Lampaui Target Nasional, Realisasi Investasi NTB Tembus Rp61,1 Triliun

Mataram, IDN Times - Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB mencatat realisasi investasi di NTB sepanjang 2025 melampaui target nasional yang ditetapkan Kementerian Investasi dan Hilirisasi atau Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) RI.
Kepala DPMPTSP NTB Irnadi Kusuma menyebutkan realisasi investasi di NTB tahun 2025 menembus angka Rp61,1 triliun. Sedangkan target yang ditetapkan BKPM sebesar Rp61,09 triliun.
"Realisasi investasi NTB sepanjang Januari-Desember 2025 mencapai Rp61,10 triliun atau 100,02 persen dari target nasional sebesar Rp61,09 triliun yang ditetapkan Pemerintah Pusat melalui BKPM RI," kata Irnadi di Mataram, Senin (26/1/2026).
1. Tercatat 4.000 realisasi perizinan didominasi sektor peternakan

Dia menyebutkan pagu anggaran DPMPTSP NTB pada 2025 sebesar Rp9,14 miliar. Sedangkan pada 2026, pagu anggaran DPMPTSP NTB turun menjadi Rp7,69 triliun. Dia mengatakan kinerja investasi daerah tetap menunjukkan hasil positif. Pada 2026, BKPM RI menargetkan realisasi investasi di NTB sebesar Rp68 miliar.
Realisasi investasi tertinggi di NTB pada 2025 berdasarkan lokasi berasal dari Kabupaten Sumbawa Barat, Kabupaten Lombok Tengah, dan Kota Mataram. Dengan sektor dominan meliputi ESDM, pariwisata dan ekonomi kreatif, serta perindustrian. DPMPTSP NTB juga mencatat sekitar 4.000 realisasi perizinan, yang masih didominasi sektor peternakan.
2. Tantangan investasi di NTB

Irnadi menyebutkan masih terdapat sejumlah tantangan dalam upaya meningkatkan realisasi investasi di NTB. Antara lain daerah dengan investasi rendah, kendala teknis sistem Online Single Submission (OSS) berbasis risiko, serta perlunya pemutakhiran peta potensi investasi daerah.
Ke depan, DPMPTSP NTB akan memperkuat digitalisasi layanan, optimalisasi konsultasi investasi, pengawasan perizinan berbasis risiko, serta mendorong investasi hijau yang berkelanjutan. Termasuk percepatan regulasi investasi strategis dan pemberian insentif penanaman modal guna menjaga iklim investasi yang aman, berkelanjutan, dan berdampak pada kesejahteraan masyarakat.
3. Investasi besar yang ditargetkan terealisasi tahun 2026

Irnadi menyebutkan sejumlah investasi besar yang ditargetkan terealisasi pada 2026. Di antaranya, pembangunan pembangkit listrik energi baru terbarukan (EBT) dan pembangunan fasilitas seaplane (pesawat amfibi) di Bendungan Batujai, Lombok Tengah. Selain itu, Pemprov NTB juga menawarkan sejumlah proyek pembangunan hotel bintang 5, agribisnis peternakan dan budidaya udang.
Untuk proyek pembangkit listrik energi baru terbarukan investornya PT Berkah Energi Lombok, dengan nilai investasi sekitar Rp3,1 triliun. PT. Berkah Energi Lombok (BEL) bermitra dengan PT. Shine Green Energy Indonesia (SGEI) berencana membangun tiga pembangkit energi baru terbarukan (EBT) dengan kapasitas total 130 Megawatt (MW). Tiga pembangkit EBT yang akan dibangun berupa Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) dan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu (PLTB).
Rencananya, pembangunan tiga pembangkit EBT untuk mempercepat transisi energi di NTB itu pada 2026 dan 2027. Tiga rencana lokasi pembangunan pembangkit EBT di NTB, antara lain PLTS 20 MW di Desa Anyar, Kecamatan Bayan, Kabupaten Lombok Utara, PLTS 50 MW di Kabupaten Dompu dan Kabupaten Bima dan PLTB 2x30 MW di Desa Buwun Mas, Kecamatan Sekotong, Kabupaten Lombok Barat.
Selain itu, sejumlah proyek pembangunan hotel bintang 5 ditawarkan ke investor. Diantaranya, proyek Maukita Mandalika Hotel berlokasi di Kawasan Target Area (KTA) Pantai Selatan, Desa Kuta, Kecamatan Pujut, Kabupaten Lombok Tengah. Pembangunan hotel ini pada lahan seluas 5,21 hektare dengan nilai investasi mencapai Rp298,7 miliar. Hotel bintang 5 yang dibangun dengan kapasitas 130 kamar deluxe, 112 kamar grand deluxe, 6 junior suite, dan 4 squite.
Selanjutnya, proyek pembangunan hotel bintang 5 berkapasitas 62 vila dan 86 kamar di kawasan seven spring under sea atau pertemuan tujuh mata air yang muncul di tengah laut Pantai Kerakas dengan estimasi nilai investasi Rp277,9 miliar.
Kemudian, proyek pembangunan Kuta Height Hotel seluas 18 hektare dengan investasi mencapai Rp821,8 miliar. Hotel bintang 5 yang akan dibangun direncanakan sebanyak 220 kamar, terdiri dari 60 kamar luxury lodge, 48 kamar suite, dan 112 deluxe. Selanjutnya, pembangunan resort dan hotel bintang 5 di kawasan Gili Gede, Lombok Barat dengan nilai investasi Rp123 miliar. Rencananya, luas lahan pembangunan mencapai 5 hektare dengan kapasitas 50 kamar.
Selain investasi dalam bidang perhotelan, kata Irnadi, ada juga proyek agribisnis peternakan sapi pedaging senilai Rp556 miliar. Lokasinya di Kecamatan Labangka, Kabupaten Sumbawa, dengan luas lahan mencapai 1,39 hektare. Investasi peternakan sapi pedaGing ini dengan target produksi 6 ribu ekor breeding, 7 ribu ekor fattening, 1.644 ton daging beku per tahun dan 1.196 ton non karkas per tahun.
Kemudian investasi perikanan budidaya dengan komoditas udang pada lahan seluas 176 hektare dengan nilai investasi Rp507 miliar. Proyek ini berlokasi di Kecamatan Jereweh, Kabupaten Sumbawa Barat dengan target 360 juta ekor benur udang vaname per tahun dan 5,4 ribu ton udang vaname segar per tahun.


















