Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Gubernur NTB Minta Rekonstruksi Desa Adat Sade Tak Tergesa
Kondisi Desa Adat Sade Lombok Tengah yang ludes terbakar dan rata dengan tanah, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal meminta rekonstruksi Desa Adat Sade dilakukan melalui kesepakatan masyarakat adat, yang menjadi subjek utama dalam menentukan model dan pembiayaan.
  • Pemulihan harus mengembalikan bentuk, arsitektur, tata ruang, dan identitas budaya Sade sedekat mungkin dengan aslinya, sambil memperkuat keselamatan kebakaran tanpa merusak karakter kawasan.
  • Rekonstruksi tidak boleh dipercepat demi pariwisata; kebakaran menghanguskan 167 bangunan dan berdampak pada 120 KK atau 320 jiwa.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lombok Tengah, IDN Times - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal meminta rekonstruksi Desa Adat Sade Lombok Tengah yang ludes terbakar, tidak dilakukan secara terburu-buru. Dalam menentukan model maupun skema pembiayaan sebelum dilakukan rekonstruksi harus disepakati bersama masyarakat adat.

Menurutnya, masyarakat Desa Adat Sade harus menjadi subjek utama dalam proses pemulihan. Pemerintah hadir untuk mendampingi, memfasilitasi, dan memperkuat kapasitas masyarakat, bukan mengambil alih keputusan mengenai masa depan kampung adat tersebut.

“Yang punya desa ini adalah masyarakat, masyarakat adat yang ada di sini. Sehingga kita perlu mengajak mereka bicara dan memutuskan bersama apa yang harus kita lakukan,” kata Iqbal usai mengunjungi Desa Adat Sade, Rabu (26/8/2026).

1. Identitas Desa Adat Sade tidak boleh hilang

Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menggelar rapat koordinasi bersama Bupati Lombok Tengah Lalu Pathul Bahri terkait pemulihan Desa Adat Sade pascakebakaran, Rabu (26/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Iqbal menegaskan rekonstruksi Desa Adat Sade pascakebakaran tidak boleh sekadar mengejar pembangunan fisik. Rumah-rumah adat yang terbakar memang harus kembali berdiri, tetapi sejarah, arsitektur, ruang hidup, dan identitas budaya Desa Adat Sade tidak boleh ikut hilang.

Dia mengatakan penanganan Desa Adat Sade harus dibedakan dengan penanganan kebakaran pada kawasan permukiman biasa. Desa Adat Sade bukan hanya kumpulan bangunan, melainkan situs budaya yang menyimpan sejarah, tata ruang, arsitektur tradisional, serta kehidupan masyarakat Sasak.

“Ini bukan sekadar kebakaran biasa. Ini kebakaran yang terjadi terhadap situs sejarah yang penuh budaya. Sehingga rekonstruksinya bukan membangun rumah layak huni, tetapi membangun kembali situs sejarah sedekat mungkin dengan bentuk aslinya,” tegasnya.

2. Bangunan rumah adat Sade harus dikembalikan ke kondisi asli

Kondisi Desa Adat Sade yang rata dengan tanah,Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Iqbal menambahkan bahwa rekonstruksi Desa Adat Sade perlu dilakukan dengan pendekatan berbasis masyarakat. Warga tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi terlibat sejak penyusunan konsep hingga pelaksanaan pembangunan.

Menurutnya, Desa Adat Sade akan dikembalikan sedekat mungkin dengan bentuk dan karakter aslinya. Namun, rekonstruksi juga harus menjadi momentum untuk memperbaiki aspek keselamatan dan mitigasi kebencanaan tanpa merusak identitas kawasan.

“Kita kembalikan sedekat mungkin dengan aslinya, tetapi dalam versi yang lebih baik. Kita harus memikirkan hidran, APAR, sistem sirkulasi dan akses, sehingga apabila terjadi kebakaran, penanganannya dapat dilakukan lebih cepat dan efektif,” ujarnya.

Dia membuka ruang untuk membicarakan penataan kawasan secara lebih komprehensif, termasuk kemungkinan pengaturan ruang hidup masyarakat di luar kawasan inti adat. Namun, seluruh opsi tersebut, menurutnya, belum menjadi keputusan dan harus terlebih dahulu dibahas bersama masyarakat adat.

Dia juga meminta kawasan bekas kebakaran untuk sementara tetap diamankan karena masih terdapat material yang berpotensi membahayakan warga dan relawan. Bantuan dari masyarakat juga diharapkan disalurkan melalui posko dan mekanisme yang telah disiapkan agar penanganannya tertib dan sesuai kebutuhan.

“Sade bukan lagi hanya milik warga yang tinggal di sini. Sade adalah milik NTB, bahkan bagian dari warisan Indonesia. Karena itu, wajar kalau semua orang memiliki rasa memiliki dan ingin ikut membantu,” kata dia.

3. Pembangunan Desa Adat Sade tidak boleh tergesa-gesa demi mengejar agenda pariwisata

Warga mencari sisa-sisa harta benda pada puing-puing rumah yang ludes terbakar dan rata dengan tanah di Desa Adat Sade Lombok Tengah, Minggu (23/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

Pria asal Lombok Tengah ini mengingatkan bahwa proses pembangunan kembali Desa Adat Sade tidak boleh tergesa-gesa demi mengejar agenda pariwisata maupun berbagai kegiatan besar yang akan berlangsung di NTB. Menurutnya, kecepatan pemulihan tetap penting, tetapi tidak boleh mengorbankan keaslian dan nilai sejarah yang menjadikan Desa Adat Sade memiliki arti khusus.

Dikatakan, Pemprov NTB bersama Pemerintah Kabupaten Lombok Tengah, masyarakat adat, dan berbagai pihak terkait akan terus mematangkan arah rekonstruksi. Setelah konsep disepakati, langkah berikutnya adalah menyusun kebutuhan pembiayaan dan membuka ruang kolaborasi bagi berbagai pihak yang ingin berkontribusi.

"Kesepakatannya kita tentukan dulu arahnya. Jangan terburu-buru membangun. Setelah arah rekonstruksinya jelas dan disepakati masyarakat, baru kita pikirkan bersama dari mana sumber pembiayaannya," tandasnya.

Berdasarkan data Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (Damkartan) Kabupaten Lombok Tengah, total sebanyak 167 bangunan yang ludes terbakar di Desa Adat Sade. Kebakaran hebat yang melanda Desa Adat Sade merusak puluhan rumah adat, artshop, masjid dan bangunan adat lainnya.

Adapun rincian 167 bangunan yang ludes terbakar dan rata dengan tanah di desa adat yang menjadi ikon pariwisata NTB tersebut. Rumah adat yang terbakar sebanyak 75 unit, artshop 69 unit dan lumbung alang 8 unit.

Kemudian Berugak Sekepat 6 unit dan Berugak Sekenam Besar 4 unit. Berikutnya, masing-masing satu masjid, bale beleq, toilet umum untuk wisatawan, gerbang desa adat dan pelonggo. Akibat kebakaran sebanyak 120 kepala keluarga (KK) atau 320 jiwa yang terdampak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article