Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Kenal di TikTok, Ini 3 Fakta Peyelundupan WNA China dan Uzbekistan di NTT

Kenal di TikTok, Ini 3 Fakta Peyelundupan WNA China dan Uzbekistan di NTT
WNA China dan Uzbekistan berakhir di Rote NTT usai tergiur perjalanan ke Australia via Tiktok. (Dok Polres Rote Ndao)
Intinya Sih
Timeline
Gini Kak
  • Polres Rote Ndao menggagalkan penyelundupan tujuh WNA asal China dan Uzbekistan di Pantai Masidae, Rote Ndao, yang diduga hendak menuju Australia menggunakan kapal tanpa nama.
  • Para korban mengaku tergiur tawaran kerja ke Australia melalui akun TikTok dan membayar hingga 400 dolar AS kepada pengurus yang diduga bagian dari jaringan penyelundupan manusia.
  • Empat WNI yang diduga pelaku utama masih diburu polisi, sementara koordinasi dengan Imigrasi dan TNI AL dilakukan untuk menelusuri kemungkinan jaringan penyelundupan internasional.
Disclaimer: This was created using Artificial Intelligence (AI)
Is this "Intinya Sih" helpful?

Kupang, IDN Times - Polres Rote Ndao kembali mengungkap kasus penyelundupan warga negara asing (WNA) asal China dan Uzbekistan yang diamankan di Pantai Masidae, Desa Inaoe, Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Selasa (24/2/2026).

Kapolres Rote Ndao AKBP Mardiono mengatakan penyelundupan ini dilaporkan setelah warga menemukan para imigran gelap ini di pesisir Pantai Masidae. Para imigran gelap ini pun telah mereka serahkan ke Kantor Imigrasi i Kelas I TPI Kupang, Jumat (13/3/2026).

“Ketujuh WNA diduga imigran gelap yang diamankan di Pantai Masidae, Desa Inaoe, Kecamatan Rote Selatan. Mereka mengaku terhasut dari akun Tiktok hingga membayar ratusan dollar," ujarnya.

Table of Content

1. Gunakan kapal ke Australia

1. Gunakan kapal ke Australia

IMG-20260315-WA0012.jpg
WNA China dan Uzbekistan berakhir di Rote NTT usai tergiur perjalanan ke Australia via Tiktok. (Dok Polres Rote Ndao)

Mardiono menyebut pihaknya juga menemukan satu unit kapal tanpa nama di pesisir laut Desa Inaoe yang diduga akan digunakan untuk menyelundup ke Australia.

Para imigran gelap ini, jelas dia, terdiri dari empat warga China yakni Hui Jie (40), Jiang Bo (58), Chen Yong (36), dan Dia Guozhong (51), serta tiga warga Uzbekistan yakni Kasimov (54), Sultanmoradov (22), dan Shodiev (24).

Chen Yong mengaku tiba di Jakarta pada 8 Januari 2026 dan menginap selama 23 hari di sebuah hotel lalu pergi ke Kendari, Sulawesi Tenggara, dan tinggal sekitar satu minggu sejak 3 Februari 2026. Ia mengaku ada warga Indonesia yang menyelundupkannya. Kemudian di 11 Februari 2026 tengah malam, mereka diberangkatkan dengan kapal menuju Australia selama delapan hari namun ditangkap otoritas perbatasan Australia. Mereka kemudian ditolak kembali ke wilayah Indonesia hingga mereka berakhir di wilayah Rote Ndao.

2. Komunikasi lewat aplikasi TikTok hingga bayar ratusan dolar

IMG-20260313-WA0056.jpg
WNA China dan Uzbekistan berakhir di Rote NTT usai tergiur perjalanan ke Australia via Tiktok. (Dok Polres Rote Ndao)

Dalam pengakuan mereka, ada akun TikTok yang menawarkan perjalanan ke Australia untuk bekerja lalu mereka pun berkomunikasi melalui media sosial tersebut. Namun mereka sudah tak diingat lagi nama akun TikTok tersebut.

Sementara WNA Uzbekistan, Shodiev, mengaku tiba di Jakarta dan melalui rute yang sama untuk ke Australia. Perjalanan itu ia lakukan setelah membayar sebesar 400 dolar AS per orang kepada pengurus yang diduga jaringan penyelundupan manusia.

Ia juga mengaku sempat melihat salah satu awak kapal melarikan diri sambil membawa telepon genggam sebelum kapal mereka tiba di perairan Rote Ndao. Sebelumnya mereka menyebut ada empat warga Indonesia yang tidak mereka kenali melarikan kabur ke hutan begitu mereka tiba di Rote.

3. Para pelaku yang diduga WNI sedang diburu

IMG-20260313-WA0054.jpg
WNA China dan Uzbekistan berakhir di Rote NTT usai tergiur perjalanan ke Australia via Tiktok. (Dok Polres Rote Ndao)

Mardiono menyebut tim gabungan Polres Rote Ndao dan Polsek Rote Selatan masih mencari keempat WNI yang diduga merupakan pelaku penyelundupan manusia (people smuggling).

“Personel kami melakukan pencarian di lapangan dan diharapkan peran serta masyarakat untuk mengungkap para terduga pelaku smuggler,” kata Mardiono.

Polisi juga berkoordinasi dengan instansi terkait, termasuk pihak Imigrasi dan TNI AL, untuk memastikan proses hukum berjalan sesuai ketentuan serta mengungkap kemungkinan adanya jaringan penyelundupan manusia internasional.

Share
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us

Latest News NTB

See More