Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
IDN Ecosystem
IDN Signature Events
For
You

Ada Tren Rohalus, Anak Muda NTB ke Mal Kulineran dan Nonton Bioskop

IMG_20250823_171521_025.jpg
Ilustrasi pengunjung mal di Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Mataram, IDN Times - Belakangan ini, ada tren rombongan jarang beli (Rojali) dan rombongan hanya nanya-nanya (Rohana) di pusat perbelanjaan modern seperti mal. Dinas Perdagangan NTB menyebut fenomena itu tak bisa dipungkiri.

Kepala Dinas Perdagangan NTB Jamaluddin Maladi mengatakan selain Rojali dan Rohana, ada juga rombongan hanya elus-elus (Rohalus). Sementara itu, anak muda para Generasi Milenial dan Gen Z mengakui bahwa mereka ke mal untuk refreshing, kulineran dan nonton bioskop.

1. Beli pakaian bisa lewat online

IMG_20250823_171235_576.jpg
Salah satu tenant pada salah satu mal di Kota Mataram. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Generasi Milenial di Kota Mataram, Buniamin (30) mengaku sering ke pusat perbelanjaan modern. Saat ini, ada tiga pusat pembelanjaan modern yang cukup besar di Kota Mataram yaitu Mataram Mall, Lombok Epicentrum Mall dan Transmart Mataram.

"Ke sana biasanya duduk saja kayak ngopi. Ke mal itu untuk refreshing saja. Ke sana juga kulineran, cari makanan. Soalnya kalau ke mal satu tempat bisa dapat semua," kata Buniamin saat berbincang dengan IDN Times, Minggu (24/8/2025).

Selain refreshing dan kulineran, Buniamin mengatakan dia juga ke mal kadang-kadang membeli pakaian. "Biasanya ada kelihatan bagus kita beli. Kalau ndak iya, tujuan utamanya kulineran," terangnya.

Dia menungkapkan harga pakaian di mal lebih mahal daripada di toko. Sehingga, dia lebih memilih membeli pakaian dari toko online. "Rata-rata ke mal untuk kulineran dan nonton bioskop. Kalau pakaian banyak olshop (online shop). Kita lebih banyak beli lewat online," tuturnya.

Hal yang sama diungkapkan Gen Z di Kota Mataram, Lala Khairunnisa (22). Dia mengatakan ke mal untuk jalan-jalan dan nonton bioskop..

"Kalau saya jalan-jalan saja, nonton bioskop dan pergi fotoan. Kalau beli baju, thrifting. Karena harganya di mal lebih mahal dibandingkan di luar. Jadi kalau beli baju di luar atau toko," jelasnya.

2. Selain Rojali dan Rohana, ada juga fenomena Rohalus

Kepala Dinas Perdagangan NTB Jamaluddin Maladi. (IDN Times/Muhammad Nasir)
Kepala Dinas Perdagangan NTB Jamaluddin Maladi. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Terpisah, Kepala Dinas Perdagangan NTB Jamaluddin Maladi mengatakan tak bisa dipungkiri saat ini ada fenomena Rojali dan Rohana di pusat perbelanjaan. Selain Rojali dan Rohana, ada juga Rohalus.

"Tidak bisa kita pungkiri bahwa masyarakat kita menjadi Rohalus (Rombongan Hanya Elus-elus). Maksudnya tidak ada yang cocok dengan harapannya. Itu biasa, hukum ekonomi pasti terjadi itu. Karena pembeli adalah raja," kata Jamaluddin.

Menurutnya, fenomena itu memang ada tetapi dia mengklaim tak banyak. Jamaluddin menjelaskan apabila yang dibutuhkan sesuai dengan keinginan maka pasti akan dibeli.

"Misalnya kalau kita ke mal di Jakarta, mau cari pakaian kita elus-elus jadi Rohalus. Setelah cocok baru dibeli. Kondisi itu bisa jadi terkait dengan kondisi ekonomi saat ini," kata dia.

Dengan kondisi ekonomi seperti saat ini, kata Jamaluddin, masyarakat kadang-kadang punya opsi dalam membeli barang yang dibutuhkan. Apabila harga barang yang original mahal, maka mereka akan memilih barang dengan kualitas KW1.

"Sekarang orang kadang-kadang tak mau beli yang original karena mahal. Akhirnya mereka lebih memilih yang kualitas KW1, kualitas hampur sama dengan original tapi harga lebih murah. Itu karena kondisi ekonomi," terangnya.

3. Sektor pariwisata jadi penggerak

IMG_20250811_095013_111.jpg
Kunjungan wisatawan mancanegara ke Gili Trawangan Lombok Utara. (IDN Times/Muhammad Nasir)

Menurut Jamaluddin, sektor pariwisata dapat menjadi penggerak ekonomi. Pada tahun ini, sejumlah event nasional dan internasional digelar di NTB. Hal ini, menurutnya dapat menjadi pendorong perekonomian masyarakat di tengah kondisi ekonomi saat ini.

"NTB terbantu dengan adanya berbagai event nasional yang digelar di sini. Kalau ingin perputaran ekonomi, kata kuncinya pariwisata yang benar-benar digaungkan dan industri turunan akan mengikuti. Pariwisata menjadi penggerak utama perekonomian daerah," kata Jamaluddin.

Menurutnya, daya beli masyarakat NTB saat ini jauh lebih baik dibandingkan beberapa tahun lalu. Apalagi NTB secara beruntun terkena bencana, mulai dari gempa bumi 2018 dan pendemik Covid-19. Selain itu, adanya efisiensi anggaran yang dilakukan pemerintah cukup berdampak pada sektor pariwisata dan industri turunannya.

"Tapi saya daya beli masyarakat melihat jauh lebih bagus dibandingkan tahun sebelumnya. Tentu tidak langsung semua masyarakat semua mendapatkan peningkatan ekonomi," tandasnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) merilis ekonomi provinsi NTB pada triwulan II 2025 terhadap triwulan II 2024 tumbuh negatif atau minus sebesar 0,82 persen years on years (y-on-y). Kepala BPS NTB Wahyudin menjelaskan dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalia sebesar 29,93 persen.

Sedangkan dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi terdalam sebesar 40,02 persen. Kontraksi pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan II 2025 disebabkan oleh penurunan kinerja pada kategori pertambangan dan penggalian lainnya serta kategori administrasi pemerintahan, pertahanan, dan jaminan sosial wajib. Sementara itu, 15 kategori lainnya masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, dengan peningkatan tertinggi terjadi pada kategori industri pengolahan.

Wahyudin mengatakan ekonomi NTB triwulan II 2025 terhadap triwulan I 2025 mengalami pertumbuhan sebesar 6,56 persen (q-to-q). Dari sisi produksi, pertumbuhan tertinggi terjadi pada lapangan usaha industri pengolahan sebesar 37,69 persen. Sementara dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami pertumbuhan tertinggi sebesar 26,62 persen.

Sedangkan ekonomi NTB selama triwulanI sampai dengan triwulan II 2025 terhadap triwulan I sampai dengan triwulan II 2024 mengalami kontraksi sedalam minus 1,11 persen (c-to-c). Dari sisi produksi, kontraksi terdalam terjadi pada lapangan usaha pertambangan dan penggalian sebesar 30,03 persen. Dari sisi pengeluaran, komponen ekspor barang dan jasa mengalami kontraksi terdalam sebesar 40,45 persen.

Penurunan nilai tambah pada kategori pertambangan dan penggalian lainnya disebabkan oleh turunnya produksi konsentrat tembaga PT. Amman Mineral Nusa Tenggara (PT AMNT) sebesar 57 persen dibandingkan triwulan II-2024. Kondisi ini merupakan dampak dari dihentikannya ekspor konsentrat tembaga sebagai tindak lanjut penerapan UU No. 3 Tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara yang melarang ekspor mineral mentah.

Di sisi lain, kategori administrasi pemerintah turut mengalami kontraksi yang dipicu oleh penurunan realisasi belanja pegawai dari Rp3,2 triliun pada triwulan II 2024 menjadi Rp2,9 triliun pada triwulan II 2025. Penurunan ini, kata Wahyudin disebabkan oleh pembayaran Tunjangan Hari Raya (THR) yang telah direalisasikan pada triwulan I 2025.

Meskipun demikian, kontraksi ekonomi tertahan oleh pertumbuhan yang tinggi di sejumlah lapangan usaha, khususnya kategori industri pengolahan yang tumbuh signifikan sebesar 66,19 persen (y-on-y) pada triwulan II 2025. Lonjakan ini didorong oleh beroperasinya smelter PT. Amman Mineral Industri (PT. AMIN) di Kabupaten Sumbawa Barat.

Kemudian kategori penyediaan akomodasi dan makan minum mencatatkan pertumbuhan yang tinggi, seiring dengan meningkatnya tamu yang menginap di hotel bintang dan non-bintang sebesar 31 persen (y-on-y). Peningkatan ini dipengaruhi oleh peningkatan kunjungan wisatawan asing.

Kemudian kategori pertanian, kehutanan, dan perikanan sebagai kontributor terbesar terhadap PDRB NTB, juga menunjukkan pertumbuhan yang positif, antara lain didorong oleh adanya peningkatan produksi padi sebesar 5,86 persen (y-on-y).

Dia menjelaskan dari sisi PDRB menurut pengeluaran, kontraksi pertumbuhan ekonomi NTB pada triwulan II 2025 disebabkan oleh penurunan kinerja ekspor barang dan jasa, serta komponen pengeluaran konsumsi pemerintah (PKP). Ekspor luar negeri Provinsi NTB triwulan II-2025 turun sebesar 77,73 persen secara y-on-y, karena tidak adanya ekspor komoditas tambang atau konsentrat tembaga.

Begitu juga realisasi belanja pegawai yang bersumber dari APBD Provinsi NTB dan Kabupaten/Kota turun sebesar 7,72 persen secara y-on-y. Meskipun demikian, kontraksi ekonomi tertahan oleh masih tumbuhnya sejumlah komponen pengeluaran antara lain pengeluaran konsumsi rumah tangga (PKRT), pembentukan modal tetap bruto (PMTB), dan konsumsi Lembaga Non-Profit yang melayani Rumah Tangga (LNPRT).

Share
Editor’s Picks
Topics
Editorial Team
Linggauni -
EditorLinggauni -
Follow Us