Anggota DPRD NTB menemui massa aksi. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Perwakilan Aliansi Mahasiswa dan Rakyat NTB Ahmad Badawi menyampaikan tujuh tuntutan kepada pemerintah. Pertama, meninjau kembali Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 2025, kembalikan anggaran pendidikan dan kesehatan ke pagu awal.
Kemudian naikkan anggaran pendidikan, terutama dana operasional PTN, PTN-BH, PTS, dan beasiswa. Selain itu, mahasiswa juga menuntut perluasan akses pendidikan tinggi kepada anak kelas buruh dan kaum tani yang selama ini dihalangi biaya pendidikan yang tinggi.
Selanjutnya, hadirkan sarana-prasarana pendidikan berkualitas, buka seluas-luasnya demokrasi, dan selesaikan masalah kekerasan seksual dalam dunia pendidikan.
Kedua, menolak program makan bergizi gratis karena menghabiskan banyak anggaran. Ketiga, hentikan pembahasan RUU Sisdiknas, hentikan transformasi PTN-BLU menjadi PTN BH, cabut UU PT, Permendikbudristek Nomor 2 tahun 2024 dan semua peraturan turunan yang melanggengkan liberalisasi, komersialisasi dan privatisasi pendidikan.
Keempat, kata Badawi, mahasiswa menuntut agar pemerintah menjamin kesejahteraan guru, dosen, dan tenaga kependidikan dengan upah dan tunjangan layak, serta jaminan kerja.
Kelima, hentikan pelibatan aparat bersenjata dalam ruang sipil. Tolak militerisasi melalui pembangunan Kodam baru dan peningkatan anggaran militer dan kepolisian, yang akan digunakan untuk melancarkan perampasan tanah rakyat.
Keenam, wujudkan pendidikan yang ilmiah, demokratis, bervisi kerakyatan dan mengabdi pada rakyat. Terakhir, wujudkan reforma agraria sejati dan indutrialisasi nasioanal.