Kepala Dikes NTB dr Lalu Hamzi Fikri. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) NTB dr. Lalu Hamzi Fikri memastikan bahwa hingga saat ini belum ada penyakit virus Nipah yang tercatat di Indonesia, termasuk NTB. Virus Nipah merupakan penyakit zoonosis yang disebabkan oleh virus Nipah dari genus Henipavirus dan famili Paramyxoviridae, dengan tingkat kematian yang cukup tinggi, yaitu berkisar antara 40 hingga 75 persen.
Meskipun belum ditemukan kasus di Indonesia, kewaspadaan tetap perlu ditingkatkan. Untuk itu, kata Fikri, Pemprov NTB menetapkan prinsip tenang namun waspada, mengingatkan masyarakat untuk tidak panik, namun pemerintah juga tetap meningkatkan kesiapsiagaan melalui penguatan surveilans, deteksi dini, dan respons cepat apabila ditemukan kasus suspek.
Fikri menjelaskan, penularan virus Nipah dapat terjadi melalui kontak langsung dengan hewan yang terinfeksi, baik hewan liar maupun domestik, termasuk paparan ekskresi dan sekresi hewan. Selain itu, penularan juga dapat terjadi melalui kontak langsung dengan orang yang terinfeksi melalui cairan tubuhnya, seperti droplet, urin, dan darah, serta kontak tidak langsung dengan benda atau makanan yang terkontaminasi virus.
Masa inkubasi penyakit ini umumnya berlangsung selama 4 hingga 14 hari, dengan gejala awal berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, muntah, dan nyeri tenggorokan. Pada kondisi tertentu, gejala dapat berkembang menjadi pusing, mengantuk berlebihan, penurunan kesadaran, serta munculnya tanda-tanda gangguan neurologis yang mengarah pada ensefalitis akut.