Gubernur NTT Kesal, Ada ASN Protes Kebijakan Belanja Rp100 Ribu di NTT Mart

- Gubernur NTT Melki menegur ASN yang menolak kebijakan wajib belanja Rp100 ribu di NTT Mart, setelah video kekesalannya viral di media sosial.
- Kebijakan ini bertujuan mendukung ekonomi lokal melalui pembelian produk UMKM di NTT Mart, yang juga menjadi bagian dari program penguatan industri kreatif daerah.
- Melki dan wakilnya mengaku rutin berbelanja jutaan rupiah di NTT Mart, menegaskan komitmen mereka terhadap gerakan belanja produk lokal tersebut.
Kupang, IDN Times - Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT) mengungkapkan kekesalannya pada aparatur sipil negara (ASN) yang tak mau berbelanja Rp100 ribu di NTT Mart. Melki mengungkapkan ini pada saat memimpin upacara Senin pagi (23/2/2026).
Pernyataan Melki ini juga beredar di media sosial (medsos) setelah video kekesalan itu diunggah melalui media sosial TikTok miliknya, @melkilakalena.official. Video mendapatkan ragam komentar sejak diunggah Rabu (25/2/2026).
"Besok saya tidak mau dengar lagi ASN omong sana-sini. Itu saya dapat saya pasti eksekusi," tandas Melki dalam video tersebut.
1. Canangkan belanja Rp100 ribu

Melki sebelumnya mencanangkan agar seluruh ASN lingkup Pemprov NTT mengalokasikan Rp100 ribu guna berbelanja di NTT Mart, pusat perbelanjaan industri kreatif yang digagasnya setahun belakangan.
"Saya baca di medsos atau yang berkembang di kalangan ASN Pemprov NTT ini yang mengeluh ada kalau ada edaran Rp 100 ribu wajib belanja di NTT Mart," ungkap Melki.
Ia membandingkan ASN ini dengan anak SD di Alor yang memuji kehadiran NTT Mart. Menurutnya, keuntungan dari belanja itu akan masuk ke daerah bukan untuk kepentingan pribadi siapapun apalagi miliknya.
"Anak SD saja masih lebih tau daripada ASN yang mengeluh ini. Rp 100 ribu ini nanti dibeli dan dimakan oleh kita juga. Itu bukan kami suruh beli untuk masuk kami punya kantong," tandas lagi.
2. Sudah berbelanja hingga jutaan rupiah

Melki mengaku ia dan Wakil Gubernur NTT Johni Asadoma sendiri turut berbelanja di NTT Mart hingga jutaan rupiah per bulan.
"Kami jutaan per bulan karena kami kebutuhannya banyak di rumah jabatan, belum lagi kantor, bawa lagi oleh-oleh di sana-sini, jadi kami pasti beli," sebutnya.
Ia menekankan kebijakan berbelanja Rp100 ribu memang belum total diterapkan namun diharapkannya tidak ada lagi protes soal ini.
"Ini belum jalan sekarang ya, kalau sudah jalan juga kita jangan mengeluh. cara kita bantu ekonomi rakyat. Saya tidak mau dengar lagi ada ASN yang omong di sana-sini. Saya dapat itu saya pasti eksekusi," tandasnya.
3. Heran ASN ribut saat dipuji anak SD

Melki sebelumnya mengungkap adanya seorang anak SD yang memuji NTT Mart namun ia heran ASN sendiri yang ribut dan berkeberatan membantu ekonomi masyarakat.
"Ini program bagus, anak SD pun apresiasi, ASN sendiri malah ribut. Jadi saya kira pimpinan OPD, kepala bidang, kepala seksi, tolong itu ditertibkan. Jangan sampai anak SD lebih pinta dari kita punya ASN," tukas Melki lagi.
NTT Mart sendiri merupakan inisiatif strategisnya dalam mendukung UMKM dan industri kreatif lokal agar Program ini bertujuan memperkuat rantai pasok produk daerah dari desa hingga pasar modern, sekaligus memutus rantai kemiskinan melalui pemasaran yang efisien.
Melki memanfaatkan NTT Mart guna mendukung programnya, One Village One Product (OVOP), One School One Product (OSOP), dan One Community One Product (OCOP). guna memuliakan produksi lokal seperti kriya, fesyen, dan kuliner.
Jumlah gerai NTT Mart mencapai 20 unit, tersebar di berbagai kabupaten/kota seperti Flores Timur, Lembata, Manggarai, dan lainnya, setelah penambahan dua gerai baru pada 5 Februari 2026. Sebelumnya pada awal Februari tercatat 18 gerai, menunjukkan ekspansi cepat dari 9 gerai pada Desember 2025.


















