Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
Install

Detik-detik Tokoh Agama NTB Wafat saat Pimpin Doa di Kongres Bahasa Sasak

Kota Mataram
4 min read
Detik-detik Tokoh Agama NTB Wafat saat Pimpin Doa di Kongres Bahasa Sasak
Tokoh agama NTB, TGH. Lalu Nurudin Marzuki wafat usai memimpin pembacaan doa pada pembukaan Kongres Internasional Bahasa Sasak, Rabu (28/10/2026). (dok. Istimewa)
  • Tokoh agama NTB TGH. Lalu Nurudin Marzuki wafat setelah memimpin doa pembukaan Kongres Internasional Bahasa Sasak di Mataram; ia sempat dibawa ke RS Unram.
  • Kongres hingga 30 Oktober 2026 menjadi forum pelestarian bahasa dan budaya Sasak, dengan dorongan pengajaran dari keluarga hingga pendidikan formal serta kolaborasi berbagai pihak.
  • Majelis Adat Sasak meminta bahasa Sasak dikembangkan sebagai bahasa pendidikan, ilmu pengetahuan, dan nilai keagamaan, sekaligus mendokumentasikan kosakata klasik yang mulai hilang di kalangan muda.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Mataram, IDN Times - Suasana duka menyelimuti Kongres Internasional Bahasa Sasak di Aula Kantor Badan Pengembangan Sumber Daya Manusia Daerah (BPSDMD) NTB, Rabu (28/10/2026) pagi. Tokoh agama NTB, TGH. Lalu Nurudin Marzuki wafat usai memimpin pembacaan doa pada pembukaan Kongres Internasional Bahasa Sasak yang digelar Majelis Adat Sasak (MAS) tersebut.

Salah seorang tokoh adat Sasak yang menjadi peserta kongres, Ihsan Karyawan Amin menceritakan detik-detik almarhum jatuh di podium usai membaca doa. "Beliau wafat usai memimpin doa. Pas doa berakhir, beliau langsung rebah di podium," kata Ihsan dikonfirmasi IDN Times di lokasi acara, Rabu (28/10/2026).

  1. 1. Sempat dibawa ke RS Unram

    IMG-20261028-WA0027.jpg
    Tokoh Adat Sasak, Ihsan Karyawan Amin. (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Setelah jatuh pingsan di podium, almarhum selanjutnya dibawa ke Rumah Sakit Universitas Mataram (RS Unram) yang lokasinya tidak jauh dari lokasi acara. Namun, almarhum dinyatakan sudah meninggal dunia.

    Dari awal acara, kata dia, almarhum terlihat sehat. Almarhum merupakan sosok yang tawaduk dan aktif di Majelis Adat Sasak. "Beliau sehat, tapi selesai baca doa langsung jatuh di podium. Kemudian langsung dibawa ke RS Unram, tapi sudah dinyatakan meninggal dunia," kata dia.

    Ihsan mengatakan Majelis Adat Sasak mengucapkan belasungkawa yang mendalam atas wafatnya almarhum. "Beliau seorang yang sangat tawaduk, tidak pernah menonjolkan diri, orang yang sangat sederhana. MAS mengucapkan belasungkawa yang mendalam atas meninggalnya beliau," kata dia.

  2. 2. Memperkuat pelestarian bahasa dan budaya Sasak

    IMG-20261028-WA0025.jpg
    Kongres Internasional Bahasa Sasak, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Kongres Internasional Bahasa Sasak dibuka Wakil Gubernur NTB Indah Dhamayanti Putri. Kongres yang dijadwalkan berlangsung hingga 30 Oktober 2026 itu kata Indah menjadi momentum krusial untuk memperkuat langkah pelestarian bahasa dan warisan budaya Sasak secara komprehensif.

    Indah mengatakan penyelenggaraan kongres bertaraf internasional ini merupakan sebuah kehormatan sekaligus kebanggaan tersendiri bagi Pemprov NTB. Dia berharap forum ilmiah ini mampu mempertemukan gagasan dari berbagai kalangan serta melahirkan rumusan strategis mengenai standardisasi dan penguatan penggunaan bahasa Sasak ke depan.

    Menurutnya, gerakan pelestarian bahasa ibu harus dimulai dari unit terkecil, yakni lingkungan keluarga, dan diperkuat secara sistematis melalui jalur pendidikan formal. Mulai dari tingkat sekolah dasar, menengah, hingga perguruan tinggi termasuk lewat integrasi dalam kurikulum muatan lokal.

    "Sebagai orang tua, kita semua memiliki tanggung jawab untuk mengajarkan adat dan budaya, khususnya budaya Sasak di Pulau Lombok, kepada generasi penerus," kata Indah.

    Dia menegaskan bahwa bahasa bukan sekadar instrumen komunikasi transaksional semata, melainkan fondasi utama pembentukan identitas dan kekayaan peradaban suatu masyarakat. Oleh karena itu, menjaga eksistensi bahasa Sasak merupakan tanggung jawab kolektif yang menuntut sinergi erat antara keluarga, institusi pendidikan, tokoh adat, akademisi, serta pemerintah daerah.

    "Bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai budayanya. Mari kita jaga bahasa Sasak, kita rawat budayanya, kita majukan masyarakatnya, dan kita bawa identitas Sasak berdiri sejajar dengan peradaban dunia," ujarnya.

    Indah menilai bahwa kebudayaan dan bahasa lokal memiliki daya dorong yang kuat untuk menjelma sebagai kekuatan ekonomi kreatif serta diplomasi daerah. Sehingga memberikan nilai tambah bagi kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkenalkan identitas NTB di kancah nasional maupun global.

  3. 3. Bahasa Sasak tidak sebatas bahasa pergaulan

    IMG-20261028-WA0026.jpg
    Kongres Internasional Bahasa Sasak, Rabu (28/10/2026). (IDN Times/Muhammad Nasir)

    Sementara itu, Pengraksa Agung Majelis Adat Sasak (MAS), Lalu Sajim Sastrawan, menekankan urgensi menempatkan bahasa Sasak tidak sebatas sebagai bahasa pergaulan informal sehari-hari. Melainkan juga dielevasi menjadi bahasa pengantar pendidikan, ilmu pengetahuan, serta media penyebaran nilai-nilai luhur keagamaan.

    Sajim menegaskan bahwa penguatan posisi bahasa Sasak membutuhkan komitmen lintas sektoral agar bahasa daerah tersebut tidak mengalami degradasi fungsi, melainkan terus berkembang menjadi materi pembelajaran formal yang hidup di sekolah-sekolah.

    "Kita ingin bahasa Sasak ini menjadi bahasa yang diajarkan, dipelajari, dan dikembangkan di sekolah hingga perguruan tinggi. Karena itu, kami berharap ada kesepakatan dan kerja sama dengan pemerintah daerah serta perguruan tinggi untuk memberikan ruang yang lebih luas bagi bahasa Sasak," ujarnya.

    Sajim menyoroti tantangan hilangnya sejumlah kosakata klasik bahasa Sasak di kalangan generasi muda akibat arus modernisasi. Hal ini menjadi pekerjaan rumah bersama untuk mendokumentasikan, merevitalisasi, dan mengajarkan kembali kekayaan leksikon tersebut kepada anak cucu.

    Kongres Internasional Bahasa Sasak ini diharapkan mampu menghasilkan rekomendasi taktis yang aplikatif, tidak berhenti pada tataran diskusi konseptual, melainkan diterjemahkan ke dalam program pendidikan nyata dan kerja sama antarlembaga.

Share Article
Editorial Team

Related Articles

See More