Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Layani 3.101 Korban Gempa NTT, Tim NTB Ungkap Myalgia Jadi Penyakit Terbanyak

Kota Mataram
Layani 3.101 Korban Gempa NTT, Tim NTB Ungkap Myalgia Jadi Penyakit Terbanyak
Tim Kesehatan NTB membantu warga korban gempa NTT. (dok. Istimewa)
  • Tim Kesehatan NTB telah memberikan 3.101 layanan kepada korban gempa Manggarai Timur hingga 24 Agustus 2026, dengan puncak pelayanan terjadi pada 22 Agustus.
  • Keluhan terbanyak meliputi nyeri otot 721 kasus, dispepsia 593 kasus, dan ISPA 327 kasus; ISPA terus meningkat serta berpotensi menjadi kejadian luar biasa.
  • Sebanyak 89 tenaga kesehatan NTB memperkuat pos, layanan mobile, rujukan, dan koordinasi dengan UNAIR di tengah 19.330 pengungsi pada 246 titik pengungsian.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Mataram, IDN Times - Tim Kesehatan NTB mencatat telah melayani sebanyak 3.101 korban gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT) hingga 24 Agustus 2026. Tim Kesehatan NTB mendirikan Pos Pelayanan Kesehatan di Desa Satar Padut, Kecamatan Lamba Lade Utara, Kabupaten Manggarai Timur. Penyakit paling banyak yang diderita oleh korban gempa adalah myalgia atau nyeri otot.

Kepala Dinas Kesehatan Provinsi NTB, dr. Lalu Hamzi Fikri menjelaskan sebagian tim juga melakukan pelayanan mobile dan ditempatkan di beberapa Pos Kesehatan yang belum terpenuhi tenaga medis. Fikri mengungkapkan penyakit Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) yang menyerang pengungsi potensial menjadi Kejadian Luar Biasa (KLB).

  1. 1. Daftar penyakit terbanyak yang dialami korban gempa di Manggarai Timur

    Screenshot_20260820-130319.jpg
    Kepala Dinas Kesehatan NTB dr. Lalu Hamzi Fikri turun membantu korban gempa NTT. (dok. Istimewa)

    Fikri mengungkapkan puncak layanan kesehatan kepada korban gempa terjadi pada 22 Agustus 2026. Pola tersebut menunjukkan bahwa beban pelayanan tertinggi terjadi pada fase awal respons, terutama pada 22 Agustus, kemudian cenderung menurun pada dua hari berikutnya.

    "Total hasil layanan sampai dengan tanggal 24 Agustus 2026 sebanyak 3101 orang. Sampai dengan 24 Agustus 2026 telah diberikan 3.101 layanan kesehatan," kata Fikri, Senin (24/8/2026).

    Dia menyebut penyakit yang dialami korban gempa didominasi myalgia atau nyeri otot sebanyak 721 orang, dispepsia 593 orang, ISPA 327 orang, hipertensi 239 orang, nyeri 176 orang, dan pusing 167 orang.

    "Enam kelompok layanan tersebut mencakup sekitar 71,7 persen dari seluruh pelayanan. Kondisi ini menunjukkan bahwa kebutuhan pelayanan masih didominasi keluhan umum, gangguan gastrointestinal, penyakit saluran pernapasan, serta penyakit tidak menular.

    Dari aspek kewaspadaan dini, kata dia, kasus diare, pneumonia, suspek tuberkulosis, disentri, campak, dan penyakit menular lainnya tetap perlu dipantau secara berkelanjutan untuk mendeteksi kemungkinan peningkatan kasus atau klaster di lokasi terdampak.

  2. 2. Ungkap tren penyakit potensial KLB

    IMG-20260820-WA0033.jpg
    Tim Kesehatan NTB bersama anak-anak korban gempa NTT. (dok. Istimewa)

    Fikri juga mengungkap tren penyakit potensial KLB di daerah bencana. Secara umum, kata dia, ISPA menjadi penyakit dengan beban kasus tertinggi dan tren yang terus meningkat.

    Sedangkan kasus disentri dan Gigitan Hewan Penular Rabies (GHPR) menunjukkan peningkatan pada hari terakhir pengamatan. Sementara, kasus diare, pneumonia, dan suspek tuberkulosis masih menunjukkan pola fluktuatif.

    Sehingga, perlu dilakukan pemantauan harian terhadap penyakit dengan tren meningkat, terutama ISPA, disentri, dan GHPR. Disertai verifikasi kasus, deteksi dini kemungkinan klaster, pelacakan faktor risiko, serta penguatan koordinasi antara pos kesehatan, puskesmas, dan tim surveilans.

  3. 3. Integrasikan layanan kesehatan Tim NTB dan UNAIR

    IMG-20260817-WA0013.jpg
    Pelepasan tim solidaritas kemanusiaan NTB untuk korban gempa NTT, Minggu petang (16/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Eks Direktur RSUD NTB itu menyebutkan sejumlah upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan pelayanan kesehatan kepada korban gempa di Manggarai Timur. Diantaranya, melakukan breafing tim Kesehatan untuk penempatan pelayanan kesehatan di pos-pos kesehatan yang sudah tersedia.

    Kemudian melakukan rujukan pasien ke Rumah Sakit Ruteng dengan kasus obstetri, yaitu ibu bersalin yang memerlukan penanganan lebih lanjut. Selain itu, melakukan koordinasi dengan Health Emergency Operation Center (HEOC) atau Pusat Operasi Darurat Kesehatan Provinsi serta HEOC Kabupaten/Kota terkait pelaksanaan respons kesehatan.

    Pihaknya juga melakukan koordinasi terkait alur rujukan serta mengoptimalkan pelayanan kesehatan di beberapa pos kesehatan pada wilayah terdampak. Fikri menambahkan, pihaknya mengintegrasikan pelayanan kesehatan Tim Kesehatan NTB dengan Tim Layanan Kesehatan Universitas Airlangga (UNAIR) dalam memberikan pelayanan kesehatan di pos kesehatan.

    Berikutnya, melakukan koordinasi untuk pembukaan layanan kesehatan di beberapa wilayah terdampak. Serta pendistribusian Tim Kesehatan NTB Tahap II ke wilayah NTT untuk memperkuat respons pelayanan kesehatan.

    Tim Kesehatan NTB juga mengoperasikan Pos Induk Kesehatan di Puskesmas Dampek, Kecamatan Lamba Leda Selatan, Kabupaten Manggarai Timur sebagai pusat koordinasi dan pelayanan kesehatan. Kemudian melaksanakan pelayanan kesehatan secara mobile di beberapa lokasi terdampak untuk menjangkau masyarakat yang membutuhkan pelayanan kesehatan.

    Di Kabupaten Manggarai Timur tercatat populasi terdampak gempa sebanyak 313.876 orang, dengan 27 meninggal dunia, 239 luka berat, 404 luka ringan, serta 19.330 pengungsi pada 246 titik pengungsian. Kondisi ini, kata Fikri menunjukkan beban kesehatan dan kebutuhan pelayanan yang cukup besar, terutama terkait penanganan korban luka, pelayanan kesehatan pengungsi, obat-obatan, kesehatan lingkungan, serta pemantauan penyakit potensial KLB di lokasi pengungsian.

    "Secara keseluruhan, konsentrasi pengungsi dan korban luka menjadi perhatian utama, sehingga diperlukan penguatan pelayanan kesehatan di titik pengungsian, surveilans harian, pemantauan sanitasi dan air bersih, serta kesiapsiagaan terhadap peningkatan penyakit menular pascabencana," kata dia.

    Jumlah Tim Kesehatan NTB yang diterjunkan ke NTT sebanyak 89 orang, yang terbagi dalam 2 tahap pemberangkatan. Pada tahap pertama, relawan kesehatan yang diberangkatkan sebanyak 53 orang dan tahap 2 sebanyak 36 orang.

    Dengan komposisi tenaga kesehatan didominasi perawat sebanyak 32 orang, dokter 28 orang, driver 11 orang, apoteker 6 orang, adminkes 3 orang, psikolog 3 orang, epidemiolog 2 orang, tenaga kesehatan lingkungan 2 orang, bidan 1 orang dan analis kesehatan 1 orang.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More