Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Panduan Memahami Cinta dari Seni Mencintai Karya Erich Fromm

Panduan Memahami Cinta dari Seni Mencintai Karya Erich Fromm
ilustrasi simbol cinta (pexels.com/atccommphoto)

Mataram, IDN Times - Tema cinta tidak pernah kehabisan daya tarik bagi berbagai lapisan usia. Baik mereka yang beranjak menuju usia dewasa, yang masih dalam masa muda yang penuh gejolak, atau bahkan orang tua yang telah menjalani perjalanan panjang dalam kehidupan, tema cinta selalu menghadirkan pertanyaan dan perasaan yang mendalam. Salah satu pandangan yang paling memikat dan pencerahan dalam menjelajahi seni mencintai datang dari karya besar Erich Fromm.

Dalam bukunya yang berjudul "The Art of Loving," Fromm membawa kita mempelajari tentang makna sejati dari cinta. Ia mengungkapkan pandangannya yang mendalam tentang berbagai aspek cinta, dari cinta kepada orangtua hingga cinta pada diri sendiri. Artikel ini akan membantumu memahami cinta menurut pandangan Erich Fromm.

1. Asal mula karya seni mencintai

Erich Fromm (efsc.ipu-berlin.de)
Erich Fromm (efsc.ipu-berlin.de)

Ia menulis buku ini pada tahun 1950-an selama periode perubahan sosial yang cepat pasca Perang Dunia II. Teori terobosan Sigmund Freud tentang ketidaksadaran telah mengubah gagasan tradisional tentang cinta. Karya Fromm dibangun di atas ide-ide Freud, menyoroti bahwa sifat manusia didorong oleh hasrat.

Pada tahun 1956, Erich Fromm menerbitkan buku berjudul "The Art of Loving". Ia tidak hanya menguraikan teori cintanya, tetapi juga mengeksplorasi pandangan para psikolog dan pemikir lainnya. Dia menyatakan bahwa cinta, seperti halnya seni, menuntut pembelajaran dan latihan secara sadar.

Fromm berpendapat bahwa cinta bukanlah perasaan belaka, tetapi sebuah seni yang membutuhkan latihan dan kesungguhan secara terus-menerus. 

2. Mendefinisikan cinta ala Erich Fromm

ilustrasi bergandengan tangan (pexels.com/achraf210)
ilustrasi bergandengan tangan (pexels.com/achraf210)

Perspektif Fromm tentang cinta melampaui perasaan sentimental. Cinta adalah ketertarikan pada objek kasih sayang dan perkembangan pada diri sendiri. Cinta, menurut pandangannya, tidak bersifat universal, tetapi muncul dari kemauan untuk menjadi pribadi yang lebih baik diri untuk mencapai kedewasaan.

Seseorang yang tahu caranya mencintai adalah ciri pribadi yang matang dan dewasa. Ia mampu bergaul dengan siapa pun karena mengenal diri mereka sendiri dan orang lain, dan tahu bagaimana mengatur diri sendiri. Kemampuan untuk mencintai mencerminkan kedewasaan dalam mengambil tanggung jawab, membuat pilihan secara sadar, dan menerima perubahan untuk mewujudkan potensi pribadi.

3. Mengungkap misteri seni mencintai

ilustrasi bergandengan tangan (pexels.com/rina-mayer-87688012)
ilustrasi bergandengan tangan (pexels.com/rina-mayer-87688012)

Seni mencintai tidak menawarkan panduan langkah demi langkah untuk mencintai. Sebaliknya, buku ini mengajak pembaca untuk melakukan perjalanan mengasah diri dan menemukan jati diri. Melalui pendalaman yang cermat, pembaca bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan mereka sendiri. 

Lebih dari sekadar psikologi, karya Fromm menggali lebih dalam tentang esensi dan pentingnya cinta dalam kehidupan kita. Rahasia buku ini terletak pada kemampuannya untuk mengungkapkan hal-hal yang tidak diketahui dan mendorong perubahan yang mengarah pada keharmonisan dan kebahagiaan. Buku ini juga mengeksplorasi peran cinta orangtua dalam perkembangan anak, melampaui statusnya sebagai karya ilmiah dan menjadi sebuah pemikiran filosofis yang mendalam.

4. Sebelum dicintai, kamu harus belajar untuk mencintai

ilustrasi memberikan bunga kepada pasangan (pexels.com/viktoria-slowikowska)
ilustrasi memberikan bunga kepada pasangan (pexels.com/viktoria-slowikowska)

Erich Fromm membedakan antara dua bentuk cinta: mencintai dan dicintai. Ia menyebut yang pertama sebagai cinta yang sehat dan yang kedua sebagai tidak sehat. Keinginan untuk mencintai adalah tanda kedewasaan dan kematangan, sedangkan keinginan untuk dicintai menandakan ketidakdewasaan dan kekanak-kanakan.

Fromm selanjutnya mengidentifikasi dua variasi cinta yang tidak dewasa:

  • Masokisme: bentuk pasif di mana seseorang membiarkan orang lain mengendalikan mereka sepenuhnya, didorong oleh rasa takut akan kesepian dan isolasi.
  • Sadisme: bentuk aktif di mana seseorang berusaha untuk mendominasi dan mengendalikan orang lain, didorong oleh perasaan takut yang serupa.

Buku Seni Mencintai bisa dibilang melampaui panduan cinta. Buku ini berfungsi sebagai panduan untuk menjadi dewasa, membina individu yang matang, dan mandiri. Selain itu, ia membantu membedakan antara hubungan yang tidak sehat dan tidak dewasa dengan cinta yang tulus dan sehat.

5. Menggali tipologi cinta Erich Fromm

ilustrasi ibu menggendong anak (pexels.com/pixabay)
ilustrasi ibu menggendong anak (pexels.com/pixabay)

Fromm mengelompokkan cinta sebagai sebuah orientasi yang menyesuaikan berdasarkan objek cinta:

  • Cinta Persaudaraan: Dasar dari semua cinta yang ditandai dengan kepedulian, tanggung jawab, rasa hormat, pengertian, dan penerimaan yang menjangkau ke berbagai objek secara bersamaan.
  • Cinta Keibuan: Cinta tanpa syarat antara hubungan ibu dan anak, menekankan perlindungan dan kenyamanan.
  • Cinta Erotis: Diarahkan pada satu objek berlandaskan pada kesatuan dan hubungan yang utuh.
  • Cinta Diri: Prasyarat penting untuk mencintai orang lain yang melibatkan penerimaan diri tanpa keegoisan.
  • Cinta untuk Tuhan: Pencarian akan persatuan dan rasa memiliki, mewakili pengembangan diri dan perubahan dari cinta tanpa syarat ke kesadaran akan mencintai.

Karya Fromm juga membedakan antara cinta ayah dan ibu. Ia menyoroti peran cinta yang diperoleh dari ayah yang berbeda dengan kasih sayang tanpa syarat dari ibu. Tujuan utamanya adalah agar individu dapat menyatukan cinta ayah dan ibu dalam diri mereka, menjadi dewasa, dan mampu membedakan antara cinta tanpa syarat dan bersyarat.

6. Praktik dalam mencapai cinta yang matang

ilustrasi pasangan bergandengan tangan (pexels.com/robertkso)
ilustrasi pasangan bergandengan tangan (pexels.com/robertkso)

Menguasai seni mencintai bukanlah tentang menjadi pribadi lebih baik atau memperoleh kasih sayang secara instan. Erich Fromm menegaskan bahwa ini adalah perjalanan pribadi yang harus dilakukan sendiri. Berbeda dengan cinta yang belum matang yang bergantung pada faktor eksternal seperti penampilan atau kekayaan, cinta yang matang membutuhkan disiplin, konsentrasi, kesabaran, dan kesadaran diri. Berikut menurut Fromm cara-cara di mana kita dapat mengembangkan dan mempraktikkan cinta yang matang:

  • Mempraktikkan Disiplin: Melibatkan pengembangan diri, empati, dan mengenali kebutuhan emosional.
  • Mengembangkan Konsentrasi: Berfokus pada saat ini, meningkatkan empati, dan memahami kebutuhan orang lain.
  • Melatih Kesabaran: Mengapresiasi perkembangan perasaan secara bertahap daripada mengharapkan cinta yang instan.
  • Menumbuhkan Kesadaran Diri: Meningkatkan kesadaran emosi, kebutuhan, dan keinginan pribadi agar memperoleh hubungan yang lebih baik dengan orang lain.

Jadi, saat kamu merenungkan apa itu cinta yang sesungguhnya, pertimbangkanlah perspektif Erich Fromm. Eksplorasi Fromm tentang seni mencintai memberi kita wawasan yang mendalam ke dalam dunia emosi dan hubungan manusia yang rumit. Karyanya mengajak kita untuk melihat cinta sebagai perjalanan penemuan diri dan pertumbuhan pribadi yang berkelanjutan, bukan sebagai perasaan sederhana yang dialami secara pasif.

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.
Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Sri Gunawan Wibisono
EditorSri Gunawan Wibisono
Follow Us

Latest News NTB

See More

6 Manfaat Psikologis Luar Biasa dari Membaca Buku di Tengah Kesibukan

04 Apr 2026, 05:00 WIBNews