Gerakan menanam cabai bagi siswa baru SMA/SMK di NTB untuk mengatasi inflasi. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Di sisi lain, Iqbal mengungkapkan bahwa tantangan terbesar pendidikan di NTB saat ini adalah belum meratanya kualitas SMA dan SMK. Menurutnya, sistem zonasi tidak akan berjalan efektif apabila mutu sekolah masih berbeda jauh, sehingga masyarakat terus berupaya mencari cara agar anaknya diterima di sekolah-sekolah yang dianggap favorit.
"Kalau kualitas seluruh SMA dan SMK kita sama baiknya, masyarakat tidak lagi sibuk mencari sekolah favorit. Karena itu yang harus kita benahi terlebih dahulu adalah kualitas sekolahnya," tegasnya.
Untuk mewujudkan pemerataan kualitas pendidikan, kata dia, Pemprov NTB meluncurkan golden Ticket, sebuah mekanisme seleksi terbuka untuk menjaring kepala sekolah terbaik yang memiliki kapasitas kepemimpinan dan manajerial guna ditempatkan di sekolah-sekolah yang membutuhkan percepatan peningkatan mutu. Pada tahap awal, tujuh kepala sekolah terpilih akan menjalankan penugasan khusus di berbagai daerah.
Menurutnya, penugasan tersebut merupakan bentuk penghargaan, bukan hukuman. Para kepala sekolah akan menerima insentif yang nilainya lebih besar daripada gaji pokok serta diberi kewenangan memilih dua guru pendamping melalui skema silver ticket. Mereka diberikan waktu satu bulan untuk mengidentifikasi persoalan sekolah, menyusun proyek perubahan, dan melaksanakan program peningkatan kualitas dengan dukungan anggaran khusus dari pemerintah.
Reformasi pendidikan juga diarahkan untuk memperkuat keterkaitan antara dunia pendidikan dan dunia kerja melalui program SMK Mendunia. Pemprov NTB akan mendorong pengembangan sekolah berbasis potensi wilayah dan kebutuhan industri, seperti SMK pertambangan, alat berat, mekanik, dan konstruksi di kawasan Hu'u dan Lunyuk guna menyiapkan tenaga kerja terampil bagi sektor industri yang terus berkembang.
Selain memperkuat kompetensi vokasi, juga peningkatan literasi bahasa Inggris agar lulusan SMK memiliki daya saing di pasar kerja nasional maupun internasional. Iqbal mengungkapkan, banyak lulusan SMK asal NTB yang kini bekerja di berbagai perusahaan dalam dan luar negeri dengan penghasilan yang sangat kompetitif.
"SMK harus menjadi tempat lahirnya tenaga kerja yang profesional, adaptif, dan siap bersaing, bukan hanya untuk memenuhi kebutuhan industri di NTB, tetapi juga di tingkat nasional dan global," tuturnya.