Helikopter Air Bali saat mendarat di Gunung Rinjani. (dok. Istimewa)
Mulai tahun ini, BTNGR menyiapkan dua opsi asuransi bagi para pendaki dalam mengantisipasi kecelakaan saat pendakian di Gunung Rinjani. BTNGR memberikan dua opsi yaitu asuransi reguler dan premium bagi pendaki nusantara dan pendaki asing.
Untuk asuransi reguler, pendaki membayar asuransi sebesar Rp10 ribu. Sedangkan asuransi premium, pendaki membayar Rp290 ribu. Dengan menggunakan asuransi premium, apabila terjadi kecelakaan yang menimpa pendaki di Gunung Rinjani, maka proses evakuasi menggunakan helikopter.
Pada 2026, BTNGR akan mentransformasi sistem pendakian menjadi lebih aman, modern, dan berstandar global. Di antaranya aktivasi gelang RFID, personal beacon pemantau posisi pendaki, Integrated Radio Communications, pembangunan Command Center, High End Infrastructure, upgrade platform e-Rinjani iOS dan Implementasi zero waste digital.
BTNGR juga telah melakukan simulasi penyelematan menggunakan drone logistik. Dengan pemanfaatan drone berteknologi sensor thermal yang tidak hanya berfungsi untuk deteksi panas tubuh korban, tetapi juga dioptimalkan sebagai pengangkut logistik darurat.
Drone membawa perlengkapan penting seperti alat komunikasi, air minum, serta obat-obatan untuk menjangkau survivor di lokasi sulit diakses oleh tim darat. Kemampuan ini menjadi langkah awal penanganan darurat untuk memberikan dukungan psikologis, memastikan korban tetap terhidrasi, serta memperoleh pertolongan medis dasar.
Di medan terjal atau area berisiko tinggi, pergerakan tim darat sering kali membutuhkan waktu dan perhitungan matang. Dengan mobilitas yang cepat dan navigasi presisi, drone dapat menjangkau korban lebih dahulu tanpa menambah risiko bagi personel penyelamat.