Faktor Cuaca, Kemenkes Ungkap Balita di Nagekeo Meninggal karena Kedinginan

- Kemenkes menegaskan balita 2 tahun Mario Calviano Guru di Nagekeo meninggal akibat kedinginan dan cuaca saat sakit, bukan tertimpa reruntuhan gempa.
- Gempa magnitudo 7,7 di NTT telah menewaskan 83 orang, melukai 976 orang, dan memaksa 110.785 warga mengungsi hingga 21 Agustus 2026.
- Kemenkes dan Basarnas mengerahkan EMT Mobile ke wilayah sulit; korban berat dirujuk ke RSUD Borong atau RSUD Komodo, sementara 29 puskesmas Manggarai Timur telah disisir.
Kupang, IDN Times - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengungkap penyebab balita berusia 2 tahun bernama Mario Calviano Guru meninggal dunia pada Kamis (20/8/2026). Direktur Surveilans dan Karantina Kesehatan (SKK) Kemenkes, Dr. Sumarjaya, mengatakan balita tersebut meninggal bukan karena tertimpa reruntuhan bangunan akibat gempa bumi.
Dia menjelaskan balita asal Nagekeo itu meninggal dunia karena kedinginan akibat faktor cuaca. "Itu perlu diklarifikasi, itu bukan karena bangunan runtuh tapi karena faktor kedinginan dan cuaca. Karena dia sakit, jadi bukan karena faktor kena gempa," kata Sumarjaya dikonfirmasi IDN Times, Sabtu (22/8/2026).
1. Beberapa bayi dirujuk ke RSUD Aeramo Nagekeo

Mario Calviano Guru saat mendapatkan perawatan medis di lokasi pengungsian Nagekeo, NTT. (IDN Times/Uni Lubis) Nagekeo merupakan salah satu wilayah terdampak parah gempa magnitudo 7,7. BNPB mencatat hingga Jumat (21/8/2026) pukul 17.00 WITA, korban gempa NTT yang meninggal dunia sebanyak 83 orang, 976 luka-luka dan 110.785 orang mengungsi.
Sumarjaya mengatakan pihaknya belum memiliki data jumlah bayi yang menjadi korban. Data yang ada saat ini masih bersifat umum terkait korban yang mengalami luka berat dan luka ringan. Namun, dia menyebutkan ada beberapa bayi yang dirujuk ke RSUD Asramo Nagekeo.
Dia menjelaskan tim kesehatan bukan hanya menangani trauma korban gempa tetapi juga menangani pasien komorbid. "Artinya belum punya data yang bayi, belum kita hitung seperti itu. Tapi kita utamakan lebih kepada penanganan trauma korban gempa. Beberapa bayi sebenarnya sudah dirujuk juga ke rumah sakit di Nagekeo," jelasnya.
2. Terjunkan EMT Mobile jangkau korban gempa di daerah medan sulit

Tim Kesehatan saat memeriksa kondisi pengungsi di Manggarai Barat. (Dok. Dinkes Manggarai Barat) Pihaknya bekerja sama dengan Basarnas untuk menjangkau korban gempa yang berada di daerah yang sulit dijangkau di Nagekeo dengan menerjunkan Emergency Medical Team (EMT) Mobile. EMT Mobile merupakan tenaga kesehatan tahan banting yang siap menjangkau medan sulit.
Dia mengungkapkan EMT Mobile menjangkau korban gempa di daerah perbukitan dan pelosok. Petugas EMT Mobile melakukan penelusuran dan penyisiran korban gempa. Tantangan yang dihadapi di lapangan, banyak masyarakat yang tidak mau berobat dan lebih memilih pergi ke dukun.
"Jadi kita memang memberikan edukasi dan memberikan pertolongan. Kita triase, ada warna merah, kuning dan hijau. Untuk warna merah kita lakukan evakuasi ke rumah sakit. Sedangkan warga kuning dan hijau dibawa ke Puskesmas," tuturnya.
3. Korban luka berat dirujuk ke RSUD Borong dan RSUD Komodo

Kemenkes RI mendirikan dua Rumah Sakit (RS) Lapangan di RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai, dan RSUD Aeramo, Kabupaten Nagekeo, Selasa (18/8/2026). (IDN Times/Uni Lubis) Dia menjelaskan petugas EMT Mobile terdiri dari dokter, perawat dan ahli farmasi. Ketika korban yang ditemukan harus ditangani lebih lanjut maka akan dirujuk ke RSUD Borong Manggarai Timur dan RSUD Komodo Labuan Bajo.
Untuk korban yang dirujuk ke RSUD Borong dibawa menggunakan jalur darat, sedangkan bagi yang dirujuk ke RSUD Labuan Bajo dibawa menggunakan helikopter bekerjasama dengan Basarnas.
"Kemarin ada juga beberapa bayi yang sudah mendapatkan penanganan, yang (sebelumnya) belum mendapatkan makanan dan pemeriksaan juga. Kita bekerjasama juga dengan relawan saling bahu membahu, khususnya kemarin ada ibu hamil dan juga bayi," terangnya.
Medan yang sulit ditambah gempa susulan yang terus menerus terjadi menjadi tantangan tersendiri bagi petugas kesehatan. Sebanyak 29 puskesmas di Manggarai Timur sudah dilakukan penyisiran.
Puskesmas yang terdampak paling parah berada di Dampek. Pihaknya bekerjasama dengan Basarnas untuk memobilisasi tenaga kesehatan ke lokasi selama lima hari terakhir.


















