Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Bangunan SMAN 1 Gunungsari Terancam Ambruk, Siswa Terpaksa Belajar di Kantin
Ruang kelas SMAN 1 Gunungsari Lombok Barat yang disegel karena terancam ambruk. (IDN Times/Muhammad Nasir)
  • Enam kelas SMAN 1 Gunungsari disegel setelah pemeriksaan PUPRPKP NTB menyatakan bangunan berisiko ambruk; 216 siswa kini belajar di ruang darurat.
  • Atap enam kelas diperkirakan membutuhkan rehabilitasi Rp700 juta. Sekolah juga kekurangan fasilitas dan memerlukan sekitar 11 ruang kelas baru agar rombongan belajar tertampung normal.
  • Kantin, musala, perpustakaan, laboratorium, dan ruang lain dialihfungsikan menjadi kelas. Siswa mengeluhkan kebisingan, panas, serta debu, lalu meminta Gubernur NTB meninjau kondisi tersebut.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Lombok Barat, IDN Times - Sebanyak 216 siswa SMAN 1 Gunungsari, Kabupaten Lombok Barat, terpaksa harus menjalani kegiatan belajar mengajar di ruang kelas darurat sejak awal tahun pelajaran 2026/2027. Langkah ini diambil pihak sekolah menyusul kondisi enam ruang kelas di bagian belakang yang dinilai sudah tidak layak pakai dan terancam ambruk. Pihak sekolah berinisiatif menjadikan kantin sebagai kelas darurat.

Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyrifin, menjelaskan pihaknya telah melakukan langkah antisipatif dengan mengosongkan ruangan-ruangan tersebut. Keputusan ini diperkuat setelah Tim Dinas Pekerjaan Umum Penataan Ruang Perumahan dan Kawasan Permukiman (PUPRPKP) NTB turun langsung melakukan pengecekan sebanyak dua kali dan merekomendasikan agar ruangan tersebut sterilkan atau disegel demi keselamatan siswa.

"Setelah dicek ulang memang gak layak dipakai dan berisiko untuk digunakan. Jadi kita pilih aman saja untuk keselamatan anak-anak (siswa) itu yang utama," kata Musyrifin di SMAN 1 Gunungsari Lombok Barat, Selasa (28/7/2026).

1. Biaya perbaikan mencapai Rp700 juta

Kepala SMAN 1 Gunungsari, Musyrifin. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Dari hasil pemeriksaan teknis, bangunan sekolah yang berdiri sejak tahun 1994 ini memiliki konstruksi atap beton dengan genteng berat serta ditopang oleh struktur kayu di bagian bawah. Khusus untuk enam lokal ruang kelas di bagian belakang yang dibangun sekitar tahun 2012–2013, kualitas kayunya dinilai sudah mengalami pelapukan dan kondisi gedungnya mulai miring serta mengalami penurunan struktur.

Musyrifin menyebutkan biaya perbaikan atau rehabilitasi atap untuk enam ruang kelas yang terancam ambruk tersebut sekitar Rp700 juta. Namun, jika ditotal dengan kekurangan fasilitas lainnya seperti ruang laboratorium dan ruang kelas baru, SMAN 1 Gunungsari secara keseluruhan membutuhkan tambahan sekitar 11 ruang kelas baru (RKB) untuk menampung rombongan belajar secara normal.

2. Sulap kantin jadi kelas darurat

Kantin yang disulap jadi ruang kelas darurat di SMAN 1 Gunungsari Lombok Barat. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Akibat penyegelan enam ruangan tersebut, pihak sekolah mengambil kebijakan sementara agar proses belajar mengajar tetap berjalan. Sejumlah fasilitas sekolah seperti kantin dan musala disulap menjadi ruang kelas darurat bagi 216 siswa yang terdampak.

Musyrifin menjelaskan area kantin sekolah disekat menggunakan tirai dan pembatas untuk membagi fungsi antara area kantin untuk pembagian Makan Bergizi Gratis (MBG) dan ruang belajar. Kemudian ruang terbuka di samping musala dijadikan dua kelas. Selain itu, ruang podcast, galeri, perpustakaan, hingga laboratorium sebagian digabung atau disekat untuk dialihfungsikan sementara sebagai ruang kegiatan belajar.

Musyrifin mengatakan belum mengetahui sampai kapan ratusan siswa akan belajar di kelas darurat, karena belum ada kepastian untuk perbaikan enam ruangan kelas yang terancam ambruk. Dia berharap perbaikan enam ruangan kelas yang terancam ambruk tersebut menjadi atensi Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

3. Siswa minta tolong ke Gubernur NTB

Musala yang disulap menjadi kelas darurat di SMAN 1 Gunungsari Lombok Barat. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Siswa kelas XIE SMAN 1 Gunungsari, Ahmad Fazail Akbar, mengatakan sudah tiga minggu belajar di ruang kantin. Dia mengaku konsentrasinya sering terganggu akibat kebisingan, terutama saat jam istirahat tiba.

Siswi lainnya, Tamia Hidayah mengungkapkan rasa kaget dan kekhawatirannya saat pertama kali dipindahkan ke area kantin. Selain masalah debu dan suhu ruangan yang panas, yang kini telah disiasati dengan penambahan kipas angin oleh pihak sekolah, para siswa juga merasa terganggu dengan kebisingan aktivitas di luar kelas.

Kendati demikian, para siswa memahami bahwa langkah pengosongan kelas lama dilakukan demi menghindari risiko bencana menyusul insiden ambruknya bangunan sekolah seperti yang terjadi di SMAN 7 Mataram dan SMAN 1 Lingsar. Tamia berharap kepada Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal dapat meninjau kondisi proses belajar mengajar siswa yang menempati kelas darurat.

"Pak, kami punya kelas di kantin, kami kurang fokus belajar di sini. Tolong bantu kami untuk dapat kelas yang lebih layak. Kalau bapak mau, boleh ke sini untuk melihat kondisi kelas kami," harapnya.

Pemerintah daerah maupun pusat diharapkan dapat segera merealisasikan bantuan rehabilitasi sarana dan prasarana sekolah. Sehingga kegiatan belajar mengajar di SMAN 1 Gunungsari bisa kembali berlangsung secara aman, nyaman, dan permanen.

Curated For You

Editorial Team

Related Article