Tiga Remaja di Bima Diperkosa pada Malam Tahun Baru

Bima, IDN Times - UPT Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Kabupaten Bima Nusa Tenggara Barat (NTB) mencatat terjadi 3 kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur awal tahun 2024 atau pada malam tahun baru. Ketiganya masih remaja dan berstatus pelajar. Kasus pencabulan ini resmi dilaporkan oleh keluarga korban ke pihak kepolisian
"Ada tiga kasus pencabulan terhadap anak di bawah umur awal tahun ini," kata Kepala UPT PPA Kabupaten Bima, Muhammad Umar dikonfirmasi Rabu (3/1/2024).
1. Korban dicabuli pacar dan paman

Dua di antaranya kasus pencabulan terjadi di wilayah Kecamatan Parado dan satu lainnya di Kecamatan Woha. Para korban di Kecamatan Parado merupakan anak di bawah umur, masing-masing terduga pelaku adalah pacar korban dan paman yang mengasuh korban.
"Umum saja informasinya. Untuk detail seperti kronologi termasuk inisial bukan ranah kami yang sampaikan," kata Umar..
2. Korban akan diberikan pendampingan

Sementara di Kecamatan Woha, terduga pelakunya tidak lain adalah paman korban. Informasi yang dihimpun, pelaku mencabuli korban saat korban ditinggal pergi oleh adiknya yang merayakan pergantian tahun 2024 di luar rumah.
Akibat perbuatan terduga pelaku, rumah terduga pelaku inisial T (45) itu dirusak oleh keluarga dan warga setempat. Mereka menuntut agar pelaku ditangkap untuk mempertanggungjawabkan perbuatannya.
Umar memastikan, pihaknya bersama Peksos RI Kabupaten Bima akan terus memberikan pendampingan terhadap para korban. Tidak hanya memulihkan kejiwaan, tapi juga pendampingan proses hukum terhadap kasus yang mereka alami.
"Kami berikan pendampingan terhadap korban, termasuk edukasi keluarga mengenai pemulihan kejiwaan dari rasa trauma yang dialami korban," bebernya.
3. Lemahnya pengawasan orang tua

Menurut Umar, Kabupaten Bima di awal tahun 2024 ini darurat kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Hal ini terjadi akibat dari lemahnya pengawasan yang dilakukan oleh pihak orang tua.
"Karena saat sekarang ini, para orang tua sedang sibuk bercocok tanam di gunung. Jadi waktu mereka untuk mengawasi anaknya berkurang," tandasnya.



















