Amfoang Masih Gelap dan Terisolir, Mahasiswa Desak Pemprov NTT Bertindak

- Warga Amfoang di Kabupaten Kupang menghadapi kesulitan berat akibat akses jalan rusak, jembatan putus, dan minimnya BBM yang berdampak pada kesehatan, pendidikan, serta aktivitas ekonomi masyarakat.
- Harga BBM di wilayah Amfoang melonjak hingga Rp30 ribu per liter karena langkanya pasokan dan sulitnya distribusi akibat kondisi infrastruktur yang parah serta penertiban pengiriman BBM lewat bus.
- Viral video warga menggotong peti jenazah menyeberangi kali Kapsali setelah jembatan putus memperlihatkan betapa terisolirnya daerah tersebut dan mendesak pemerintah segera memperbaiki akses transportasi.
Kupang, IDN Times - Warga di wilayah Amfoang, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT), hingga kini masih hidup dalam keterisolasian akibat buruknya akses jalan dan minimnya infrastruktur. Kondisi tersebut membuat masyarakat kesulitan mendapatkan layanan kesehatan, distribusi bahan bakar minyak (BBM), hingga kebutuhan pokok sehari-hari.
Akibatnya berujung kejadian memilukan menimpa masyarakat, di antaranya tentang seorang ibu hamil yang meninggal dunia dalam perjalanan saat hendak melahirkan karena sulitnya akses menuju fasilitas kesehatan.
Belum lama ini, media sosial juga dihebohkan dengan video warga yang menggotong peti jenazah secara estafet menyeberangi Kali Kapsali akibat jembatan penghubung di wilayah itu putus.
Situasi tersebut memicu aksi unjuk rasa mahasiswa asal Amfoang yang tergabung dalam Aliansi Mahasiswa Amfoang Bersatu di Kantor Gubernur NTT, Selasa (19/5/2026). Mereka mendesak pemerintah segera menyelesaikan persoalan infrastruktur di daerah perbatasan tersebut.
Perwakilan massa aksi, Sepryanus Bani, mengatakan masyarakat Amfoang hingga kini masih kesulitan mendapatkan listrik dan BBM, terutama saat pasokan BBM langka.
“Amfoang masih gelap gulita karena tidak ada listrik dan BBM untuk genset saat BBM langka,” ujarnya saat audiensi di Kantor Gubernur NTT.
1. Kerusakan sarana prasana infrastruktur di NTT

Menurut dia, kerusakan jalan dan putusnya sejumlah jembatan berdampak besar terhadap aktivitas masyarakat. Siswa sekolah kesulitan mengikuti ujian karena genset tidak dapat beroperasi akibat kekurangan BBM. Sementara petani juga tidak bisa menggunakan mesin perontok padi karena keterbatasan bahan bakar.
“Kami masih menangis. Keluhan orang tua kami selama ini tidak pernah didengar dan tidak pernah ditindaklanjuti,” kata Sepryanus.
Ia menambahkan, mahasiswa asal Amfoang yang menempuh pendidikan di Kota Kupang juga ikut terdampak. Distribusi hasil panen dari kampung terhambat karena akses jalan tertutup dan rusak parah.
Massa aksi meminta Pemerintah Provinsi NTT segera membuka akses jalan penghubung dari Amfoang Barat Daya hingga Amfoang Timur yang berstatus jalan provinsi. Wilayah Amfoang sendiri berbatasan langsung dengan negara Timor Leste.
“Amfoang adalah wajah perbatasan negara, tetapi justru kami yang paling terdampak akibat minimnya infrastruktur,” ujarnya.
Selain perbaikan jalan, mahasiswa juga mendesak pemerintah memperbaiki sejumlah jembatan rusak, seperti Jembatan Kapsali dan Jembatan Termanu. Mereka menilai kerusakan infrastruktur tersebut telah mengancam keselamatan warga.
2. Keterbatasan lokasi SPBU di NTT

Sepryanus menyebut masyarakat di Kecamatan Amfoang Timur, Amfoang Utara, Amfoang Barat Daya, dan Amfoang Barat Laut hingga kini belum memiliki stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU). Warga harus membeli BBM dari wilayah Lelogama atau Sulamu dengan akses jalan yang sulit ditempuh.
Untuk mendapatkan BBM, masyarakat terpaksa menitipkan pembelian melalui bus umum yang nekat melintasi jalan rusak dan aliran sungai. Kondisi itu membuat harga BBM di Amfoang jauh lebih mahal dibanding daerah lain.
“Harga Pertalite bisa mencapai Rp13 ribu per liter dan solar Rp12 ribu per liter. Bahkan sempat naik sampai Rp30 ribu per liter karena stok langka,” jelasnya.
Kenaikan harga tersebut terjadi setelah aparat melakukan penertiban distribusi BBM yang dititipkan warga melalui transportasi umum.
Menurut Sepryanus, masyarakat sebenarnya membutuhkan solusi nyata, baik jangka pendek maupun jangka panjang, agar distribusi BBM dan akses transportasi tidak terus menjadi persoalan.
3. Kepala Desa Manubelon, Antonius Tak, membenarkan peristiwa itu

Sementara itu, Kepala Desa Manubelon, Antonius Tak, membenarkan peristiwa viral penggotongan peti jenazah warga melintasi Kali Kapsali. Jenazah tersebut merupakan warga Desa Manubelon bernama Mesak Oemanu yang meninggal dunia akibat serangan jantung di Pasar Oefitis.
Karena Jembatan Kapsali putus akibat banjir bandang pada 2023 lalu, warga terpaksa menggotong peti jenazah sejauh sekitar 100 meter melewati aliran sungai setinggi lutut orang dewasa.
“Warga terpaksa memindahkan peti jenazah dari mobil ke kendaraan lain di seberang kali karena kendaraan tidak bisa melintas,” ujar Antonius.


















