Aksi Wapres Gibran Pikul Salib Warnai Pawai Paskah di Kota Kupang

- Wapres Gibran ikut memikul salib raksasa dalam Pawai Paskah Pemuda GMIT di Kupang sebagai simbol persatuan antara pemerintah, masyarakat, dan gereja.
- Ketua Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie berharap kehadiran Gibran mendorong Pawai Paskah jadi event nasional serta meminta perhatian lebih bagi NTT terkait kemiskinan dan stunting.
- Gibran menyampaikan pesan damai dari Presiden Prabowo, mendukung pengembangan wisata rohani di NTT, dan mengajak masyarakat menjaga toleransi serta persatuan demi pembangunan bangsa.
Kupang, IDN Times - Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut mengambil bagian dalam Pawai Paskah Pemuda Gereja Masehi Injili di Timor (GMIT) 2026 di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT). Gibran juga berpartisipasi memikul salib usai melakukan penyerahan obor pawai kepada perwakilan Pemuda GMIT dan mengibarkan bendera tanda dimulainya pawai tersebut. Acara ini berlangsung di Bundaran Tirosa Kota Kupang, Senin (6/4/2026).
Momen tersebut terjadi ketika Pemuda GMIT Amarasi Timur, Kabupaten Kupang, peserta awal yang menjadi peserta awal melintas. Peserta saat itu mengenakan pakaian adat lalu menyuguhkan nyanyian dan puisi di hadapan Gibran dan peserta lainnya. Rombongan ini kemudian diikuti dengan beberapa pemuda yang mengusung salib raksasa.
1. Pikul salib simbol kebersamaan

Ketua Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie lantas mengajak Wapres Gibran, para pejabat lain yang hadir saat itu di antaranya Gubernur NTT Melki Laka Lena dan Wali Kota Kupang Christian Widodo untuk ikut ambil bagian memikul salib tersebut.
Gibran langsung mengambil tempat paling depan, di sisi Ketua Sinode GMIT, dan memikul salib raksasa berwarna kuning yang dirantai. Sementara pejabat lainnya mengambil tempat di belakang Gibran.
Gibran saat itu menggunakan tangan kanannya untuk memikul salib. Tampak beberapa pejabat dan pemuda peserta pawai lainnya ikut mengangkat salib tersebut bersama-sama. Kemudian mereka berjalan beberapa saat mengikuti peserta berbusana adat di depannya.
Pemikulan salib ini sebagai simbolis persatuan pemerintah, masyarakat dan gereja untuk menghadapi segala beban dan tanggung jawab bersama-sama.
Setelah itu, Gibran menyapa para difabel dan mendapatkan sejumlah tanda mata dari masyarakat. Ia juga melayani permintaan foto dari masyarakat yang hadir saat itu. Kemudian meninggalkan Bundaran Tirosa sekitar pukul 11.48 WITA.
2. Pendeta titip pesan agar NTT terus diperhatikan

Sebelumnya, Ketua Sinode GMIT Pendeta Samuel Pandie mengapresiasi kehadiran Gibran di tengah umat Kristen Protestan yang berkumpul di Kota Kupang.
Ia berharap dengan hadirnya Gibran, maka dapat mendorong Pawai Paskah Pemuda GMIT menjadi event tahunan nasional setelah berjalan 30 tahun lamanya di Kota Kupang. Pawai ini, kata Samuel, akan terus mendorong inovasi dan kreatifitas pemuda serta mendukung ekonomi pelaku usaha lokal dan UMKM.
Samuel juga berpesan agar pemimpin di Indonesia, terus berpihak pada NTT yang selama ini jadi pusat stunting, kemiskinan, eksploitasi buruh migran, kenaikan HIV AIDS dan menjadi wilayah 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar).
"Kehadiran Mas Wapres Gibran di tengah kita jadi jejak damai dan pembaharuan dan perubahan," ujarnya.
Gubernur NTT, Melki Laka Lena, berharap Pawai Paskah Pemuda GMIT ini jadi tradisi iman yang kuat dan berkembang tahun ke tahun. Ia juga mengajak masyarakat mendoakan Prabowo dan Gibran.
"Semoga Paskah jadi semangat spritual untuk memperbaharui semangat kebersamaan kita. Kita doakan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia dan semua kabinet di jakarta untuk mendukung Nusa Tenggara Timur menuntaskan kemiskinan, stunting, dan hal lainnya di NTT," ujar Melki.
3. Gibran pesan jaga persatuan

Sementara Gibran sendiri menyampaikan salam damai Paskah dari Presiden Prabowo Subianto kepada warga NTT juga mendukung Pawai Paskah Pemuda GMIT dapat terus berlangsung dengan dukungan promosi, infrastruktur, UMKM lokal dan ekonomi kreatif.
Tidak hanya Pawai Paskah Pemuda GMIT, ia ingin Semana Santa di Larantuka juga Patung Maria Bunda Segala Bangsa di Nilo Sikka, jadi potensi wisata rohani di NTT. Selain itu ia mengajak masyarakat terus menjaga toleransi di tengah konflik global.
"Untuk itu, Indonesia perlu menjaga toleransi. Jangan mudah terprovokasi. Jangan mudah percaya kabar bohong. Tidak ada satu negara yang bisa melakukan pembangunan bila ada perpecahan," ujar Gibran.
Jika ada bibit kesalahpahaman, tukasnya, maka harus segera dimediasi atau klarifikasi sehingga dicari jalan tengah. Ia mengajak masyarakat untuk saling jaga dan menopang karena pembangunan harus dimulai dari masyarakat yang bersatu.

















![[QUIZ] Sudah Tersakiti tapi Masih Bertahan? Cari Tahu Alasannya dari Kuis Ini!](https://image.idntimes.com/post/20251113/pexels-gustavo-fring-4173140_8317ea12-c705-4b40-9e7b-c03fd3b3b51d.jpg)