Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Buntut Relawan Gugur, Kemenkes Perketat Skrining Nakes Gempa NTT

Kota Kupang
Buntut Relawan Gugur, Kemenkes Perketat Skrining Nakes Gempa NTT
Tim solidaritas kemanusiaan NTB memberikan trauma healing kepada anak-anak korban gempa di Manggarai Timur, NTT. (dok. Istimewa)
  • Kemenkes memperketat skrining nakes pascawafatnya relawan Ahmad Zaki Ali: penugasan bergilir, usia di bawah 60 tahun, dan tanpa komorbid seperti diabetes atau penyakit jantung.
  • Sebagian besar rumah sakit terdampak kembali beroperasi, dengan RSUD Komodo Labuan Bajo dan RSUD Borong menjadi rujukan; RSUD Ruteng serta rumah sakit di Nagekeo rusak sehingga operasi tidak bisa digunakan.
  • Kemenkes mendirikan dua rumah sakit lapangan di Ruteng dan Nagekeo, mengerahkan EMT bersama Basarnas ke wilayah sulit, serta berkoordinasi memulihkan fasilitas, obat, alat kesehatan, dan layanan dasar.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Share Article

Kupang, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) memperketat skrining tenaga kesehatan (nakes) yang bertugas di daerah terdampak bencana gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) usai gugurnya relawan kemanusiaan, Ahmad Zaki Ali. Kemenkes bekerjasama dengan berbagai organisasi profesi seperti Palang Merah Indonesia (PMI), Satgas Ortopedi, Perhimpunan Dokter Spesialis Bedah Umum Indonesia, hingga organisasi profesi keperawatan dalam penanganan korban gempa NTT.

Untuk mencegah jatuhnya korban, Kemenkes memperketat skrining kesehatan ketat bagi nakes yang ditugaskan ke daerah berisiko tinggi. "Kemarin ada relawan yang meninggal. Sekarang kami akan skrining nakes-nakes yang berada di daerah sangat terdampak dan sangat sulit itu," kata Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK) Kemenkes, Dr. Sumarjaya dikonfirmasi IDN Times, Sabtu (22/8/2026).

  1. 1. Batasi usia nakes di bawah 60 tahun dan tidak punya penyakit komorbid

    IMG-20260817-WA0014.jpg
    Pelepasan tim solidaritas kemanusiaan NTB untuk korban gempa NTT, Minggu petang (16/8/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Sumarjaya menjelaskan pengiriman tenaga kesehatan ke daerah terdampak dilakukan secara bergilir untuk menjaga kondisi fisik para relawan. Selain itu, tenaga kesehatan yang dikirim dibatasi maksimal berusia di bawah 60 tahun.

    Kemudian tenaga kesehatan yang dikirim ke daerah terdampak gempa tidak memilki penyakit komorbid seperti diabetes melitus dan penyakit jantung. Dalam satu sampai dua hari ke depan, para relawan tenaga kesehatan itu akan didistribusikan ke daerah-daerah terdampak gempa cukup parah di NTT.

    "Kalau dia punya komorbid, nggak kita sarankan untuk ikut. Misalnya dia diabetes melitus, jantung, umur juga kita batasi. Jadi nggak bisa umur 60 tahun ke atas. Kita khawatir mereka di sana capek," jelas Sumarjaya.

  2. 2. Rumah sakit kembali beroperasi

    Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2
    Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Uni Lubis)

    Terkait kondisi infrastruktur layanan kesehatan, Sumarjaya mengatakan ​sebagian besar rumah sakit di wilayah terdampak telah kembali beroperasi, meski beberapa di antaranya baru berfungsi sebagian. RSUD Komodo Labuan Bajo dan RSUD Borong, Manggarai Timur kini menjadi rumah sakit rujukan.

    Sementara, RSUD Ruteng Manggarai dan Rumah Sakit di Nagekeo mengalami kerusakan struktur bangunan dan retakan parah, sehingga ruang operasi (OKA) tidak dapat digunakan. "Sebenarnya RSUD Ruteng juga tempat rujukan cuma memang bangunannya rusak maka kita mendirikan rumah sakit lapangan," kata dia.

  3. 3. Dirikan dua rumah sakit lapangan

    Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2
    Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Uni Lubis)

    Sumarjaya menambahkan, Kemenkes telah mendirikan dua rumah sakit lapangan di Ruteng dan Nagekeo. Dua rumah sakit lapangan itu dilengkapi tenda operasi steril agar tindakan bedah dapat langsung dilakukan di lapangan.

    "Pertama yang kita lakukan pemulihan layanan rumah sakit, karena semua rujukan ke rumah sakit. Karena rumah sakit menyangkut hidup dan mati seseorang. Jadi itu harus beroperasi, alhamdulilah sudah beroperasi," tambahnya.

    Dia mengatakan proses evakuasi dan pelayanan medis terus diperluas hingga ke wilayah sulit dijangkau, seperti kawasan pegunungan dan pesisir di Manggarai Timur. Tim Emergency Medical Team (EMT) diterjunkan langsung bersama Basarnas menggunakan jalur udara dan laut.

    ​Sementara itu, kata Sumarjaya, wilayah Sikka dan Ngada sudah relatif terkendali. Tenaga kesehatan di lapangan melakukan triase untuk memastikan seluruh korban di kawasan terdampak gempa bumi mendapatkan penanganan medis secara merata.

    "Kita menyisir korban, supaya bisa dirujuk semua. Kalau kuning dan hijau bisa dilayani di puskesmas, kita dirikan tenda bekerjasama dengan BNPB untuk puskesmas. Sedangkan. yang merah kita rujuk ke rumah sakit," tandasnya.

    Sebelumnya pada 15 Agustus 2026, Kemenkes mencatat dari 21 rumah sakit terdampak, sebanyak 16 rumah sakit masih beroperasi penuh, 4 rumah sakit beroperasi sebagian, dan 1 rumah sakit belum beroperasi. Sementara dari sisi kerusakan, tercatat 3 rumah sakit mengalami rusak berat, 6 rusak ringan, dan 12 rumah sakit tidak mengalami kerusakan struktur.

    Pada tingkat puskesmas, dari 190 fasilitas terdampak, sebanyak 122 puskesmas masih beroperasi penuh, 49 beroperasi sebagian, dan 19 belum dapat beroperasi. Kerusakan fisik tercatat pada 20 puskesmas rusak berat, 37 rusak sedang, dan 11 rusak ringan, sementara 116 puskesmas tidak mengalami kerusakan.

    Kemenkes berkoordinasi dengan Dinas Kesehatan Provinsi NTT, Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota, BNPB, dan Basarnas untuk mempercepat pemulihan layanan kesehatan, memastikan ketersediaan tenaga medis, serta memenuhi kebutuhan obat-obatan, alat kesehatan, dan sarana pendukung lainnya di wilayah terdampak.

    Langkah pemulihan dilakukan secara bertahap dengan memastikan layanan kesehatan dasar tetap berjalan, sekaligus membangun kembali kapasitas fasilitas kesehatan untuk menghadapi kebutuhan pelayanan yang berpotensi meningkat dalam beberapa hari ke depan.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More