Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Kisah Arafat, Pelajar Sumbawa Barat Tembus Istana Jadi Paskibraka

IMG-20250828-WA0044.jpg
Pelajar asal Sumbawa Barat Arafat Abdullah Hanif saat diterima Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. (dok. Istimewa)

Sumbawa Barat, IDN Times - Prestasi membanggakan ditorehkan pelajar asal Sumbawa Barat Arafat Abdullah Hanif. Pada tahun ini, dia berhasil menembus Istana Negara, Jakarta, sebagai Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) pada HUT ke-80 RI tahun 2025.

Pelajar AMMAN Academy, sekolah yang terletak di townsite tambang Batu Hijau milik PT Amman Mineral Nusa Tenggara (AMMAN), tumbuh dengan mimpi besar. Sejak kecil, setiap kali layar televisi menayangkan upacara kemerdekaan, pandangannya tak pernah lepas dari barisan Paskibraka. Mereka bukan sekadar pasukan pengibar bendera, tapi simbol kedisiplinan, kekompakan, dan keagungan.

Cita-cita menjadi Paskibraka sudah tertanam dalam benaknya sejak kecil untuk menjadi bagian dari pasukan elite tersebut. Dari situlah langkah awalnya dimulai, perjalanan panjang menuju barisan Paskibraka Nasional. Perjalanan Arafat dimulai dari seleksi tingkat sekolah, yang kemudian berlanjut ke kabupaten. Tantangan pertama yang ia hadapi adalah jarak.

Setiap kali seleksi dan pemantapan, ia harus menempuh perjalanan dua jam pulang pergi. Namun, lelahnya perjalanan tak seberapa dibandingkan tantangan yang lebih besar: membagi waktu antara mimpi dan kewajiban. "Semua proses seleksi, baik di kabupaten, provinsi, maupun nasional, sangat menguras fisik dan mental,” tutur Arafat, Kamis (28/8/2025).

1. Di tengah keraguan, ada dukungan orang-orang terdekat

IMG-20250828-WA0041.jpg
Pelajar asal Sumbawa Barat Arafat Abdullah Hanif. (dok. Istimewa)

Arafat harus menyiapkan waktu untuk latihan hampir setiap hari agar target tes seleksi Paskibraka bisa tercapai. Tantangan ini semakin berat karena ia juga menjabat sebagai ketua OSIS dan harus mengejar semua tugas sekolah. Tak jarang, ia harus tidur larut malam agar semua tanggung jawab bisa selesai tepat waktu.

Proses seleksi di tingkat provinsi menjadi titik baliknya. Dari seluruh peserta, terpilih empat calon putra dari NTB untuk dikirim ke Jakarta guna mengikuti seleksi tingkat nasional. Di sana, Arafat harus kembali menghadapi serangkaian tes selama lima hari yang menguji fisik dan mental, mulai dari dua kali tes kesehatan, psikotes, wawancara, hingga baris-berbaris.

Di tengah keraguan, dukungan dari orang-orang terdekat menjadi kekuatan terbesarnya. Kedua orang tuanya adalah pendukung utama yang meyakinkannya untuk terus maju. Tak hanya itu, peran guru pembina, Wira dari AMMAN Academy, juga sangat krusial.

“Ia telah mengorbankan banyak sekali waktunya untuk membantu seluruh proses pendaftaran hingga seleksi saya,” kata Arafat penuh haru.

Dukungan tidak berhenti sampai di situ. Sekolahnya, AMMAN Academy, berperan besar. Mereka membantu menyiapkan berkas, transportasi, bahkan mengatur jadwal Arafat agar tidak bentrok dengan kegiatan sekolah dan organisasinya. Ini membuktikan bahwa di balik kesuksesan seorang individu, selalu ada tim solid yang mendukung.

2. Karantina di Desa Bahagia

IMG-20250828-WA0043.jpg
Pelajar asal Sumbawa Barat Arafat Abdullah Hanif saat diterima Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal. (dok. Istimewa)

Setelah lolos seleksi, Arafat terbang ke Jakarta untuk menjalani pemusatan pendidikan dan pelatihan (pusdiklat) di tingkat nasional. Di sana, dia dan teman-teman Paskibraka lainnya hidup dalam karantina di sebuah tempat yang mereka sebut ‘Desa Bahagia’. Rutinitas harian mereka adalah cerminan dari kedisiplinan, yaitu bangun pukul empat pagi, merapikan kamar, mencuci dan menyetrika pakaian sendiri.

Di Desa Bahagia itulah Arafat menemukan keluarga barunya. Ia berinteraksi dengan pelajar-pelajar hebat dari berbagai provinsi. Perbedaan tidak menjadi penghalang. Mereka dengan cepat menyatu, membangun ikatan persaudaraan yang kuat.

“Kami sesama peserta sudah menjadi seperti saudara kandung sendiri. Kami diajarkan jiwa korsa, yakni rasa kesatuan dan kekeluargaan," tuturnya.

Pelajaran yang didapatkan di sana jauh melampaui sekadar baris-berbaris dan latihan fisik. Kedisiplinan, yang menurutnya berawal dari hal-hal kecil, menjadi kebiasaan baru yang membuat hidup lebih teratur. Kekompakan dan kerja sama tim juga menjadi kunci. Arafat menyadari bahwa di Paskibraka, tak ada keberhasilan individu tanpa semangat dan kontribusi dari setiap anggota.

Para pelatih dan pembina juga tak pernah lelah menanamkan nasihat-nasihat berharga. Dia juga dididik untuk menjadi pribadi yang sopan, ramah, dan peduli. “Mereka selalu menanamkan dalam diri kami agar selalu bersyukur dan jangan pernah lupa masa-masa perjuangan kita,” kenang Arafat.

3. Mengubah cara pandang tentang nasionalisme

IMG-20250828-WA0045.jpg
Arafat Abdullah Hanif saat bertugas sebagai Paskibraka pada HUT ke-80 RI tahun 2025. (dok. Istimewa)

Saat pertama kali melihat Istana Presiden, tempatnya akan bertugas, Arafat terpukau. Dia langsung membayangkan suasana sakral detik-detik proklamasi. Perasaan haru dan bangga bercampur menjadi satu. Pengalaman ini mengubah cara pandangnya tentang nasionalisme.

“Saya sekarang menyadari bahwa nasionalisme bukan hanya mengabdi pada negara, tapi juga suatu mindset dan tindakan yang kita lakukan yang berdasarkan nilai-nilai Pancasila,” ucapnya.

Mempelajari perjuangan para pahlawan terdahulu membuatnya semakin menghargai betapa kerasnya perjuangan mereka demi kemerdekaan. Hari yang ditunggu pun tiba. Pada prosesi upacara bendera 17 Agustus 2025, dengan hati yang dipenuhi doa, Arafat melangkahkan kakinya di Istana Merdeka. Di tengah sorot mata ribuan pasang mata, ia bersama rekan-rekannya mengibarkan bendera Merah Putih. Tugas mulia itu berjalan lancar, sebuah bukti nyata dari kerja keras, dedikasi, dan dukungan dari semua pihak.

Arafat kini berharap, pencapaiannya ini akan menjadi nilai tambah bagi pendidikan dan karirnya di masa depan. Lebih dari itu, dia telah membuktikan bahwa seorang pelajar dari Sumbawa Barat bisa menggapai impian tertinggi, mengabdi untuk bangsa, dan menginspirasi banyak orang.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us