KSOP Labuan Bajo Larang Kapal Wisata Beroperasi hingga 6 Januari

- KSOP Labuan Bajo melarang kapal wisata beroperasi hingga 6 Januari karena potensi cuaca ekstrem di wilayah Selat Sape, NTT.
- Kapal wisata dilarang berlayar hingga cuaca membaik, dengan imbauan khusus kepada nahkoda dan operator untuk memastikan keselamatan.
- Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi hingga 8 Januari di beberapa wilayah, dipicu oleh pola angin berkecepatan tinggi.
Kupang, IDN Times - Kantor Kesyahbandaran dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Labuan Bajo resmi melarang seluruh kapal wisata, termasuk speed boat, berlayar mulai tanggal 2 - 6 Januari 2026 akibat potensi cuaca ekstrem di wilayah Selat Sape, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Larangan ini tertuang dalam Pemberitahuan Notice to Mariners No. 02/NTM-I/2026 tertanggal 2 Januari 2026, berdasarkan prakiraan cuaca maritim BMKG Stasiun Meteorologi Maritim Tenau, Kupang.
Sebelumnya, KSOP Labuan Bajo juga telah mengeluarkan larang pelayaran sejak 29 Desember 2025 terkait cuaca ekstrem.
1. Perlindungan dari cuaca buruk

Kepala KSOP Labuan Bajo saat ini, Stephanus Risdiyanto, dalam surat pemberitahuan tersebut menyatakan izin pelayaran diberikan lagi saat cuaca membaik.
"Maka pelayanan surat persetujuan berlayar (SPB) untuk semua kapal wisata (termasuk speed boat) ditutup sementara hingga cuaca membaik kembali berdasarkan informasi dari BMKG," tegasnya.
Ia juga memberi imbauan khusus kepada nahkoda dan operator agar memastikan kelaiklautan kapal dan perlindungan jika cuaca buruk hingga memberitahukan kepada kapal lain jika mengetahui adanya bahaya cuaca.
Kapal-kapal juga diimbau agar dapat berlabuh atau mooring di area yang terlindung dari gelombang tinggi dan arus kuat dan berkoordinasi dengan syahbandar dan Basarnas jika cuaca semakin memburuk.
2. Dibuka kembali saat cuaca aman

KSOP Labuan Bajo mengimbau seluruh pelaku usaha wisata bahari dan wisatawan untuk menaati aturan ini demi keselamatan bersama. Ia menegaskan larangan ini dikeluarkan sebagai respons atas kondisi cuaca ekstrem yang masih berlangsung di kawasan Taman Nasional Komodo, termasuk dampaknya terhadap operasi SAR korban tenggelamnya KM Putri Sakinah yang hingga kini masih berlanjut.
"Pelayanan SPB akan dibuka kembali setelah BMKG menyatakan cuaca aman," sambungnya.
Pada pencarian hari kesepuluh ini Tim SAR Gabungan menemukan satu jenazah korban KM Putri Sakinah yang tenggelam 26 Desember lalu saat berlayar ke Pulau Komodo. Pencarian hingga har ini untuk menemukan tiga warga Spanyol yang berupa keluarga dari pelatih Valencia, Fernando Martin.
3. Tinggi gelombang dan kecepatan angin

Kepala Stasiun Meteorologi Maritim Tenau, Yandri Anderudson T. Tungga, pada Minggu (4/1/2025) ini kembali mengeluarkan peringatan dini gelombang tinggi.
Ia menyebut gelombang kategori sedang (1,25-2,5 meter) yang berpotensi terjadi di Selat Sape bagian selatan, Laut Sawu, Perairan Selatan Sumba, Perairan Sabu-Raijua, Perairan Utara dan Selatan Kupang-Rote, serta beberapa selat dan perairan lainnya, bahkan hingga 8 Januari 2026.
Menurutnya pola angin berkecepatan tinggi menjadi salah satu pemicu utama gelombang tinggi di beberapa wilayah terutama Selat Sape.
"Pola angin dominan dari barat daya-barat laut dengan kecepatan 8-25 knot menjadi pemicu utama. Kecepatan tertinggi terpantau di Selat Sape, Selat Sumba, Perairan Flores, Selat Alor, Laut Sawu, Selat Ombai, serta perairan sekitar Sabu-Raijua dan Timor," jelas dia.


















