Tidak semua orang nyaman menyembuhkan diri dengan bercerita. Ada kalanya luka terlalu personal, emosi terlalu rapuh, atau kata-kata belum siap diucapkan. Dalam keheningan seperti itu, banyak orang memilih diam, bukan karena tidak ingin sembuh, tetapi karena butuh ruang yang aman.
Buku sering hadir sebagai terapi sunyi: tanpa suara, tanpa tuntutan, tanpa interupsi. Ia menemani tanpa bertanya, mendengarkan tanpa menghakimi. Melalui cerita dan refleksi, buku membantu pembaca memulihkan diri secara perlahan.
Berikut 7 alasan mengapa buku bisa menjadi terapi sunyi yang menenangkan.
