Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

5 Efek Psikologis ketika Laki-laki Kehilangan Pekerjaan

Seorang pria sedang pusing.
Ilustrasi Dampak Psikologis ketika Laki-laki Kehilangan Pekerjaan. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Dalam banyak budaya, pekerjaan tidak hanya sekadar sumber penghasilan bagi laki-laki, tetapi juga simbol identitas, harga diri, dan kemampuan untuk melindungi orang-orang yang mereka sayangi. Karena itu, kehilangan pekerjaan sering kali bukan hanya persoalan ekonomi, melainkan guncangan pada inti diri mereka. Situasi ini dapat menghadirkan rasa terpuruk yang tidak mudah diungkapkan, terutama bagi laki-laki yang terbiasa memendam emosinya demi terlihat kuat di hadapan keluarga.

Dari sudut pandang psikologi, kehilangan pekerjaan dapat memicu berbagai dampak emosional, kognitif, dan sosial yang saling memengaruhi. Perubahan mendadak pada rutinitas, hilangnya peran sosial, dan ketidakpastian masa depan dapat membawa laki-laki ke fase krisis identitas. Lewat artikel ini, penulis mencoba menggambarkan dampak psikologis yang paling sering dialami laki-laki ketika mereka kehilangan pekerjaan. Bukan untuk melemahkan, tetapi untuk membantu memahami bahwa perasaan itu valid dan manusiawi.

Berikut 5 dampak psikologis ketika laki-laki kehilangan pekerjaan.

1. Runtuhnya rasa harga diri

Ilustrasi tanda seseorang memiliki kesabaran yang rendah. (pexels.com/Andrea Piacquadio)
Ilustrasi tanda seseorang memiliki kesabaran yang rendah. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Laki-laki sering mengaitkan harga dirinya dengan kemampuan untuk bekerja dan memberikan kontribusi. Ketika pekerjaan hilang, rasa percaya diri mereka ikut merosot, seolah nilai dirinya turut hilang bersama slip gaji terakhir. Dalam psikologi, kondisi ini terkait dengan self-worth contingency, yaitu nilai diri yang bergantung pada pencapaian eksternal.

Rendahnya harga diri dapat memicu perasaan malu, tidak kompeten, dan takut dipandang gagal oleh keluarga atau lingkungan. Laki-laki sering merasa harus menutupi kegagalan ini, sehingga mereka semakin menarik diri dan tidak mencari dukungan yang sebenarnya mereka butuhkan. Padahal, krisis harga diri ini bukan gambaran jati diri, melainkan hasil dari benturan ekspektasi dan keadaan hidup.

2. Munculnya kecemasan tentang masa depan

Seorang pria sedang pusing.
Ilustrasi Dampak Psikologis ketika Laki-laki Kehilangan Pekerjaan. (pexels.com/Andrea Piacquadio)

Ketidakpastian adalah musuh terbesar mental manusia, dan kehilangan pekerjaan menempatkan laki-laki dalam ruang yang penuh ketidakjelasan. Kecemasan bisa muncul dalam bentuk kekhawatiran finansial, ketakutan tidak segera diterima kerja, atau kekhawatiran mengecewakan keluarga. Dari perspektif psikologi kognitif, kecemasan ini sering dipicu oleh catastrophic thinking, yaitu pemikiran bahwa masa depan selalu buruk.

Jika dibiarkan, kecemasan dapat memengaruhi tidur, energi, dan kemampuan mengambil keputusan. Laki-laki menjadi sulit fokus, mudah gelisah, dan sering terpaku pada kemungkinan terburuk. Kondisi ini tidak hanya melemahkan mental, tetapi juga menghambat proses mencari pekerjaan baru. Padahal, yang dibutuhkan adalah ruang untuk bernapas dan meyakinkan diri bahwa ketidakpastian tidak selalu berarti kegagalan.

3. Hilangnya struktur dan tujuan hidup

Seorang pria sedang menenangkan diri di pinggir laut.
Ilustrasi Sinyal Tubuh yang Sering Muncul saat Kamu Butuh Istirahat Mental. (pexels.com/Nathan Cowley)

Pekerjaan memberikan ritme, arah, dan struktur pada kehidupan sehari-hari. Ketika pekerjaan hilang, rutinitas yang semula teratur berubah menjadi kekosongan. Laki-laki dapat merasa kehilangan arah, seolah tidak lagi memiliki peran yang jelas dalam hidup. Secara psikologis, ini berkaitan dengan penurunan sense of purpose.

Tanpa struktur, jam tidur bisa berantakan, aktivitas harian kehilangan makna, dan hari-hari terasa panjang namun kosong. Situasi ini sering membuat laki-laki merasa tidak produktif dan tidak berguna, padahal mereka hanya sedang beradaptasi dengan perubahan yang mendadak. Pemulihan dimulai ketika seseorang mulai membangun rutinitas baru, meski sederhana.

4. Menarik diri dan mengisolasi emosi

Seorang pria sedang duduk.
Ilustrasi Mitos tentang Skizofrenia yang Harus Diluruskan. (pexels.com/Mikhail Nilov)

Laki-laki sering diajarkan untuk menyelesaikan masalah sendirian, sehingga ketika mereka kehilangan pekerjaan, mereka memilih diam dan memendam segalanya. Mereka merasa tidak pantas untuk mengeluh atau meminta dukungan, sehingga emosi bertumpuk dan makin menekan. Isolasi emosional ini dapat memperburuk rasa sedih, cemas, dan marah.

Dalam psikologi sosial, kehilangan hubungan emosional yang aman dapat meningkatkan risiko depresi. Ketika laki-laki tidak memiliki tempat untuk berbagi beban, dunia batin mereka menjadi sunyi tetapi penuh tekanan. Padahal, berbicara dengan seseorang, baik itu pasangan, sahabat, atau keluarga, justru dapat meringankan beban mental dan membantu mereka memetakan kembali realitas.

5. Munculnya burnout emosional dan kelelahan psikologis

Seorang pria sedang sedih.
Ilustrasi Keadaan Laki-laki yang Membuatnya Tidak Lagi Merasa Berguna. (pexels.com/Nicola Barts)

Kehilangan pekerjaan tidak selalu membuat seseorang lebih santai, justru bisa menguras energi emosional. Pencarian kerja yang memakan waktu, tekanan finansial, dan rasa gagal yang menumpuk dapat membuat laki-laki mengalami burnout emosional. Mereka merasa lelah secara mental meski tidak melakukan pekerjaan fisik.

Burnout ini biasanya ditandai dengan rasa kosong, hilangnya motivasi, dan ketidakmampuan menikmati hal yang dulu disukai. Jika tidak diatasi, kondisi ini dapat menurunkan kemampuan untuk bangkit dan mencoba lagi. Kesadaran bahwa burnout bukan kelemahan, melainkan sinyal tubuh bahwa seseorang butuh istirahat dan dukungan, adalah langkah awal untuk pulih.

Itulah 5 dampak psikologis ketika laki-laki kehilangan pekerjaan.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest Life NTB

See More

Mengenal Dendrophile, Menemukan Kebahagiaan saat Berada di Hutan

29 Nov 2025, 09:00 WIBLife