov NTB sebelumnya telah mencoba menambah pasokan cabai dengan mendatangkan lebih dari satu ton dari Kabupaten Enrekang, Sulawesi Selatan. Namun, langkah tersebut dinilai belum sepenuhnya mampu menekan harga cabai di tingkat pasar.

2. Koordinasi dengan Bapanas kembali datangkan cabai dari luar daerah

Wabup Lombok Tengah
Wakil Bupati Lombok Tengah M. Nursiah menerima pasokan 1 ton cabai rawit merah yang didatangkan dari Enrekang, Sulsel, Minggu (1/3/2026) di Bandara Internasional Zainuddin Abdul Madjid Lombok. (dok. Istimewa)

Untuk itu, Pemprov NTB tengah menjajaki opsi penambahan pasokan cabai dari luar daerah melalui koordinasi dengan Badan Pangan Nasional (Bapanas). Data distribusi antarwilayah dari Bapanas akan digunakan sebagai dasar untuk menentukan daerah pemasok yang memiliki surplus produksi cabai.

“Kami terus berkomunikasi dengan Badan Pangan Nasional untuk melihat daerah mana yang memiliki harga cabai lebih rendah dan memungkinkan dilakukan distribusi ke NTB sebagai bentuk intervensi pasar,” jelasnya.

3. Temukan harga minyak goreng masih tinggi

IMG-20260312-WA0025.jpg
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal melakukan sidak di Pasar Brang Biji, Kabupaten Sumbawa, Kamis (12/3/2026). Dia menemukan harga minyak goreng dan cabai masih tinggi. (dok. Istimewa)

Selain cabai, Iqbal juga memantau harga komoditas lain seperti minyak goreng dan beras. Untuk komoditas tersebut, pemerintah membuka ruang intervensi melalui koordinasi dengan Perum Bulog guna menjaga stabilitas harga dan ketersediaan stok di pasar.

Dalam sidak tersebut, Gubernur Iqbal juga menemukan harga minyak goreng bersubsidi merek “Minyak Kita” di wilayah Sumbawa masih relatif tinggi. Kondisi tersebut diduga terjadi karena sebagian pedagang belum terhubung langsung dengan jalur distribusi resmi sebagai distributor.

Dia menegaskan pemantauan harga kebutuhan pokok di pasar seperti ini, akan terus dilakukan selama Ramadan untuk memastikan ketersediaan pasokan dan stabilitas harga bahan pokok di berbagai daerah di NTB. "Pemerintah harus hadir memastikan harga tetap terkendali dan kebutuhan masyarakat terpenuhi, apalagi menjelang hari raya ketika permintaan biasanya meningkat,” tandasnya.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More