Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Memasuki Musim Tanam Padi, Harga Tebus Pupuk Subsidi di Lotim Melonjak
pupuk urea (amazon.com)

Lombok Timur, IDN Times - Petani di Lombok Timur (Lotim) mengeluhkan mahalnya harga tebus pupuk subsidi urea dan ponska. Persoalan ini terus berulang setiap tahun saat memasuki masa tanam.

Sebagian besar lahan pertanian di Lotim telah memasuki masa tanam padi. Bahkan hampir seluruh lahan pertanian saat ini telah menanam padi secara serentak karena sumber air yang melimpah di musim penghujan.

Penanaman padi yang serentak ini menyebabkan kebutuhan akan pupuk sangat tinggi. Kondisi ini yang menyebabkan harga tebus pupuk subsidi mengalami lonjakan cukup tinggi.

1. Harga tebus pupuk melonjak

Petani saat menanam padi (IDN Times/Ruhaili)

Harga tebus pupuk subsidi di Lotim melonjak hingga lebih dari 100 persen. Meskipun pemerintah telah menetapkan Harga Eceran Tertinggi (HET), tetapi itu tidak di indahkan oleh pengecer pupuk bersubsidi.

HET untuk pupuk urea subsidi Rp2.250 per kg, dan Ponska subsidi Rp2.300 per kg. Tapi di lapangan petani menebus dengan harga dua kali lipat dari HET yaitu sebesar  Rp4.000 - 4.500 per kg, meskipun nama petani tersebut masuk dalam data Rencana Defiinitif Kebutuhan Kelompok (RDKK).

Seperti yang terjadi di desa Kabar Kecamatan Sakra, Lotim. Harga tebus pupuk urea subsidi di pengecer resmi Rp4.000 per kg, harga yang sama juga untuk Ponska subsidi.

"Harga tebus ini sangat mahal, tidak ada gunanya nama kita masuk RDKK, hapus saja itu data percuma itu jadi acuan penyaluran pupuk," keluh petani asal desa Kabar, Burhanuddin.

Hal yang sama juga terjadi di Desa Rumbuk Timur, petani di desa tersebut bahkan menebus pupuk subsidi lebih mahal yaitu Rp 4.500 per kg. Kondisi ini sangat merugikan petani, karena hanya dimanfaatkan oleh pengecer untuk meraup keuntungan. Meskipun harga mahal, petani tetap membeli karena khawatir akan kehabisan.

"Kita di sini tebus Rp4.500 per kg, tetapi tetap ditebus, karena kita khawatir habis, sebab saat ini orang seretak menanam," ujar Izzuddin, salah seorang petani asal Rumbuk Timur.

2. Pesimis ke pemerintah

Lahan tanaman padi di Desa Kabar (IDN Times/Ruhaili)

Kasus ini merupakan persoalan berulang-ulang yang selalu terjadi setiap memasuki musim tanam, karena petani membutuhkan pupuk secara serempak.

Pengecer resmi diduga memanfaatkan kondisi tingginya kebutuhan pupuk ini untuk meraup keuntungan dengan menaikkan harga tebusan. Padahal penyaluran pupuk subsidi berdasarkan data RDKK. Tetapi pengecer diduga tidak mengindahkan aturan tersebut, karena tahu lemahnya pengawasan dari pemerintah.

"Kami sudah tidak berharap sama pemerintah ini, mereka seolah tutup mata dan membiarkan pengecer menjual dengan harga tinggi. Padahal ini terjadi didepan mata mereka dan terus berulang terjadi," keluh Izzuddin.

3. Dinas Pertanian Lotim akan melakukan pengawasan

Kepala Dinas Pertanian Lotim , Sahri (IDN Times/Ruhaili)

Menanggapi tingginya harga tebus pupuk subsidi ini, Kepala Dinas Pertanian Lotim, Sahri menegaskan takan turun melakukan pemeriksaan ke lapangan bersama dengan Satgas pengawasan pupuk bersubsidi. Pihaknya akan bertindak tegas untuk melakukan penertiban. Jika ada temuan pihaknya akan memberikan sanksi tegas berupa pencabutan izin pengecer.

"Pengecer tidak boleh menjual harga pupuk melebihi dari HET yang telah ditetapkan. Itu melanggar aturan," sebut Sahri.

Sahri mengatakan bahwa pihaknya menjamin tidak ada lagi kelangkaan atau harga tinggi yang selalu dikeluhkan petani setiap memasuki musim tanam. Karena dengan tambahan ini, kebutuhan pupuk petani sudah tercukupi. 

"Tidak ada isitilah pupuk langka sekarang, karena itu tugas kita semua untuk mengawasi pendistribusian pupuk ini,  dari PI ke distributor, distributor ke pengencer dan pengecer ke petani sehingga tidak ada markup harga," tegas Sahri.

Editorial Team

EditorRuhaili

Related Article