Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Ada Fenomena Kasus Hidrosefalus di Lombok Tengah, Pemicunya Masih Misteri
Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal menggendong bayi yang menderita penyakit hidrosefalus di Lombok Tengah, Senin (27/7/2026). (dok. Istimewa)

Mataram, IDN Times - Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal heran dengan banyaknya ditemukan penderita penyakit hidrosefalus di Lombok Tengah bagian selatan. Setidaknya, dia telah menemukan sebanyak 15 penderita hidrosefalus di wilayah Kecamatan Praya Barat Daya dan Kecamatan Praya Barat, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB).

Dia mengatakan fenomena penyakit hidrosefalus di Lombok Tengah mirip dengan kasus penyakit ginjal di Bima. "Saya dalam setahun ini mungkin hampir ketemu 15 penderita hidrosefalus dan semua di daerah selatan mulai dari Praya Barat Daya dan Praya Barat. Makanya ini fenomena, sama dengan fenomena kasus ginjal di Bima, mirip kenapa banyak sekali di Bima. Ini kayaknya perlu kajian khusus," kata Iqbal, Senin (27/7/2026).

1. Gubernur heran banyak penderita hidrosefalus di Lombok bagian selatan

ilustrasi hidrosefalus pada bayi (hydrocephaluslife.info)

Iqbal mengaku belum mengetahui penyebab banyaknya ditemukan penderita hidrosefalus di Lombok Tengah bagian selatan. Dia akan mendiskusikan fenomena ini dengan para ahli dan Dinas Kesehatan.

"Saya perlu diskusi dengan teman-teman di kesehatan, ada fenomena apa. Kenapa di daerah Lombok selatan ini banyak sekali hidrosefalus. lmu saya belum sampai ke sana, tetapi ini menjadi atensi," kata dia.

Sebelumnya, Iqbal mengunjungi dua warga penderita penyakit tersebut di Dusun Kreak, Desa Pandan Indah, Kabupaten Lombok Tengah, Senin (27/7/2026). Kunjungan pertama dilakukan ke rumah Ahmad Yani, pria berusia lebih dari 40 tahun yang menderita hidrosefalus sejak kecil.

Akibat penyakit tersebut, Ahmad Yani tidak pernah mengenyam pendidikan formal dan hingga kini hanya dapat berbaring karena tidak mampu berdiri maupun berjalan. Iqbal berdialog langsung dengan keluarga pasien untuk mendengar kondisi yang dihadapi sekaligus memastikan langkah penanganan yang dapat dilakukan pemerintah daerah.

Orangtua Ahmad Yani, Safi'i, mengaku terharu atas perhatian yang diberikan. Dia berharap anaknya mendapatkan penanganan yang lebih baik. "Ini merupakan pertama kalinya seorang gubernur berkunjung ke rumah kami. Semoga perhatian ini menjadi jalan agar Ahmad Yani mendapatkan penanganan yang lebih baik," harap Safi'i.

Selain itu, Iqbal juga mengunjungi Nadira Oktavany Putri, bayi berusia delapan bulan yang juga menjalani pengobatan akibat hidrosefalus. Setelah menjalani operasi di RSUD Provinsi NTB, kondisi Nadira menunjukkan perkembangan yang menggembirakan dan saat ini rutin menjalani kontrol sebanyak dua kali setiap pekan.

Sambil menggendong Nadira, Iqbal memberikan semangat kepada keluarga agar terus menjaga kesehatan dan asupan gizi selama masa pemulihan. "Alhamdulillah, kondisi Nadira sudah jauh lebih baik. Kepalanya tidak lagi membesar seperti sebelumnya. Tetap dijaga makanannya, harus bergizi. Tetap sehat, tetap semangat, dan tetap senyum," pesannya.

2. Operasi berisiko tinggi untuk kasus puluhan tahun

Direktur RSUD NTB drg. Asrul Sani. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Direktur RSUD Provinsi NTB, drg. Asrul Sani mengatakan bahwa kasus Ahmad Yani telah berlangsung lebih dari empat dekade. Pada masa itu, fasilitas kesehatan dan layanan bedah saraf di NTB masih sangat terbatas sehingga peluang penanganan optimal belum tersedia.

"Untuk kasus yang telah berlangsung puluhan tahun, tindakan operasi memiliki risiko yang sangat tinggi dan tidak banyak mengembalikan fungsi tubuh. Karena itu, penanganan difokuskan pada perawatan suportif atau palliative care untuk menjaga kualitas kesehatan dan kenyamanan hidup pasien," kata dia.

3. Perlu deteksi dini

Gedung IGD Terpadu RSUD NTB. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Asrul mengatakan RSUD NTB akan berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah dan puskesmas setempat untuk melakukan pemantauan kesehatan secara berkala. Tim medis akan melakukan kunjungan rutin ke rumah pasien agar kondisi kesehatannya terus terpantau.

Dia menjelaskan bahwa saat ini RSUD NTB l telah memiliki dokter spesialis bedah saraf beserta fasilitas yang memadai untuk menangani kasus hidrosefalus. Dia menekankan pentingnya deteksi dini dan penanganan segera setelah bayi lahir menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan terapi dan tumbuh kembang anak.

Curated For You

Editorial Team

Related Article