Inilah Akhir Pengabdian Wili Mbuik, Tiba di El Tari dalam Balutan Merah Putih

- Jenazah Wili Mbuik, CPNS Dinas Pertanian Jayawijaya asal Rote Ndao, tiba di Bandara El Tari Kupang pada 11 September 2026 dan disambut tangis keluarga serta pejabat NTT.
- Wili tewas dalam penyerangan kelompok bersenjata TPNP-OPM di Distrik Muliama saat bertugas bersama rombongan Dinas Pertanian; dua orang lain turut meninggal, termasuk Alfonsius Albinus Mehan.
- Jenazah Wili diberangkatkan ke Rote Ndao untuk disemayamkan di Busalangga dengan pengawalan aparat. Pemprov NTT mengecam serangan dan meminta pelaku segera ditangkap.
Kupang, IDN Times – Jumat pagi (11/9/2026) yang semestinya diwarnai hangatnya mentari, justru diselimuti awan duka yang pekat di Terminal Kargo Bandara El Tari, Kupang. Tangis keluarga yang sejak awal tertahan, akhirnya pecah seketika saat sebuah peti jenazah perlahan diturunkan dari lambung pesawat.
Peti itu dibalut gagah oleh bendera Merah Putih. Namun di baliknya, terbaring jasad Wili Mbuik, nona 24 tahun asal Rote Ndao yang pulang dengan cara yang tak pernah terbayangkan oleh siapa pun.
Wili pulang bukan untuk menceritakan kisah suksesnya di tanah rantau. Ia kembali sebagai korban penembakan mematikan yang didalangi kelompok bersenjata Tentara Nasional Pembebasan Papua - Organisasi Papua Merdeka (TPNP-OPM) di Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
Suasana sedih yang menyesakkan dada menyelimuti area terminal kargo pagi itu. Keluarga yang telah lama menanti kepulangannya tak lagi sanggup membendung air mata, meratapi kepergian anggota keluarga yang mereka cintai.
Masa depan Wili sejatinya masih merentang panjang. Di Papua Pegunungan, ia tengah merajut asa dan mengabdi kepada negara sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya. Ia hadir di sana untuk membangun ketahanan pangan, namun hidupnya justru diakhiri di ujung senjata.
Tangisan di pelataran Bandara El Tari hari itu menjadi saksi bisu hancurnya hati sebuah keluarga. Harapan untuk melihat Wili kembali dengan senyuman dari ujung timur Indonesia telah sirna, berganti dengan kenangan yang kini terbungkus senyap di bawah naungan sang Saka Merah Putih.
1. Peti jenazahnya dipeluk keluarga

Penghormatan terakhir Pemprov NTT untuk Wili Mbuik korban penembakan OPM di Papua Pegunungan. (Dok Biro Administrasi Pimpinan Provinsi NTT) Penghormatan terakhir untuk sang abdi negara tidak hanya datang dari isak tangis keluarga. Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur, Johni Asadoma, tampak memimpin langsung prosesi penjemputan jenazah di bandara. Kehadirannya bersama Sekretaris Daerah NTT, Fransiskus Sales Sodo, beserta jajaran pimpinan perangkat daerah, menegaskan duka mendalam pemerintah daerah atas gugurnya salah satu tunas bangsa.
Ketika peti jenazah mulai diarak dan diangkat perlahan untuk dimasukkan ke dalam mobil ambulans di pelataran kargo, pertahanan emosi keluarga benar-benar runtuh. Isak tangis yang menyayat hati memecah keheningan pagi. Satu per satu anggota keluarga merangsek maju dengan derai air mata. Mereka memeluk erat peti berbalut Sang Saka itu, pelukan terakhir yang kini terasa begitu dingin.
Johanes Baba, paman Wili, tak kuasa menyembunyikan kepedihannya. Mewakili keluarga, ia menuturkan betapa kepergian Wili meninggalkan luka yang teramat dalam dan pukulan telak bagi mereka.
Di mata keluarga, Wili adalah sosok putri kebanggaan. "Sebentar lagi usianya genap 25 tahun," kenang Johanes dengan suara bergetar.
Namun takdir berkata lain. Di usia yang tengah merekah itu, langkah Wili terhenti begitu cepat, meninggalkannya pergi untuk selama-lamanya.
Pagi itu juga, dari hiruk-pikuk Bandara El Tari, rombongan duka bergerak. Mobil jenazah perlahan melaju membawa jasad Wili menuju pelabuhan. Ia akan diseberangkan menggunakan kapal feri menuju tanah kelahirannya di Pulau Rote, Rote Ndao. Di sanalah sang CPNS muda akan dibaringkan dalam peristirahatan akhirnya, kembali ke dalam pelukan bumi yang membesarkannya.
"Kami kehilangan anak yang kami sayangi dan kami banggakan. Kami merasa sedih. Kejadian ini sangat menyusahkan dan menyedihkan," ungkapnya.
2. Jenazah Wili dikawal aparat hingga ke Rote Ndao

Keluarga dan kerabat Wili Mbuik menangis saat menjemputnya di Bandara El Tari Kupang. (IDN Times/Putra Bali Mula) Dari hiruk-pikuk Bandara El Tari, setelah prosesi penghormatan usai, iring-iringan mobil jenazah bergerak menyusuri jalanan menuju Pelabuhan Bolok, Kabupaten Kupang. Di sana, KMP Lakaan telah bersandar, bersiap menyeberangkan Wili melintasi lautan menuju tanah kelahirannya di Pulau Rote. Setibanya di Pelabuhan Pantai Baru, aparat kepolisian telah bersiaga memberikan pengawalan penuh kehormatan hingga jenazah disemayamkan di rumah duka yang berada di Busalangga, Kecamatan Rote Barat Laut.
Tragedi ini tak pelak memantik kemarahan dan kecaman keras dari Pemerintah Provinsi NTT. Wakil Gubernur Johni Asadoma mendesak aparat penegak hukum untuk segera memburu dan menangkap para pelaku kekejian tersebut. Dengan raut wajah duka sekaligus tegas, Johni mengingatkan kembali esensi kehadiran putra-putri NTT di tanah Papua.
"Mereka ada di sana untuk mengabdi kepada masyarakat Papua. Mereka di sana untuk melayani masyarakat Papua," tegas Johni.
Ia tak habis pikir bagaimana ketulusan seorang abdi negara harus dibayar dengan nyawa.
"Mereka bukan untuk berperang dengan siapa pun, tetapi mengabdi dan melayani dengan ketulusan. Kenapa harus dibunuh?" tambahnya dengan nada getir.
Kini, pelayaran panjang itu akan segera bermuara. Wili telah kembali ke tanah asalnya di NTT. Bukan dengan tawa dan rupa-rupa cerita indah dari tempat tugasnya di Jayawijaya, melainkan di dalam sebuah peti yang hanya bisa dipeluk erat oleh keluarganya, menyisakan ruang kehilangan yang tak akan pernah benar-benar pulih.
3. Wili pergi untuk mengabdi, bukan berperang

Penghormatan terakhir Pemprov NTT untuk Wili Mbuik korban penembakan OPM di Papua Pegunungan. (Dok Biro Administrasi Pimpinan Provinsi NTT) Wili saat itu mengalami penyerangan bersama dua orang lainnya turut tewas dan salah satunya juga warga NTT bernama Alfonsius Albinus Mehan asal Maumere, Kabupaten Sikka. Saat itu mereka bersama rombongan pegawai Dinas Pertanian tengah menjalankan tugas di Distrik Muliama. Perjalanan tersebut berujung maut setelah rombongan dicegat kelompok bersenjata dan ketiganya diberondong peluru. Wili mendapat tembakan di rusuk kanan dan tak selamat meski sempat mendapat perawatan medis.
Johni Asadoma menegaskan, kedua warga NTT itu berada di Papua untuk bekerja, mengabdi, dan melayani masyarakat.
"Mereka ada di sana untuk mengabdi kepada masyarakat Papua. Mereka di sana untuk melayani masyarakat Papua. Mereka bukan untuk berperang dengan siapa pun, tetapi mengabdi dan melayani dengan ketulusan. Kenapa harus dibunuh?" kata Johni.
Menurut Johni, perbedaan dan perjuangan atas aspirasi tidak boleh dijalankan dengan mengorbankan nyawa masyarakat sipil. Untuk itu ia meminta aparat OPM menghentikan kekerasan terhadap warga sipil.
"Kalian boleh memperjuangkan apa yang kalian inginkan, tetapi jangan membunuh, mengorbankan rakyat sipil, merusak fasilitas umum, sekolah, rumah sakit. Itu adalah perbuatan yang tidak manusiawi," tegasnya.


















