Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
HP Dirampas usai Penembakan, KKB Teror Keluarga Wili Mbuik di NTT
Kelompok TPNPB-OPM yang mengaku bertanggung jawab atas penembakan pilot asal Amerika Serikat. (Dok. TPNPB-OPM)
  • Keluarga Wili Mbuik di Kupang dan Rote Ndao menerima teror video call berulang dari ponsel korban yang direbut TPNP-OPM setelah serangan di Kampung Muliama.
  • Dalam panggilan yang turut beredar di media sosial, anggota TPNP-OPM disebut mencemooh keluarga korban dengan gestur senjata dan jari tengah, memperdalam keresahan keluarga yang berduka.
  • Keluarga meminta aparat mengusut dan menangkap pelaku; TPNPB mengklaim bertanggung jawab atas penembakan tiga pegawai Pemkab Jayawijaya, sementara jenazah Wili dibawa ke Rote untuk dimakamkan.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
  • What?
    Keluarga Wili Mbuik menerima teror video call dari telepon genggam Wili yang disebut direbut TPNP-OPM setelah penembakan di Kampung Muliama. Panggilan berisi cemoohan dan gestur mengacungkan senjata serta jari tengah.
  • Who?
    Keluarga Wili Mbuik di Kupang dan Rote Ndao menjadi sasaran. Johanis Baba, paman Wili, meminta aparat mengusut serta menangkap pelaku. Juru bicara TPNPB Sebby Sambom mengklaim kelompoknya melakukan penembakan.
  • Where?
    Teror menyasar keluarga korban di Kupang dan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur. Penembakan sebelumnya terjadi di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan.
  • When?
    Penembakan terjadi Rabu, 9 September 2026. Johanis Baba melaporkan panggilan teror kembali diterima di Kupang pada Kamis pagi, 10 September 2026, dan menyampaikan keterangan pada malam harinya.
  • Why?
    TPNPB melalui Sebby Sambom menyatakan penembakan dilakukan karena wilayah tersebut mereka sebut sebagai wilayah perang. Keluarga meminta penanganan aparat karena teror terjadi saat mereka berduka atas kematian Wili.
  • How?
    Pelaku disebut menghubungi nomor-nomor yang tersimpan di ponsel Wili melalui video call. Ponsel itu disebut berada pada kelompok TPNP-OPM setelah serangan. Hingga saat ini belum ada keterangan resmi mengenai penanganan teror tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.
Keluarga Wili Mbuik mendapat panggilan video yang menakutkan dari ponselnya yang diambil setelah ia ditembak di Papua. Orang di Kupang dan Rote juga ditelepon dan diejek. Keluarganya sedih dan minta aparat menangkap pelaku. Jenazah Wili sudah dibawa ke Rote untuk dimakamkan. Kelompok OPM bilang mereka melakukan penembakan itu. Ponselnya kini tidak aktif.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Duka yang dialami keluarga Wili Mbuik kini diperparah oleh rentetan teror. Keluarga korban diteror oleh Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang menyebut dirinya Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat-Organisasi Papua Merdeka (TPNP-OPM) . Keluarga korban yang berada di Kupang dan Rote Ndao, Nusa Tenggara Timur (NTT), dilaporkan berulang kali menerima ancaman melalui panggilan video (video call).

Teror tersebut dilakukan oleh kelompok bersenjata itu menggunakan telepon seluler milik Wili. Ponsel tersebut dirampas oleh para pelaku seusai melancarkan serangan berdarah di Kampung Muliama, Distrik Muliama, Kabupaten Jayawijaya, Papua Pegunungan, pada Rabu (9/9/2026).

Wili Mbuik sendiri merupakan putri daerah asal Rote yang tengah merantau untuk mengabdi. Ia adalah pegawai di Dinas Pertanian Kabupaten Jayawijaya yang baru beberapa bulan dinyatakan lolos seleksi dan bertugas di wilayah tersebut.

1. Mencemooh keluarga

Tangkapan layar anggota OPM menggunakan handphone korban dan menunjukkan senjata. (Dok Istimewa)

Menghadapi situasi mencekam di tengah suasana duka, pihak keluarga mendesak aparat keamanan untuk segera turun tangan. Johanis Baba, paman kandung Wili, menyampaikan bahwa rentetan teror tersebut telah memicu keresahan mendalam bagi keluarga yang masih meratapi kepergian putri mereka.

"Kami serahkan kepada aparat sehingga jangan ada teror-teror lagi karena ada beberapa teror. Pertama teror ke Rote. Di sini juga kena teror tadi pagi. Lewat video call. Itu yang pegang hpnya almarhum ini," ungkapnya, Kamis malam (10/9/2026).

Lebih mirisnya lagi, aksi teror tersebut kini turut beredar luas di media sosial. Dalam tayangan yang beredar, tampak anggota TPNP-OPM secara sengaja mencemooh dan mengolok-olok keluarga korban. Mereka juga memamerkan gestur intimidatif yang tidak pantas, seperti mengacungkan senjata api dan jari tengah ke arah kamera.

Menurut Johanis, para pelaku sengaja mencari sasaran dengan cara menghubungi nomor-nomor kontak keluarga yang tersimpan di dalam ponsel keponakannya tersebut.

"Pelaku menelepon nomor-nomor yang ada di handphone almarhumah. Namun, saat ini sepertinya nomor tersebut sudah tidak aktif lagi," pungkasnya.

2. Minta aparat tangkap pelaku

Johanis, paman korban menyayangkan tragedi penembakan terhadap ponakannya. (IDN Times/Putra Bali Mula)

Wili sendiri telah dibawa ke Rote dengan penyeberangan laut setelah tiba di Bandara El Tari Kupang usai penerbangan panjang dari Wamena. Proses pemakaman selanjutnya akan dilakukan oleh keluarga kandung Wili di Rote.

Johanis sendiri dalam keterangannya menyebut keluarga sangat sedih bercampur kecewa atas kepergian anak mereka dalam tugasnya saat mengabdi untuk negara. Pihak keluarga meminta aparat menegakkan keadilan bagi mereka dan menghukum para pelaku yang telah membunuh dan meneror mereka.

"Saya mewakili keluarga sebagai om kandung sangat sedih dan sangat kecewa dengan kejadian ini. Kami sangat kehilangan. Kami minta aparat mengusut tuntas dan menangkap pelaku yang telah melakukan hal ini," ungkapnya.

3. Penembakan itu diakui OPM

Juru bicara TPNPB OPM Sebby Sambom. (Dok TPNPB OPM)

Sebelumnya, Juru Bicara TPNPB, Sebby Sambom, secara terbuka mengklaim bahwa penembakan yang menewaskan tiga pegawai Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Jayawijaya tersebut adalah ulah kelompoknya.

Melalui sebuah video yang beredar luas di media sosial, Sebby melontarkan ancaman keras. Ia menegaskan larangan bagi warga non-Papua untuk beraktivitas di wilayah yang mereka klaim sebagai zona perang.

"Kami tegaskan, saya ulangi, bahwa di wilayah perang ini orang Indonesia tidak diizinkan masuk dan beroperasi. Entah itu dengan alasan pelayanan gereja, kesehatan, pendidikan, pertanian, dan segala macamnya, dilarang masuk!" serunya.

Terkait insiden mematikan tersebut, Sebby berdalih bahwa ketiga korban ditembak lantaran berusaha melarikan diri, sementara beberapa orang lainnya dilaporkan bersedia untuk diperiksa. Lebih jauh, berdasarkan laporan dari pasukannya di lapangan, pihak TPNPB menuding korban termuda dalam insiden itu merupakan agen intelijen asal Jakarta.

"Oleh karena itu, siapa pun orang imigran atau orang asli Papua yang menjadi kaki tangan militer Indonesia atau agen TNI-Polri, wajib dibersihkan," ancam Sebby.

Curated For You

Editorial Team

Related Article