Eks Dirut Bank NTB Syariah Diperiksa soal Kredit MXGP Rp11 Miliar

- Eks Dirut Bank NTB Syariah Kukuh Rahardjo diperiksa Kejati NTB terkait persetujuan kredit modal kerja Rp11 miliar kepada promotor MXGP, PT Carsten Group Indonesia, pada 2023.
- Penyidik menduga pemberian pinjaman tidak sesuai prosedur dan akan memeriksa seluruh pihak terkait, setelah sebelumnya menggeledah kantor Bank NTB Syariah serta memeriksa manajemen periode 2023.
- BPK menemukan penyaluran pembiayaan Bank NTB Syariah belum prudent, termasuk monitoring lemah, pengalihan dana proyek tanpa sepengetahuan bank, serta kelemahan dokumen dan asuransi debitur.
Mataram, IDN Times - Eks Direktur Utama (Dirut) PT Bank NTB Syariah, Kukuh Rahardjo diperiksa penyidik Pidana Khusus (Pidsus) Kejati NTB terkait kasus dugaan tindak pidana korupsi dalam pemberian kredit modal kerja kepada promotor lokal kejuaraan dunia balap motocross atau Motocross Grand Prix (MXGP), PT Carsten Group Indonesia tahun 2023 senilai Rp11 miliar.
Kukuh memenuhi panggilan penyidik Pidsus Kejati NTB pada Rabu (19/8/2026) pagi. "Hari ini, Kukuh Rahardjo, mantan Dirut Bank NTB Syariah memenuhi panggilan penyidik terkait kasus dugaan tipikor dalam pemberian pembiayaan kepada PT Carsten Group Indonesia di tahun 2023," kata Kepala Seksi Penerangan Hukum (Penkum) Kejati NTB, Harun Al Rasyid, Rabu (19/8/2026).
1. Diperiksa selaku direktur utama dan komite pembiayaan Bank NTB Syariah

Penyidik Pidsus Kejati NTB saat menggeledah Kantor Bank NTB Syariah. (dok. Istimewa) Dia menjelaskan, Kukuh diperiksa penyidik untuk memberikan keterangan terkait dengan pelaksanaan tugas dan kewenangannya selaku Direktur Utama maupun sebagai komite pemutus pembiayaan tingkat direksi PT Bank NTB Syariah.
Sehingga yang bersangkutan menyetujui pembiayaan kepada PT Carsten Group Indonesia tahun 2023. Kukuh Hadir memenuhi panggilan penyidik didampingi Tim Penasihat Hukum sejak pukul 10.00 WITA.
2. Semua pihak yang terlibat akan diperiksa

Juru Bicara Kejati NTB Harun Al Rasyid. (IDN Times/Muhammad Nasir) Harun mengungkapkan semua pihak yang terlibat atau ada kaitannya dengan pemberian kredit modal kerja kepada PT Carsten Group Indonesia dari Bank NTB Syariah akan diperiksa. Penyidik menaikkan perkara ini ke tahap penyidikan karena menemukan adanya tindak pidana terkait pemberian pinjaman modal Rp11 miliar yang tidak sesuai prosedur.
"Semua yang terlibat atau ada kaitannya dengan pemberian kredit modal kerja dari Bank NTB Syariah kepada PT Carsten sebesar Rp11 miliar akan diperiksa," jelasnya.
3. Penyidik geledah kantor Bank NTB Syariah

Dokumen yang disita penyidik dari Kantor PT Bank NTB Syariah. (dok. Istimewa) Sebelumnya, penyidik Pidsus Kejati NTB menggeledah kantor PT Bank NTB Syariah pada Kamis, 23 Juli 2026 lalu. PT Carsten Group Indonesia merupakan promotor lokal dan event organizer balap internasional Motocross Grand Prix (MXGP) Lombok dan Sumbawa.
Penggeledahan bank milik daerah itu terkait penyidikan dugaan tipikor dalam pemberian pembiayaan modal kerja dari PT Bank NTB Syariah kepada PT Carsten Group Indonesia tahun 2023. Pada Senin (27/7/2026), penyidik Pidsus Kejati NTB memeriksa sejumlah pejabat PT Bank NTB Syariah. Pejabat yang diperiksa merupakan manajemen Bank NTB Syariah pada 2023.
Selain kasus pinjaman modal, Kejati NTB juga mengusut dugaan tindak pidana korupsi dana sponsorship MXGP. Sebagaimana diketahui, PT Bank NTB Syariah juga menjadi sponsor dalam ajang balap motocross internasional tersebut.
Sebelumnya, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) RI Perwakilan NTB menyerahkan Laporan Hasil Pemeriksaan (LHP) atas pemeriksaan kinerja pada PT Bank NTB Syariah Tahun Anggaran 2023 sampai Semester I 2025 ke Gubernur NTB, Senin (26/1/2026). BPK menemukan adanya penyaluran pembiayaan produktif yang dinilai belum prudent, antara lain persetujuan pembiayaan kepada debitur tertentu yang tidak didukung monitoring memadai.
Sehingga terjadi pengalihan pembayaran termin proyek dari rekening escrow ke rekening bank lain tanpa sepengetahuan Bank NTB Syariah. Nilai pengalihan tersebut mencapai Rp47,2 miliar dan Rp16,7 miliar serta Rp30,5 miliar. Selain itu, terdapat debitur yang memperoleh pembiayaan Rp1 miliar hanya berdasarkan wawancara potensi sponsorship tanpa dukungan daftar sponsor yang valid dan tanpa laporan keuangan yang memadai.
BPK juga mencatat pada proses restrukturisasi pembiayaan, terdapat 18 debitur yang tidak dilakukan pengikatan asuransi ulang, sehingga bank berisiko kehilangan perlindungan (source of repayment) jika debitur mengalami gagal bayar.


















