Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Fun Fact: di Bhutan, Kebahagiaan Lebih Penting daripada Uang

Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Gaurav Bagdi)
Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Gaurav Bagdi)

Dalam dunia yang semakin terobsesi dengan pertumbuhan ekonomi dan kekayaan materi, ada satu negara yang mengambil pendekatan sangat berbeda. Alih-alih mengejar GDP atau indeks pasar saham, negara ini memilih kebahagiaan warganya sebagai indikator utama kesuksesan nasional. Negara itu adalah Bhutan, sebuah kerajaan kecil yang terletak di pegunungan Himalaya, di antara India dan Tiongkok.

Bhutan tidak hanya menjadikan kebahagiaan sebagai filosofi hidup, tapi juga menyusun kebijakan negara berdasarkan Gross National Happiness (GNH), bukan Gross Domestic Product (GDP). Prinsip ini mengutamakan kesejahteraan mental, lingkungan, budaya, dan pemerintahan yang baik, sebuah pendekatan unik yang mengundang perhatian dunia. Tapi bagaimana sebenarnya Bhutan menerapkan filosofi ini dalam kehidupan sehari-hari?

Berikut fakta tentang Gross National Happiness di negara Bhutan yang lebih mementingkan kebahagiaan daripada uang.

1. Gross National Happiness, konsep yang mengalahkan GDP

Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Krizjohn Rosales)
Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Krizjohn Rosales)

Berbeda dari hampir semua negara di dunia yang mengukur keberhasilan nasional melalui produk domestik bruto (GDP), Bhutan menciptakan konsep Gross National Happiness (GNH) pada tahun 1972. Ide ini lahir dari Raja Bhutan keempat, Jigme Singye Wangchuck, yang menyadari bahwa kekayaan materi tidak menjamin kualitas hidup yang baik.

GNH didasarkan pada empat pilar utama, yaitu pelestarian budaya, pelestarian lingkungan, pembangunan ekonomi berkelanjutan, dan pemerintahan yang baik. Setiap kebijakan pemerintah harus melewati uji kelayakan berdasarkan seberapa besar dampaknya terhadap kebahagiaan rakyat. Ini artinya, pembangunan yang merusak lingkungan atau mengancam tradisi tidak akan disetujui meskipun menjanjikan keuntungan besar secara finansial.

2. Kesejahteraan mental dan spiritual diutamakan

Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Gaurav Bagdi)
Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Gaurav Bagdi)

Di Bhutan, kesehatan mental dan spiritual dianggap sama pentingnya dengan kesehatan fisik dan ekonomi. Meditasi, praktik Buddhisme, dan waktu bersama keluarga menjadi bagian utama dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, sekolah-sekolah mengajarkan pelajaran tentang empati, kesadaran diri (mindfulness), dan cara hidup bahagia.

Pemerintah Bhutan juga memberikan perhatian besar pada indikator psikologis warga, seperti stres, kecemasan, dan rasa puas dalam hidup. Ini sangat berbeda dari negara-negara lain yang lebih banyak fokus pada jumlah penghasilan atau tingkat konsumsi. Hasilnya? Tingkat kejahatan rendah, ikatan sosial kuat, dan masyarakat yang merasa cukup dengan apa yang mereka miliki.

3. Pembangunan tidak asal tumbuh, tapi harus seimbang

Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Peng Lim)
Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Peng Lim)

Meskipun Bhutan tetap membangun jalan, sekolah, dan fasilitas publik lainnya, semua proyek harus melewati proses evaluasi GNH. Ini berarti pemerintah akan menolak proyek-proyek yang dapat membahayakan ekosistem atau merusak budaya lokal, meskipun secara ekonomi menguntungkan.

Contohnya, Bhutan sangat membatasi pariwisata massal demi menjaga keaslian lingkungan dan nilai budaya. Wisatawan asing harus membayar biaya harian yang tinggi agar jumlah kunjungan tetap terkendali. Hal ini mungkin terdengar tidak ramah turis, tapi sebenarnya adalah bentuk perlindungan terhadap jati diri bangsa. Bhutan lebih memilih kualitas wisatawan daripada kuantitas demi menjaga keseimbangan antara ekonomi dan kelestarian.

4. Warga yang tidak terobsesi menjadi kaya

Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Ravi Mittal)
Di Bhutan, kebahagiaan lebih penting daripada uang. (Pexels/Ravi Mittal)

Di Bhutan, menjadi kaya raya bukanlah cita-cita utama yang diajarkan sejak kecil. Menjadi orang baik, hidup selaras dengan alam, dan merasa cukup dengan yang dimiliki adalah nilai-nilai utama. Tidak mengherankan jika masyarakat Bhutan dikenal ramah, bersahaja, dan jarang terlihat stres karena tekanan gaya hidup.

Ketika masyarakat di negara lain sibuk mengejar promosi kerja, beli mobil baru, atau pamer di media sosial, warga Bhutan lebih memilih hidup tenang dan terkoneksi dengan sesama. Hal ini bukan berarti mereka tidak punya ambisi, tapi ambisi mereka bukan tentang menumpuk harta, melainkan tentang hidup yang bermakna dan seimbang.

Itulah fakta tentang Gross National Happiness di negara Bhutan yang lebih mementingkan kebahagiaan daripada uang.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us