Semua Kapal Diwajibkan Pasang "Rat Guard" Demi Cegah Hantavirus di NTB

- Kemenkes melalui BKK Kelas I Mataram mewajibkan semua kapal di NTB memasang rat guard untuk mencegah tikus pembawa hantavirus masuk ke kapal.
- Pengawasan diperketat di pelabuhan dan bandara, termasuk pemeriksaan suhu penumpang internasional serta larangan turun bagi penumpang kapal pesiar yang sakit.
- Hantavirus memiliki tingkat fatalitas 13–20 persen, lebih tinggi dari COVID-19, dengan masa inkubasi 12–14 hari dan penularan utama dari tikus ke manusia.
Mataram, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) melalui UPT Balai Kekarantinaan Kesehatan (BKK) Kelas I Mataram, memperketat pengawasan terhadap kapal-kapal penyeberangan dan pelayaran pada semua pelabuhan yang berada di Nusa Tenggara Barat (NTB). Semua kapal pelayaran dan penyeberangan diwajibkan memasang rat guard untuk mencegah penyakit hantavirus.
Rat guard merupakan alat berbentuk piringan lingkaran atau kerucut yang dipasang pada tali tambat kapal saat bersandar di dermaga. Alat ini berfungsi untuk mencegah tikus masuk ke kapal melalui tali tambat.
"Dari Kementerian Kesehatan memang sekarang lagi mengetatkan pengawasan terhadap kapal arena Hantavirus ini kan menular dari tikus, dari kencing tikus yang terhirup. Jadi sekarang kita mengawasi ketat untuk melihat adanya tikus di kapal. Salah satunya adalah memasang rat guard namanya," kata Ketua Tim Kerja 4 BKK Kelas I Mataram dr. Ferry Wardhana dikonfirmasi di Mataram, Senin (11/5/2026).
1. Kembali lakukan pengetatan

Ferry menjelaskan rat guard berfungsi untuk mencegah tikus masuk ke kapal. Semua kapal penyeberangan yang beroperasi di Pelabuhan Lembar dan Pelabuhan Gili Mas Lombok Barat, Pelabuhan Kayangan Lombok Timur, Pelabuhan Poto Tano Sumbawa Barat, Pelabuhan Badas Sumbawa, Pelabuhan Bima di Kota Bima dan Pelabuhan Sape, Bima diwajibkan masang rat guard.
Sebenarnya, kata Ferry, pemasangan rat guard di kapal telah diberlakukan sejak dulu. Namun, dengan adanya temuan kasus hantavirus, kembali dilakukan pengetatan pengawasan di pelabuhan. "Semua kapal kalau masuk ke darat wajib memasang rat guard. Sudah dari dulu diberlakukan, cuma kita sekarang untuk mengingatkan, memperketat lagi," kata dia.
Ferry menjelaskan pemasangan rat guard cukup efektif untuk mencegah tikus masuk ke dalam kapal. Sehingga dapat mencegah munculnya penyakit hantavirus. Karena tikus merupakan hewan pembawa penyakit seperti leptospirosis, pes hingga tipes.
2. Gejala terpapar hantavirus

Ferry mengungkapkan gejala awal seseorang terpapar hantavirus, seperti demam, batuk, pilek dan nyeri pada seluruh bagian tubuh. Kemudian orang yang terpapar hantavirus kondisinya akan terus memburuk dan mengalami sesak napas.
Untuk itu, pihaknya juga melakukan pengawasan bagi penumpang pesawat di Bandara Internasional Lombok terutama bagi penumpang internasional dengan pemeriksaan suhu tubuh. Termasuk juga memperketat pemeriksaan penumpang kapal pesiar di Pelabuhan Gili Mas Lombok Barat.
"Sebelum Hantavirus kita sudah mengawasi ketat semua kapal pesiar yang bersandar di Lombok. Jadi kalau ada penumpang yang sakit enggak boleh turun," terangnya.
3. Fatalitas lebih tinggi dibandingkan COVID-19

Ferry menjelaskan hantavirus lebih tinggi fatalitasnya dibandingkan COVID-19. Dia menyebut tingkat fatalitas kasus hantavirus dari 13 sampai 20 persen, sedangkan COVID-19 sekitar 3 persen. Apabila ada kasus positif hantavirus, Ferry mengatakan sudah disiapkan ruang karantina dan isolasi.
"Jadi kalau yang sakit akan kami rujuk ke rumah sakit untuk dilakukan isolasi. Kalau yang sehat dan dia kontak erat dilakukan karantina. Kalau di kapal, itu karantina total, jadi dia enggak boleh turun sama sekali yang kontak erat itu harus karantina total," jelasnya.
Masa inkubasi orang yang terpapar hantavirus antara 12 sampai 14 hari. Dia mengatakan penularan dari manusia ke manusia memang sangat jarang. Namun, penularan dari tikus ke manusia yang lebih cepat.
"Penularan dari manusia ke manusia itu enggak semasif influenza atau Covid. Cuma karena ini memang agak unik karena yang di kapal pesiar itu, karena penularan dari manusia ke manusia itu terbukti," tandasnya.

















