Picu Banjir Bandang, Walhi NTB Catat 167 Ribu Ha Hutan di Bima Rusak

Mataram, IDN Times - Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) mengatakan penyebab banjir bandang yang menerjang wilayah Bima karena kerusakan hutan yang cukup parah. Dari 250 hektare kawasan hutan di Bima, sekitar 75 persen atau 167 ribu hektare dalam kondisi kritis.
"Kalau kita lihat sudah terjadi 167 ribu hektar yang mengalami kerusakan di kawasan hutan. Dari kawasan hutan yang sangat, agak kritis hingga kritis itu seluas 167 ribu hektare," sebut Direktur Eksekutif WALHI NTB Amri Nuryadin dikonfirmasi di Mataram, Selasa (4/2/2025).
1. Hutan dijadikan areal tanaman jagung

Amri mengatakan alihfungsi kawasan hutan menjadi areal tanaman jagung atau tanaman monokultur menjadi salah satu penyebab kerusakan hutan di Bima. Pengembangan tanaman jagung juga tak terlepas dari program pemerintah daerah hingga pemerintah pusat.
Selain itu, kawasan hutan di Bima juga rusak karena perambahan dan ilegal logging. Menurut Amri, aparat penegak hukum seharusnya melihat kerusakan hutan di Bima sebagai sesuatu yang tidak wajar. Jika kondisi ini tetap dibiarkan maka setiap tahun Bima akan dilanda banjir bandang.
"Seperti yang terjadi pada 2 Februari kemarin yaitu banjir bandang di kecamatan Wera. Ini yang harus menjadi perhatian pemerintah untuk kemudian melakukan pemulihan. Sehingga Walhi secara nasional bahkan di NTB juga menyuarakan agar terjadi pemulihan, recovery di kawasan hutan kita," ujarnya.
2. Setop perizinan di kawasan hutan

WALHI NTB juga mendesak agar pemerintah menyetop penerbitan izin di kawasan hutan. Pemda NTB diminta melakukan evaluasi menyeluruh dan recovery atas kerusakan hutan yang terjadi di wilayah paling timur Pulau Sumbawa tersebut.
"Program pemerintah meningkatkan produksi jagung itu yang kemudian harus dievaluasi oleh pemerintah. Ini kan sejak 2017, dengan konsep Pijar (sapi, jagung, dan rumput laut). Dilanjutkan juga dengan penanaman jagung menempatkan lahan kawasan jagung sangat luas di wilayah Bima, harus ada pembatasan," kata Amri.
Dia mengatakan bukan berarti jagung menjadi komoditi yang tidak penting bagi petani di Bima. Tetapi harus ada pembatasan, dan memperketat pengawasan kawasan yang boleh ditanami jagung.
"Kalau tidak ada pengawasan, kawasan hutan di sana malah bertambah kerusakannya untuk menjadi lahan jagung," tambahnya.
3. Wilayah lain di NTB juga terancam banjir bandang

Menurut Amri, bencana banjir bandang bukan saja menjadi ancaman di Bima tetapi juga wilayah lainnya di NTB. Termasuk wilayah Pulau Lombok, banyak kawasan hutan yang dijadikan lokasi pembangunan proyek.
"Jangan dilakukan pembangunan di kawasan hutan lagi. Sama seperti wilayah Sumbawa, khususnya pertambangan jangan melakukan zonasi pariwisata di kawasan hutan, itu tidak boleh dilakukan," katanya.
Banjir bandang yang melanda Kecamatan Wera Kabupaten Bima pada Minggu (2/2/2025) mengakibatkan tiga orang meninggal dunia dan lima warga masih hilang. Bencana banjir bandang menyebabkan 129 KK/387 jiwa terdampak.
Kepala Pelaksana BPBD NTB Ahmadi menyebutkan sebanyak 12 unit rumah rusak, 7 rumah panggung hanyut, 5 unit rumah rusak ringan dan tiga jembatan putus. Selain itu, seluas 33 hektare lahan pertanian rusak, warung, jalan terkikis, saluran drainase dan tanggul penahan banjir juga rusak.



















