352 Siswa di Lombok Keracunan usai Konsumsi MBG Kebab Ayam

- Sebanyak 352 siswa SD dan MTs di Batukliang, Lombok Tengah, mengalami dugaan keracunan massal setelah mengonsumsi kebab ayam dari program Makanan Bergizi Gratis.
- Korban dari lima sekolah ditangani di empat puskesmas; keluhan utama meliputi mual, muntah, sakit perut, dan pusing, dengan sebagian besar pasien telah dipulangkan setelah observasi.
- Menu kebab berisi ayam fillet, tempe, sayuran, dan salak; Dinas Kesehatan bersama puskesmas masih menyelidiki hubungan makanan MBG dengan gejala serta kemungkinan sumber penyebab.
Lombok Tengah, IDN Times - Sebanyak 352 siswa tingkat SD dan Madrasah Tsanawiyah (MTs) di Kecamatan Batukliang, Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat, dilaporkan mengalami keracunan massal. Insiden ini diduga kuat terjadi setelah para pelajar tersebut mengonsumsi kebab ayam yang merupakan bagian dari program makanan bergizi gratis (MBG).
Ratusan siswa yang menjadi korban dalam peristiwa keracunan makanan ini diketahui berasal dari lima sekolah berbeda di wilayah setempat. Kelima institusi pendidikan yang terdampak tersebut meliputi SDN 2 Lendang Tampel, SDN Beber, SDN Repoq Puyung, SDN Mertak Kesambik, serta MTs Qudwatun Hasanah.
1. Ratusan korban dilarikan ke empat puskesmas

Siswa korban keracunan MBG di Puskesmas Pringgarata Lombok Tengah, Jumat (11/9/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir) Data Tim Surveilans Dinas Kesehatan Lombok Tengah, ratusan siswa yang diduga mengalami keracunan MBG dilarikan ke empat puskesmas. Di antaranya, Puskesmas Pringgarata 144 orang, Puskesmas Aik Darek 124 orang, Puskesmas Mantang 67 orang dan Puskesmas Bagu 17 orang.
Dokter Penanggungjawab Medis Puskesmas Pringgarata, dr. Dessy Jumianita mengatakan hingga pukul 12.30 WITA, korban yang ditangani sebanyak 179 orang. "Kalau yang kami data di sini dari SDN Beber, ada 179 orang korban. Berdasarkan informasi yang kami dapatkan pukul 11.05 WITA, ada siswa yang dibawa ke sini dengan keluhan mual, muntah, sakit perut dan pusing. Itu informasinya setelah makan MBG di sekolahnya," kata Dessy.
Dessy mengatakan penyebab siswa mengalami keracunan masih dilakukan investigasi terhadap korban yang ditangani di Puskesmas Pringgarata. Ratusan siswa yang yang ditangani di Puskesmas Pringgarata pada umumnya mengalami gejala mual, muntah, pusing dan sakit perut.
Dari 179 siswa yang dibawa ke Puskesmas Pringgarata, sebanyak 17 orang yang mengalami gejala sedang dan dirawat. Sedangkan ratusan orang lainnya sudah dipulangkan.
"Setelah tiga jam kita obsrrvasi, bagi yang sudah tidak ada keluhan kami pulangkan," kata dia.
2. Siswa yang mengalami gejala ringan dibawa ke Kantor Camat

Siswa dengan gejala ringan yang dibawa ke Kantor Camat Pringgarata diperbolehkan pulang. (IDN Times/Muhammad Nasir) Karena siswa yang dibawa ke Puskesmas Pringgarata cukup banyak, bagi yang mengalami gejala ringan dibawa ke Kantor Camat Pringgarata yang berada di depan puskesmas. Siswa yang telah diperbolehkan pulang, kata dia tetap dilakukan pemantauan.
"Nanti surveilans kami akan tetap melakukan pemantauan koordinasi dengan Dinas Kesehatan dan pihak sekolah untuk pelaporan dan pemantauannya," jelas Dessy.
Makanan MBG yang dikonsumsi siswa dari lima sekolah itu disalurkan SPPG Lombok Tengah Mekar Bersatu di bawah Yayasan Budi Sain Mangkling. Makanan tersebut diantarkan ke beberapa sekolah pada pukul 08.15 WITA, mulai dibagikan kepada penerima manfaat pada pukul 09.00 WITA, dan keluhan atau gejala mulai dirasakan oleh penerima manfaat antara pukul 09.10 hingga 12.15 WITA.
3. Menu makanan yang dikonsumsi siswa

Menu MBG kebab ayam yang dikonsumsi para siswa. (IDN Times/Muhammad Nasir) Menu makanan yang dikonsumsi siswa berupa kebab ayam, terdiri dari kulit kebab, daging ayam fillet, stik tempe, timun, selada, dan salak. Para siswa yang mengonsumsi makanan tersebut mengalami sejumlah gejala meliputi pusing, mual, muntah, dan sakit perut.
Tim Surveilans dari Puskesmas Mantang, Puskesmas Aik Darek, Puskesmas Pringgarata, Puskesmas Bagu, dan Dinas Kesehatan Kabupaten Lombok Tengah masih melakukan pemantauan dan penyelidikan epidemiologi.
Kejadian tersebut masih dalam proses investigasi dan pengumpulan data lebih lanjut untuk mengetahui hubungan antara konsumsi makanan MBG dengan gejala yang dialami para siswa serta mengidentifikasi kemungkinan sumber penyebab kejadian.



















