NTB Jadi Lokasi Perdana Pengenalan “Scam Ready ASEAN” di Indonesia

Mataram, IDN Times - Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menjadi lokasi perdana pengenalan program Scam Ready ASEAN di Indonesia bahkan Asia. Program Scam Ready ASEAN merupakan inisiatif literasi keamanan digital dan pencegahan penipuan siber.
Pengenalan perdana program Scam Ready ASEAN dilakukan berbarengan dengan pelatihan program AI Ready ASEAN di tiga perguruan tinggi di NTB, yaitu Universitas Teknologi Sumbawa (UTS), Universitas Cordova (Undova) Sumbawa Barat, dan Universitas Mataram (Unram).
Project Officer Kaizen Collaborative Impact, Rizki Ayu Febriana mengatakan pihaknya berkolaborasi dengan PT AMMAN Mineral Nusa Tenggara untuk masuknya program internasional ini ke NTB, sekaligus menjadikan daerah tersebut sebagai panggung pertama di Asia dalam memperkenalkan Scam Ready ASEAN.
"Program ini berfokus pada literasi tentang keamanan digital, privasi data, dan pencegahan penipuan (scam)," kata Febriana di Universitas Mataram, Selasa (18/8/2026).
1. Program Scam Ready ASEAN belum dirilis resmi

Project Officer Kaizen Collaborative Impact, Rizki Ayu Febriana. (IDN Times/Muhammad Nasir) Program Scam Ready ASEAN hadir untuk merespons tingginya kerugian akibat penipuan online di Asia Tenggara. Lonjakan kasus ini dipicu oleh maraknya modus penipuan yang memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), kemudahan sistem pembayaran instan, serta jaringan kejahatan lintas negara.
Febriana menjelaskan bahwa program ini belum dirilis secara resmi di ASEAN. Namun atas izin ASEAN Foundation, program Scam Ready ASEAN, pertama kalinya diperkenalkan kepada sivitas akademika pada tiga perguruan tinggi di NTB.
Program ini dijadwalkan meluncur secara resmi pada akhir Agustus 2026, yang dirangkaikan dengan peluncuran platform Be Scam Ready. "Perdananya di sini diperkenalkan program Scame Ready. Jadi di Asia pun belum, di Indonesia juga belum. Tapi perkenalannya kami lakukan sekaligus di tiga universitas ini untuk perkenalan Scam Ready ASEAN," jelasnya.
Dia mengatakan program ini direncanakan diluncurkan per Agustus 2026. Namun, karena ada penyesuaian modul, sehingga akan diluncurkan pada akhir Agustus. "Kami punya konsen tentang keamanan digital dan data pribadi. Jadi lumayan agak sulit menyesuaikan modul dan sebagainya. Jadi program ini baru bisa dirilis nanti akhir Agustus," terangnya.
2. Manfaatkan AI secara bijak dan bertanggung jawab

Pelatihan program AI Ready ASEAN dan pengenalan Scam Ready ASEAN di Universitas Mataram, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir) Senior Manager Social Impact AMMAN, Aji Suryanto, mengatakan keberadaan Artificial Intelligence (AI) saat ini sudah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, tantangan utamanya bukan menghindari AI, melainkan bagaimana memanfaatkannya secara bijak, efektif, dan bertanggung jawab.
Maraknya isu hoaks, misinformasi, dan disinformasi menjadi alasan untuk memberikan pelatihan literasi AI kepada mahasiswa dan dosen di NTB. Dengan integrasi materi Scam Ready dan AI Ready ASEAN, mahasiswa dan dosen dibekali pemahaman mendalam tentang keamanan data, privasi, serta cara menyaring informasi agar tidak terjebak maupun menjadi sumber misinformasi.
"Makanya pelatihan AI Ready ASEAN ini menjadi penting. Karena kita ini akan belajar bagaimana ketika menggunakan AI itu, kita harus menjaga privasi, keamanan data. Dan kita akan menambahkan materi mengenai Scam Ready, bagaimana kita bisa lebih bijak menjaring informasi sehingga tidak terjebak hoaks dan menghindari misinformasi ketika kita menjadi sumber informasi," kata dia.
3. Dua sisi AI

Wakil Rektor Unram Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi, Dr. Sitti Latifah. (IDN Times/Muhammad Nasir) Wakil Rektor Unram Bidang Perencanaan, Kerja Sama dan Sistem Informasi, Dr. Sitti Latifah mengatakan program ini sejalan dengan program pembelajaran Literasi Abad 21. Dimana fokus utamanya adalah pemanfaatan teknologi dan informasi secara bijak dan bertanggungjawab.
Menurutnya, AI memiliki dua sisi. Satu sisi AI dapat membantu, namun di sisi yang lain menjadi tantangan tersendiri. Tidak menutup kemungkinan mahasiswa, dosen, tenaga kependidikan menggunakan AI dalam rangka kerja yang lebih efektif dan produktif. Namun, agar penggunaan AI lebih efektif dan bertanggung jawab maka perlu diberikan advisenya.
"Unram sudah memagari bahwa penggunaan AI tidak boleh dari sekian persen. Mahasiswa cenderung plagiasi dan sebagainya, itu juga sudah dipagari, bahwa kesamaan karya ilmiah itu tidak boleh sekian persen," kata dia.
Dia menambahkan kerja sama perguruan tinggi dan dunia industri sangat penting. Dalam proses pengembangan pembelajaran, apa yang ada di industri harus disesuaikan di perguruan tinggi. Industri memberikan masukan kompetensi tenaga kerja yang dibutuhkan untuk disiapkan oleh perguruan tinggi.
"Saat ini, lulusan universitas di Indonesia daya serap di industri yang skalanya internasional rendah. Karena adanya gap kebutuhan industri yang tidak bisa terpenuhi dari kompetensi lulusan universitas. Selain lowongan kerja kurang, adanya gap kompetensi antara yang dibutuhkan industri dengan lulusan universitas," ungkapnya.


















