Rosidah penghuni rumah relokasi banjir. (IDN Times/Juliadin)
Tidak hanya itu saja, di lokasi setempat juga tidak dilengkapi dengan penyediaan tower jaringan internet. Tak ayal nyaris di semua kawasan tersebut, tidak tersentuh jaringan internet dan hanya ada di beberapa titik tertentu saja yang bisa dijangkau layanan tersebut.
Salah seorang penghuni rumah relokasi, Rosidah yang ditemui di lokasi mengeluhkan kekurangan air bersih. Air yang dialiri pemerintah dari gunung tidak berjalan maksimal, karena sering digunakan petani untuk pengairan lahan pertanian di sekitar wilayah setempat.
Mengatasi kondisi tersebut, selama ini ia bersama warga lainnya harus mengambil air dari rumah warga di luar kawasan Kadole dengan cara dialiri melalui selang. "Air dari gunung itu kadang datang kadang tidak. Itupun hanya bisa digunakan untuk mandi dan cuci pakaian," akunnya.
Praktis selama 2 tahun terakhir menghuni rumah setempat, mereka harus merogoh kocek membeli air minum ataupun untuk keperluan memasak. "Tinggal dihitung saja pengeluaran kami, pasti banyak karena sehari-hari harus beli air," keluh dia.
Karena itu, dengan penuh harap ia minta perhatian pemerintah agar bisa penuhi kebutuhan dasar tersebut dengan rutin mendistribusikan air agar kebutuhan mereka terpenuhi. Jika tidak, ia khawatir warga setempat beralih pindah ke kelurahan masing-masing.
"Bisa saja itu terjadi. Karena kami gak mau hidup susah tanpa air," ungkapnya