Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Seorang Pendeta di Kupang Ditangkap Terkait Dugaan Pencabulan Anak
Ilustrasi pencabulan (IDN Times/Shukma Sakti)
  • Pendeta berinisial TN (43) ditangkap Polda NTT pada 28 Juli 2026 di Desa Ponain, Amarasi, Kabupaten Kupang, atas dugaan pencabulan terhadap seorang anak.
  • TN disebut memimpin gereja Adven di Desa Ponain dan sebelumnya pernah menjadi kepala sekolah swasta. Polisi masih memeriksa saksi serta mengumpulkan alat bukti.
  • Polda NTT meminta masyarakat tidak menyebarkan identitas korban atau informasi belum terverifikasi, serta melaporkan kekerasan terhadap perempuan dan anak untuk perlindungan dan pendampingan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Pendeta berinisial TN (43) ditangkap atas dugaan pencabulan terhadap seorang anak di Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang. Penyidik masih memeriksa saksi dan melengkapi alat bukti.
  • Who?
    TN (43), pemimpin salah satu gereja Adven di Desa Ponain, diamankan Tim Zero Ditres PPA dan PPO Polda NTT. Korban adalah seorang anak yang identitasnya dilindungi.
  • Where?
    Penangkapan dilakukan di RT 007/RW 004, Desa Ponain, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang, Nusa Tenggara Timur. TN kemudian dibawa ke Markas Polda NTT untuk diperiksa.
  • When?
    TN ditangkap pada Selasa, 28 Juli 2026, sekitar pukul 19.00 WITA. Polda NTT menyampaikan perkembangan penanganan perkara pada Jumat, 31 Juli 2026.
  • Why?
    Penangkapan dilakukan menyusul laporan dugaan tindak pidana pencabulan terhadap anak. Polisi masih mendalami petunjuk, memeriksa saksi, dan mengungkap seluruh fakta perkara.
  • How?
    Tim Zero Ditres PPA dan PPO Polda NTT yang dipimpin AKP Djafar A. Alkatiri mengamankan TN. Setelah itu, penyidik melakukan pemeriksaan lanjutan serta mengumpulkan keterangan dan alat bukti.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Seorang pendeta bernama TN ditangkap polisi di Desa Ponain, Kupang. Polisi bilang ia diduga melakukan hal tidak baik kepada seorang anak. Sekarang TN diperiksa di Polda NTT. Polisi juga memeriksa orang-orang yang tahu kejadian ini. Polisi ingin anak korban tetap aman dan terlindungi.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Seorang pendeta berinisial TN (43) ditangkap Tim Zero Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang (Ditres PPA dan PPO) Polda Nusa Tenggara Timur (NTT). Ia diduga melakukan tindak pidana pencabulan terhadap seorang anak di Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang.

Penangkapan dipimpin AKP Djafar A. Alkatiri pada Selasa (28/7/2026) sekitar pukul 19.00 WITA. TN diamankan di RT 007/RW 004, Desa Ponain, Kecamatan Amarasi, Kabupaten Kupang.

"Sementara menjalani pemeriksaan lebih lanjut setelah dibawa ke Markas Polda NTT," kata Direktur Reserse PPA dan PPO Polda NTT, Kombes Pol Nova Irone Surentu, dalam keterangannya, Jumat (31/7/2026).

1. Pernah menjadi kepala sekolah

Pendeta di Kupang ditangkap polisi akibat kasus pencabulan. (Dok Polda NTT)

Menurut Nova, TN diketahui merupakan pendeta di salah satu gereja di wilayah tempat ia ditangkap oleh Tim Zero Ditres PPA dan PPO Polda NTT.

"Berdasarkan informasi yang diperoleh, TN merupakan pemimpin salah satu gereja Adven di Desa Ponain," tukasnya.

Selain itu, berdasarkan informasi sementara yang diperoleh penyidik, TN juga pernah menjabat sebagai kepala sekolah swasta di kecamatan yang sama, namun telah diberhentikan. Saat ini, polisi masih memeriksa sejumlah saksi untuk mendalami laporan dugaan pencabulan yang menjerat TN.

2. Minta masyarakat melapor

ilustrasi lapor polisi (pexels.com/kindelmedia)

Nova mengimbau masyarakat agar tidak menyebarluaskan identitas korban maupun informasi yang belum terverifikasi terkait kasus tersebut. Menurutnya, perlindungan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum merupakan amanat peraturan perundang-undangan.

"Karena perlindungan terhadap anak yang berhadapan dengan hukum merupakan amanat peraturan perundang-undangan," tukasnya.

Ia juga mengajak masyarakat segera melaporkan setiap dugaan tindak kekerasan terhadap perempuan maupun anak, baik yang diketahui maupun dialami secara langsung. Hal itu penting agar korban dapat segera memperoleh perlindungan dan pendampingan.

"Agar korban dapat memperoleh perlindungan dan pendampingan," tandasnya.

3. Pastikan korban dilindungi

ilustrasi dampak dan kondisi korban kekerasan seksual (unsplash.com/Melanie Wasser)

Penyidik masih terus mendalami kasus tersebut dengan memeriksa sejumlah saksi dan melengkapi alat bukti guna mengungkap seluruh fakta yang berkaitan dengan dugaan tindak pidana itu.

Nova menegaskan, setiap laporan dugaan kekerasan terhadap perempuan maupun anak akan ditangani secara serius untuk memastikan korban memperoleh perlindungan maksimal. Ia juga memastikan proses penyidikan dilakukan secara objektif dan transparan.

"Perlindungan terhadap korban menjadi prioritas kami, sekaligus memastikan setiap proses penyidikan berjalan secara objektif dan transparan," sebut Nova.

Curated For You

Editorial Team

Related Article