Ketua Satgas MBG Provinsi NTB Fathul Gani. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Terpisah, Ketua Satgas MBG Provinsi NTB Fathul Gani mengungkapkan penyebab ratusan SPPG berhenti beroperasi sementara di NTB. Saat ini, kata dia, ada transisi pimpinan BGN, ditambah adanya kasus yang sedang ditangani aparat penegak hukum (APH). Sehingga, BGN melakukan evaluasi menyeluruh.
"Di saat evaluasi, mungkin dalam satu minggu ini clear, ingin dipastikan pendanaan sudah bisa cair untuk masing-masing SPPG. Mulai Jumat kemarin ada info laporan beberapa SPPG yang sudah habis kas di VA (virtual account). Kedua, memang mereka (SPPG) tidak diperkenankan menggunakan dana talangan, misalnya ngutang atau ngebon, itu tidak diperkenankan," jelas Fathul.
Karena dana transfer macet, maka konsekuensinya operasional SPPG berhenti sementara. Dia menambahkan bahwa hal ini berpengaruh pada tidak adanya layanan MBG bagi penerima manfaat.
"Kalau tidak ada kas, SPPG berhenti sementara sambil menunggu pencairan masuk kas masing-masing SPPG. Makanya kita percepat layanan administrasi keuangannya supaya segera masuk kas SPPG," tandasnya.
Hingga Mei 2026, pelaksanaan MBG di NTB tercatat telah memiliki 842 SPPG. Dari jumlah tersebut, sebanyak 733 SPPG yang aktif beroperasi. Program tersebut melibatkan lebih dari 4.300 penyedia lokal, menyerap lebih dari 39 ribu tenaga kerja, dan menjangkau sekitar 1,9 juta penerima manfaat.
Pemerintah menggelontorkan anggaran MBG di NTB sekitar Rp27,7 miliar per hari. Dimana, Lombok Timur menjadi daerah terbesar penerima distribusi anggaran sebesar Rp8,3 miliar, disusul Lombok Tengah Rp6,2 miliar dan Lombok Barat Rp3,9 miliar.