Bupati TTU : Oknum DPRD pada Kasus dr. Icha Sering Mabuk dan Buat Onar

- Bupati TTU Yosep Falentinus menyoroti oknum DPRD yang sering mabuk dan membuat onar, termasuk dalam kasus intimidasi terhadap dr. Icha hingga meninggal dunia.
- Pemerintah Daerah TTU menyatakan dukungan penuh kepada keluarga dr. Icha untuk memperjuangkan keadilan serta mengungkap kelemahan pelayanan kesehatan yang terkuak dari kasus ini.
- Bupati Falent khawatir kasus tersebut menurunkan minat dokter dan tenaga kesehatan untuk bertugas di TTU, yang saat ini sudah mengalami kekurangan tenaga medis.
Kupang, IDN Times - Bupati Timor Tengah Utara (TTU), Yosep Falentinus Delasalle Kebo menyinggung adanya oknum anggota DPRD yang kerap mabuk dan membuat onar saat menjalankan kegiatan reses. Ia menyampaikan hal itu ketika melayat ke rumah duka dr. Icha, Sabtu (27/6/2026), yang meninggal dunia setelah diduga mengalami intimidasi dari sejumlah anggota DPRD TTU.
Sebelumnya, sejumlah saksi yang berada di ruang IGD saat peristiwa berlangsung menyebut dua anggota DPRD TTU, yakni Therensius Lazakar dari Golkar dan Norbertus Tubani dari PKB, tercium mengeluarkan bau minuman keras (miras). Keterangan tersebut muncul sebagai bagian dari kesaksian para saksi yang berada di lokasi kejadian.
1. Jadi preseden buruk bagi DPRD TTU

Bupati Falent menyinggung adanya seorang oknum yang sama dalam kasus dr. Icha ini punya kebiasaan minum minuman keras (miras) atau mabuk.
"Dari kejadian yang sama juga, ada oknum yang sebelum dan sesudah reses itu melakukan kekacauan oleh karena pengaruh alkohol," katanya.
Kebiasaan buruk ini sebenarnya menjadi teladan atau preseden buruk terhadap kehormatan anggota dewan lainnya.
“Sehingga ini menjadi preseden yang buruk bagi oknum tersebut. Yang kita sayangkan oknum ini kan adalah anggota dewan, yang seharusnya tidak seperti itu," tukas dia.
2. Pemda TTU dukung keluarga

Dengan adanya kasus intimidasi terhadap dr. Icha hingga berujung meninggal dunia ini, lanjut Falent, telah menguak keburukan dan kelemahan dalam pelayanan kesehatan.
“Dengan kejadian dengan dr Icha ini, kemudian membuka tabir yang selama ini tertutup rapat, yang dimana mereka tidak pernah cerita,” ujar Falent sebelumnya.
Falent mengungkap juga kedatangannya ini juga untuk memberikan penguatan kepada keluarga dokter bernama lengkap dr. Eliza Princila Utami Pakaenoni. Ia memastikan Pemerintah Daerah TTU akan berpihak pada keluarga almarhumah dalam memperjuangkan dan memperoleh keadilan.
“Akan kita perjuangkan bersama dengan keluarga. Apapun prosesnya untuk mengambil tindakan kami menunggu dan mendukung,” lanjutnya.
3. Khawatir berdampak pada kekurangan minat dokter

Dampak dari kasus ini, ungkap Falent, bisa memunculkan keengganan bagi para dokter atau nakes lainnya untuk mengabdi di TTU. Ia khawatir hal tersebut terjadi apalagi dengan kondisi TTU yang sudah kekurangan dokter umum dan gigi.
“Kami mempunyai kekhawatiran akan hal itu," tambahnya.
Kejadian bermula saat dr. Icha menjadi dokter jaga di Rumah Sakit Leona Kefamenanu pada 13 Juni 2026. Kemudian ia menerima pasien anak rujukan dari Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kefamenanu. Anak korban patukan ular ini merupakan ponakan Thrensius Lazakar. Ia saat itu datang dengan Norbertus Bani, dan hadir juga Veronika Lake.















