Cuaca Pengaruhi Stok BBM di Rote, Pedagang Eceran "Nakal" Jual di Atas HET

Kupang, IDN Times - Kapolres Rote Ndao, AKBP Mardiono, menemukan adanya pedagang Bahan Bakar Minyak (BBM) eceran yang naikkan harga selama cuaca buruk terjadi. Dampak cuaca ini juga berdampak terhadap pasokan BBM di wilayah Rote Ndao karena gelombang tinggi beberapa waktu terakhir.
Mardiono juga mendapat laporan Kantor Syahbandar dan Otoritas Pelabuhan (KSOP) Kelas III Kupang soal penundaan pelayaran menyusul peringatan dini gelombang tinggi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).
1. Harga Rp15 ribu tak sampai seliter

Hasil pemeriksaan di lapangan pihaknya menemukan praktik penjualan BBM eceran yang tidak sesuai aturan saat stoknya terganggu cuaca ekstrem. Ada penjual yang menaruh harga di atas harga eceran tertinggi (HET) per satu liter BBM. Temuan ini oleh Sat Reskrim Polres Rote Ndao melalui Unit Tindak Pidana Tertentu (Tipidter) dalam pengawasan pada wilayah Kecamatan Lobalain, Jumat (16/1/2026) sore.
"Sejumlah penjual eceran menjual BBM jenis Pertamax seharga Rp15 ribu per botol tapi takarannya saja tidak sampai satu liter. Ada penjual yang bahkan menjual 500 - 700 mililiter per botol dengan harga tersebut," tukasnya.
Sementara HET di wilayah Nusa Tenggara Timur (NTT) sendiri ialah Rp13.900 per liter. Penjual diimbau untuk tidak melebihi harga tersebut atau mengurangi satuan jualnya.
2. Polisi beri peringatan keras

Seluruh penjual yang terbukti menjual BBM di atas HET dan tidak sesuai takaran telah diberikan teguran secara langsung. Polisi juga mengingatkan agar para pedagang segera menyesuaikan harga dan takaran sesuai ketentuan.
Para penjual yang mendapat teguran ini antara lain adalah JM alias Jitro di Desa Holoama, Martin di Desa Sanggoen, serta RN alias Rita di Kelurahan Mokdale. BBM yang dijual diketahui diperoleh dari kios BBM desa maupun SPBU.
“Jika tidak diindahkan, akan dilakukan tindakan tegas sesuai aturan hukum yang berlaku,” tegasnya.
3. Gelombang tinggi ganggu pelayaran

Sebelumnya ia menyebut kapal pengangkut BBM belum diizinkan berlayar demi faktor keselamatan. Untuk itu pihaknya mengimbau masyarakat agar bijak dan hemat menggunakan BBM serta kebutuhan pokok lainnya. Imbauan ini mengingat kebutuhan pokok termasuk BBM selama ini dipasok dari luar daerah, baik dari Kupang maupun wilayah lain.
“Salah satu yang terdampak adalah pasokan BBM karena terganggu akibat cuaca ekstrem dan gelombang tinggi,” kata Mardiono.
Kepala KSOP Kelas III Kupang, Anselmus R. Bau Mau, dalam rilisnya secara terpisah memang menunda pelayaran karena kondisi cuaca buruk disertai angin kencang dan gelombang setinggi 1,25 hingga 2,5 meter. Sejumlah perairan di NTT, termasuk perairan selatan Timor–Rote dan selat Pukuafu, termasuk yang dinilainya berisiko tinggi.


















