Pendaftaran Mitra Ditutup, Waspada Penipuan Jual Beli Titik Dapur MBG

Mataram, IDN Times - Badan Gizi Nasional (BGN) meminta masyarakat Nusa Tenggara Barat (NTB) mewaspadai penipuan dengan modus jual beli titik dapur makan bergizi gratis (MBG). Saat ini, BGN sudah menutup pendaftaran mitra program MBG karena kuota kebutuhan SPPG telah terpenuhi.
"Memang ada oknum yang memperjualbelikan titik-titik dapur MBG, tidak usah diladeni yang seperti itu. Sekarang untuk mendapatkan titik (dapur MBG) sudah tidak mungkin, pendaftaran mitra sudah tutup. Jadi kalau ada yang menawarkan jangan dipercaya, sudah dipastikan ini penipuan," kata Juru Bicara BGN Dian Fatwa di kawasan wisata Senggigi, Lombok Barat, Jumat malam (13/3/2026).
1. Banyak tertipu ratusan juta

Dia mengungkapkan banyak masyarakat yang tertipu ratusan juta. Ada oknum yang menjanjikan titik pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di suatu wilayah dengan meminta uang ratusan juta.
Dia meminta masyarakat ikut mengawasi dan melaporkan apabila menemukan oknum yang memperjualbelikan titik dapur MBG. Karena saat ini sudah tidak ada lagi pendaftaran mitra program MBG atau pembangunan SPPG yang baru.
Saat ini, sudah ada 24.000 dapur MBG di seluruh Indonesia. Secara total, nantinya ada sebanyak 32.000 dapur MBG dan saat ini sekitar 8.000 dapur MBG dalam proses pembangunan.
2. Wajibkan SPPG libatkan minimal 15 UMKM

Dian menegaskan bahwa BGN berupaya memastikan program MBG tidak hanya memberikan manfaat gizi bagi penerima manfaat, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal di sekitar SPPG. Salah satu kebijakan yang diterapkan adalah mewajibkan setiap SPPG melibatkan minimal 15 UMKM atau supplier bahan pangan.
BGN memberikan peringatan kepada SPPG yang hanya mengunakan satu supplier atau pemasok bahan pangan. “Kita akan memberi surat peringatan kepada mitra yang hanya menggunakan satu supplier, minimal harus 15 supplier. Tidak boleh ada dominasi atau monopoli dari satu supplier,” tegasnya.
Kebijakan ini dilakukan untuk mencegah praktik monopoli dalam rantai pasok sekaligus membuka peluang bagi pelaku usaha lokal, koperasi, dan UMKM untuk terlibat dalam program MBG. Pihaknya mendorong UMKM yang dikelola ibu-ibu rumah tangga, agar dapat menjadi pemasok bahan pangan bagi dapur MBG.
“Kita ingin menggerakkan ekonomi lokal di sekitar dapur. Karena itu harus berhubungan dengan koperasi, pengusaha kecil, termasuk UMKM,” tandasnya.
3. Prioritaskan yayasan pendidikan jadi mitra

Dian menyampaikan pemerintah memprioritaskan yayasan pendidikan untuk menjadi mitra atau pengelola dapur MBG. Kebijakan ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto agar manfaat ekonomi dari program tersebut turut mendukung sektor pendidikan.
“Pak Prabowo melihat kalau mitranya hanya PT atau CV, yang menikmati keuntungan hanya perusahaan saja. Padahal kita ingin program ini juga memberi dampak sosial yang lebih luas,” kata dia.
Dengan melibatkan yayasan pendidikan, keuntungan dari pengelolaan dapur MBG diharapkan dapat membantu memperkuat keberlanjutan operasional lembaga pendidikan yang mereka kelola. Meski demikian, BGN tetap melakukan pengawasan terhadap pengelolaan dapur MBG agar tidak terjadi praktik penguasaan rantai pasok oleh pihak tertentu.
“Kita pantau dan awasi. Jangan sampai mitra juga jadi yayasan, lalu juga jadi supplier. Kalau tidak dipagari, bisa menambah kekayaannya sendiri,” terangnya.

















