Wayang botol menjadi medium pembelajaran anak anak korban gempa di Lombok Utara IDN Times/Ahmad Viqi
Membuat wayang botol pun tidak sesulit wayang kulit pada umumnya. Abdul Latif Apriaman pendiri Yayasan Sekolah Pedalangan Wayang Sasak pun menjelaskan bahwa proses pembuatan wayang botol sangatlah sederhana.
Hanya bermodalkan benang, bambu, lem, lap ban dan botol bekas, dan kertas wayang botol bisa didesain sesuai dengan keinginan.
Sangat bermanfaat jika wayang yang dibuat dari botol plastik bekas berubah menjadi medium pemelajaran yang menyenangkan bagi anak-anak.
Adapun, nilai-nilai yang coba disampaikan kepada mereka, bisa hadir dalam bentuk permainan. Sebab seni pertunjukan yang mudah ditangkap melalui apa yang mereka rasakan dan mereka alami.
“Konsepnya tidak menggurui mereka,” ujar Latif.
Menurutnya, dengan wayang botol juga anak-anak bisa belajar berekspresi, menyampaikan pendapat mereka, dan melatih kepekaan kondisi lingkungan sekitar. Meraka juga bisa belajar bekerja sama.
“Karena pertunjukan wayang yang mereka mainkan memang membutuhkan kerja tim. Semua saling mendukung satu sama lainnya,” ulasnya.
Kaitan wayang botol dengan gempa bumi, lanjut Latif, bisa menjadi bagian dari proses trauma healing kepada anak-anak korban gempa di Desa Santong. Selain itu, anak-anak juga bisa mengambil pelajaran dari musibah gempa yang mereka alami tahun 2018 lalu.
"Kemudian menjadikannya sebuah cerita yang di dalamnya berisi pelajaran tentang mitigasi bencana,” terang Latif.
Pemilihan wayang botol sebagai medium pembelajaran, selain mudah diproduksi, bahan baku dari botol plastik bekas juga banyak dijumpai di lingkungan sekitar warga. Selain bisa dipakai untuk menyampaikan beragam pesan, wayang botol juga bisa jadi media kampanye penyelamatan lingkungan dari sampah plastik.
“Anak-anak mulai diajarkan sejak dini belajar bijak, bagaimana menyikapi sampah plastik di sekitar mereka,” ujarnya.