Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Tolak Investasi Kereta Gantung Rp6,6 T, NTB Tunggu Keputusan Pusat
Kepala DPMPTSP NTB Irnadi Kusuma. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Pemprov NTB menolak investasi kereta gantung Rinjani Rp6,6 triliun di Lombok Tengah, dengan keputusan kelanjutan proyek tetap menunggu pemerintah pusat melalui proses AMDAL.
  • Penolakan NTB didasarkan pada kelayakan lingkungan serta aspirasi masyarakat dan tokoh adat; pemerintah menegaskan investasi yang belum maupun sudah berjalan tetap dievaluasi dan diawasi.
  • PT Indonesia Lombok Resort belum merealisasikan proyek meski menyetor jaminan Rp5 miliar, serta merevisi AMDAL dan mengkaji akses konstruksi demi meminimalkan pembabatan hutan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) menolak investasi pembangunan kereta gantung Rinjani senilai Rp6,6 triliun di Desa Karang Sidemen Kecamatan Batukliang Utara, Kabupaten Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat. Proyek yang telah memasuki pembahasan penyusunan Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) di Pemerintah Pusat itu telah dilakukan groundbreaking pada Desember 2022.

Proyek kereta gantung Rinjani akan dibangun investor asal Cina, PT Indonesia Lombok Resort. Meski mendapat penolakan oleh pemerintah daerah, namun proyek itu berlanjut atau tidak, keputusan tetap berada di pemerintah pusat.

"Biar itu (AMDAL) bergulir di pusat. Biasanya pemerintah pusat juga mempertimbangkan bagaimana masukan dari daerah. Kita tunggu saja," kata Kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Terpadu Satu Pintu (DPMPTSP) NTB Irnadi Kusuma dikonfirmasi di Mataram, Rabu (29/7/2026).

1. Investor kereta gantung tidak ada kabar

Desain proyek kereta gantung Rinjani. (dok. DLHK NTB)

Irnadi menjelaskan belum ada perkembangan lebih lanjut terkait investasi kereta gantung Rinjani. Pihaknya juga belum ada komunikasi dengan investor yaitu PT Indonesia Lombok Resort.

"Investornya ndak ada kabar lagi. Ini pernah groundbreaking tapi mereka sampai saat ini belum merealisasikan," jelas Irnadi.

Meskipun investor sudah menaruh dana sebesar Rp5 miliar di Bank NTB Syariah sebagai bentuk keseriusan, namun belum ada perkembangan lebih lanjut terkait proyek kereta gantung Rinjani.

"Kalau memang mereka ada kelanjutan pembicaraan atau apa terkait yang perlu didiskusikan pasti mereka menemui Pemprov NTB tapi sampai saat ini belum ada," tambahnya.

2. Pertimbangan Pemprov NTB tolak investasi Kereta gantung Rinjani

ilustrasi naik kereta gantung (unsplash.com/Brian Zhu)

Irnadi mengungkapkan alasan Pemprov NTB menolak investasi kereta gantung Rinjani. Di antaranya, pertimbangan kelayakan lingkungan. Kemudian melihat respons masyarakat, tokoh adat dan lainnya yang menyampaikan penolakan pembangunan kereta gantung di kawasan Gunung Rinjani.

"Itu juga menjadi pertimbangan. Jadi tidak hanya teknis sebuah investasi tapi pertimbangan non teknis juga menjadi perhatian. DPMPTSP pada prinsipnya, semua sektor investasi kami coba melakukan support maksimal. Tapi kalau ada hal-hal lain di luar teknis, atau non teknis investasi, kami pertimbangkan itu," terangnya.

Ditanya terkait kekhawatiran NTB akan disebut daerah tidak ramah investasi dengan adanya penolakan ini, Irnadi mengatakan setiap daerah punya pertimbangan sendiri. Sehingga, investasi yang sudah berjalan pun juga dilakukan evaluasi dan pengawasan.

"Makanya yang sudah berjalan pun ada evaluasi dan pengawasan. Apalagi ini belum berjalan. Bukan berarti (investasi) yang sudah disetujui tidak ada evaluasi," terangnya.

3. Investor lakukan revisi AMDAL

Gubernur NTB Zulkieflimansyah saat soft groundbreaking proyek kereta gantung Rinjani bersama pimpinan PT. Indonesia Lombok Resort, 18 Desember 2022. (dok. Diskominfotik NTB)

Investor kereta gantung Rinjani, PT Indonesia Lombok Resort pernah menemui Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal pada 14 Agustus 2025 lalu. Humas PT Indonesia Lombok Resort Ahui mengatakan Gubernur meminta investor untuk memperhatikan masalah sosial dan lingkungan terkait rencana pembangunan kereta gantung Rinjani.

Dia menjelaskan proses pembangunan kereta gantung Rinjani akan menggunakan helikopter untuk meminimalisir pembabatan hutan. Namun, Ahui mengatakan pembangunan kereta gantung menggunakan helikopter akan membutuhkan waktu lebih lama dibandingkan pembangunan lewat darat.

Selain itu, pembangunan kereta gantung melalui jalur udara menggunakan helikopter membutuhkan biaya yang cukup besar. Untuk itu, pihaknya menyiapkan kajian pembangunan kereta gantung lewat jalur darat dengan meminimalisir pembabatan hutan untuk jalan inspeksi.

Pembangunan jalan inspeksi sepanjang jalur kereta gantung diperlukan untuk jalur penyelamatan. Apabila terjadi bencana alam atau kereta gantung berhenti di tengah jalan, maka akses jalan inspeksi tersebut sangat diperlukan.

Ahui menambahkan pihaknya melakukan revisi Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL). AMDAL pembangunan proyek kereta gantung Rinjani belum dibahas di kementerian karena perlu dilakukan revisi.

Dia menyebut nilai investasi proyek kereta gantung Rinjani sebesar Rp6,6 triliun. Proyek ini diperkirakan akan memakan waktu untuk konstruksinya selama 1,5 tahun sampai dengan 2 tahun tergantung kondisi di lapangan.

Investor berencana membangun kereta gantung dan resort mewah. Kereta gantung yang dibangun diklaim terpanjang di dunia, yaitu mencapai 9 kilometer. Lokasi pembangunannya berada di kawasan hutan yang berada di bawah pengelolaan Dinas LHK NTB.

Lokasinya berada di Desa Karang Sidemen Kecamatan Batukliang Utara Lombok Tengah. Sebagai bentuk keseriusannya, investor Cina tersebut telah menaruh uang jaminan investasi sebesar Rp5 miliar di Bank NTB Syariah.

Curated For You

Editorial Team

Related Article