Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
For
You

Harga Bawang Merah di Bima Anjlok sedangkan Beras Melonjak

Harga Bawang Merah di Bima Anjlok sedangkan Beras Melonjak
Foto Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima, Tafsir Amajid (IDN Times/Juliadin)

Kota Bima, IDN Times - Harga beras di Kota Bima Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) melonjak jadi Rp15 ribu per kilogram. Sementara harga komoditas bawang merah justru anjlok menjadi Rp10 ribu per kilogram.

Kondisi harga dua komoditas ini telah berlangsung sejak satu bulan terakhir. Hal ini dikarenakan dipicu sejumlah faktor, untuk bawang merah lantaran pengaruh bersamaan panen raya.

"Harga bawang turun, karena produksinya banyak," kata Kepala Dinas Koperasi Perindustrian dan Perdagangan (Diskoperindag) Kota Bima Tafsir Amajid dikonfirmasi Kamis (18/10/2023).

1. Stok beras kurang

Foto pedagang beras di Pasar Paruga Kota Bima, (IDN Times/Juliadin)
Foto pedagang beras di Pasar Paruga Kota Bima, (IDN Times/Juliadin)

Menurut Tafsir, kenaikan harga beras saat ini karena stok yang berkurang lantaran lahan pertanian menyusut setiap tahunnya. Sehingga berdampak pada kekurangan hasil produksi beras pada setiap kali panen raya.

Dalam mengatasi kekurangan stok, selama ini Pemkot Bima hanya mengandalkan pasokan dari luar daerah. Misalnya dari Kabupaten Bima, Dompu, hingga Sumbawa.

"Naik turun harga begini itu sudah jadi hukum pasar. Tergantung tingkat produksi, jika kurang produksi beras misalnya, maka otomatis harganya naik. Begitu pun sebaliknya," terang dia.

2. Pemkot Bima akan gelar pasar murah di 41 kelurahan

Ilustrasi. Warga membawa sembako yang dibeli di Pasar Murah di Gedung Serbaguna Pemprov Sumut pada Ramadan tahun lalu (Mirza Baihaqie for IDN Times)
Ilustrasi. Warga membawa sembako yang dibeli di Pasar Murah di Gedung Serbaguna Pemprov Sumut pada Ramadan tahun lalu (Mirza Baihaqie for IDN Times)

Dengan kondisi itu, Pemkot Bima tidak bisa berbuat banyak dalam menekan harga beras. Meski begitu, ia imbau para pedagang agar tidak menjual beras dengan harga yang terlampau tinggi. "Boleh naikan harga, tapi jangan berlebihan yang dapat membebankan masyarakat," imbaunya.

Guna meringankan beban masyarakat, saat ini Pemkot Bima hanya bisa gelar pasar murah dan sejumlah kegiatan lain. Bahkan pasar murah ini rencananya akan digelar di 41 kelurahan hingga pada akhir tahun 2023 nanti.

"Sebagian kelurahan sudah kita sisir. Lima di antaranya, Kelurahan Sadia, Ntobo, Santi, Rite dan Penaraga," terang mantan Kepala Disnaker Kota Bima.

3. Harga kebutuhan lain stabil

Foto pedagang saat menjajakan dagangannya di Pasar Paruga Kota Bima, (IDN Times/Juliadin)
Foto pedagang saat menjajakan dagangannya di Pasar Paruga Kota Bima, (IDN Times/Juliadin)

Tafsir mengatakan, pasar murah digelar sebagai langkah nyata Pemkot Bima guna meringankan pengeluaran masyarakat. Terutama bagi masyarakat yang ekonomi menengah ke bawah.

"Tujuan kami untuk bantu masyarakat, karena pada pasar murah sejumlah kebutuhan dijual dibawa harga pasar," terangnya.

Misalnya, untuk harga beras dijual Rp10.400 per kilogram. Dari harga pasar Rp15 ribu per kilogram. Demikian juga dengan kebutuhan lain seperti terigu, minyak goreng dan lain sebagainya.

"Harganya lebih murah dibandingkan dengan harga pasar. Karena harganya murah, kadang 1 warga sampai beli 30 kilogram beras," jelasnya.

Sementara itu, disinggung harga kebutuhan lain seperti cabai, gula dan sayur- sayuran diakui masih terpantau stabil. Kalaupun naik ataupun turun, tidak begitu terpaut jauh dari harga normal.

"Masih stabil kalau untuk kebutuhan lain," tandas Tafsir.

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Juliadin JD
Sri Gunawan Wibisono
Juliadin JD
EditorJuliadin JD
Follow Us

Latest News NTB

See More

Dua Lurah di Kupang Dianiaya usai Digrebek Berduaan

05 Apr 2026, 15:35 WIBNews