Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Tanda kalau Bermain Game Mulai Menjadi Masalah Psikologis

Bermain game.
Ilustrasi Tanda kalau Bermain Game Mulai Menjadi Masalah Psikologis. (pexels.com/JESHOOTS.com)

Bermain game pada dasarnya adalah aktivitas yang wajar dan bahkan bisa memberi manfaat, seperti melepas stres, melatih strategi, hingga menjadi sarana bersosialisasi. Di tengah tekanan hidup, game sering kali hadir sebagai ruang aman, yaitu tempat di mana seseorang bisa merasa lebih berdaya, dihargai, dan bebas dari tuntutan dunia nyata.

Namun, masalah mulai muncul ketika game tidak lagi sekadar hiburan, melainkan menjadi satu-satunya cara untuk merasa “baik-baik saja”. Saat bermain game berubah menjadi kebutuhan emosional yang sulit dikendalikan, dampaknya tidak hanya terasa pada waktu dan kebiasaan, tetapi juga pada kesehatan psikologis.

Berikut 5 tanda kalau bermain game mulai menjadi masalah psikologis.

1. Game menjadi pelarian utama dari masalah emosional

Pusing ngatur jadwal kerjaan.
Itulah 5 Cara Mengelola Waktu berdasarkan Prinsip Psikologi Kognitif. (pexels.com/Gustavo Fring)

Salah satu tanda paling awal adalah ketika seseorang selalu lari ke game setiap kali merasa sedih, marah, cemas, atau kecewa. Game digunakan sebagai penenang instan untuk menghindari perasaan tidak nyaman, bukan untuk mengelolanya. Dalam jangka pendek, hal ini memang terasa membantu, tetapi emosi yang ditekan tidak pernah benar-benar selesai.

Secara psikologis, pola ini disebut avoidance coping, yaitu strategi menghindari masalah alih-alih menghadapinya. Jika dibiarkan, seseorang akan semakin kesulitan mengenali dan mengolah emosinya sendiri. Game tidak lagi menjadi hiburan, melainkan tameng untuk menutupi luka batin yang belum terselesaikan.

2. Sulit mengendalikan waktu bermain meski sudah berniat berhenti

Wanita sedang stres.
Ilustrasi Hal yang Sering Kamu Toleransi padahal Sangat Menyakiti Mental. (pexels.com/Karola G)

Banyak orang berniat bermain “sebentar saja”, tetapi akhirnya menghabiskan waktu berjam-jam tanpa terasa. Ketika niat untuk berhenti berulang kali gagal, ini menandakan adanya penurunan kontrol diri. Otak sudah terbiasa dengan rangsangan cepat dan penghargaan instan yang diberikan oleh game.

Dari sudut pandang psikologi, kondisi ini berkaitan dengan sistem dopamin di otak. Game dirancang untuk terus memberi sensasi pencapaian, membuat otak terus menginginkan stimulus yang sama. Akibatnya, aktivitas lain yang lebih lambat dan menuntut usaha terasa membosankan dan tidak menarik.

3. Emosi menjadi lebih mudah meledak saat bermain atau setelahnya

Seorang pria sedang menenangkan diri di pinggir laut.
Ilustrasi Sinyal Tubuh yang Sering Muncul saat Kamu Butuh Istirahat Mental. (pexels.com/Nathan Cowley)

Tanda lain yang sering diabaikan adalah perubahan emosi yang signifikan. Mudah marah saat kalah, kesal berlebihan ketika diganggu, atau merasa hampa dan kesal setelah berhenti bermain adalah sinyal penting. Emosi tidak lagi stabil, melainkan bergantung pada apa yang terjadi di dalam game.

Ini menunjukkan bahwa regulasi emosi mulai terganggu. Identitas dan harga diri perlahan terikat pada performa di dunia virtual. Ketika game tidak berjalan sesuai harapan, emosi pun ikut runtuh, karena satu-satunya sumber kepuasan psikologis sedang terganggu.

4. Hubungan sosial dan tanggung jawab mulai terabaikan

Sepasang kekasih sedang bertengkar.
Ilustrasi Cara Menguatkan Diri di Tengah Hubungan yang Tidak Pasti. (pexels.com/Timur Weber)

Saat bermain game menjadi prioritas utama, interaksi sosial di dunia nyata sering kali dikorbankan. Seseorang mulai menarik diri, menunda tanggung jawab, dan kehilangan minat untuk berkomunikasi dengan keluarga atau teman. Hubungan terasa melelahkan karena tidak memberi kepuasan secepat game.

Dalam psikologi, ini berkaitan dengan menurunnya keterikatan sosial atau social withdrawal. Jika terus berlangsung, seseorang bisa semakin merasa kesepian, meski dikelilingi oleh orang lain. Ironisnya, rasa sepi inilah yang kemudian mendorongnya kembali ke game, membentuk lingkaran yang sulit diputus.

5. Merasa kosong, gelisah, atau tidak berarti saat tidak bermain game

Seorang pria sedang sedih.
Ilustrasi Keadaan yang Membuat Laki-laki Sering Menangis dalam Diam. (pexels.com/Andrew Neel)

Tanda paling serius adalah ketika hidup terasa hampa tanpa game. Saat tidak bermain, muncul rasa gelisah, bosan berlebihan, atau kehilangan arah. Game bukan lagi sekadar aktivitas, melainkan sumber identitas, tujuan, dan makna hidup.

Secara psikologis, ini menunjukkan ketergantungan emosional. Dunia nyata terasa terlalu berat, terlalu lambat, atau tidak memberi kepuasan. Jika kondisi ini dibiarkan, risiko gangguan suasana hati, penurunan motivasi hidup, hingga depresi bisa meningkat.

Bermain game tidak serta-merta menjadi masalah psikologis. Yang perlu diperhatikan adalah peran apa yang dimainkan game dalam kehidupan seseorang. Ketika game mulai menggantikan fungsi emosi, hubungan, dan makna hidup, saat itulah refleksi perlu dilakukan. Menyadari tanda-tanda ini bukan untuk menyalahkan diri sendiri, melainkan sebagai langkah awal untuk kembali menemukan keseimbangan antara dunia virtual dan kehidupan nyata.

Itulah 5 tanda kalau bermain game mulai menjadi masalah psikologis.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest Life NTB

See More

7 Ciri Pasangan yang Dibutuhkan oleh Tipe Kepribadian Ekstrovert

19 Jan 2026, 20:52 WIBLife