Iklan - Scroll untuk Melanjutkan
Baca artikel IDN Times lainnya di IDN App
It helps you see more of our articles when you search on Google
Trauma Berat, Korban Gempa NTT Memilih Bertahan di Luar Rumah
Petugas terus berupaya masuk ke daerah terisolir pasca gempa Flores termasuk di Pulau Palue, Sikka. (Dok Polda NTT)
  • Gempa M5,8 pada 17 Agustus 2026 memicu kepanikan di sejumlah wilayah Flores, termasuk Sikka; warga berhamburan keluar rumah dan kegiatan upacara kemerdekaan di Stadion Marilonga ikut buyar.
  • Sejumlah korban mengalami dampak fisik dan psikologis, seperti Febriani yang cedera lutut setelah terpeleset di kamar mandi, sementara Luna serta keluarganya diliputi ketakutan.
  • BMKG mencatat gempa susulan M5,4 dan M5,1 setelah gempa utama, dengan getaran lanjutan M4–5 membuat banyak warga memilih evakuasi mandiri dan tidur di luar rumah.
This section summary was AI-assisted and reviewed by our editorial team.

Kupang, IDN Times - Pagi itu, ketenangan warga Sikka mendadak buyar saat bumi yang mereka pijak berguncang hebat. Guncangan dengan Magnitudo 5,8 yang berlangsung cukup lama itu mengubah suasana pagi menjadi kepanikan massal. Tanpa berpikir panjang, warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri dari ancaman bangunan yang bisa roboh kapan saja.

Luna, seorang guru di salah satu sekolah di Sikka, mengingat betul kepanikan yang melingkupinya. Tubuhnya gemetaran saat goncangan tak kunjung berhenti. Dalam momen yang penuh ketakutan itu, pikiran Luna melayang pada keselamatan anak-anak dan orangtuanya.

"Kami semua ketakutan. Saya sampai gemetaran," tutur Luna mengenakan kembali ingatan mencekam pagi itu.

Saat ini, Luna dan keluarganya lebih memilih untuk bertahan di luar rumah. Sebelum gempa, rumah adalah tempat paling aman untuk dirinya, namun kini justru sebaliknya.

1. Korban sedang di kamar mandi saat gempa terjadi

Gempa berkekuatan magnitudo 5,8 di Mbay Nagekeo pukul 08.46.43 WITA pada 17 Agustus 2026. (Dok BMKG)

Nasib nahas dialami Febriani. Saat gempa mengguncang, ia sedang berada di kamar mandi. Kepanikan yang membuncah membuatnya hilang kendali hingga terpeleset dan cedera di bagian lutut. Bagi Febriani, guncangan pagi itu tak sekadar meninggalkan luka fisik, tetapi juga trauma yang lekat di ingatan.

Kehebatan guncangan pun merenggut kekhidmatan Peringatan Kemerdekaan. Potongan video yang beredar memperlihatkan barisan peserta upacara 17 Agustus di Stadion Marilonga seketika buyar. Warga dan peserta berlarian kocar-kacir, mencari ruang terbuka demi menyelamatkan nyawa.

Hingga kini, bayang-bayang kecemasan masih menggelayuti warga yang bertahan di rumah. Rasa waswas akan hadirnya gempa susulan yang lebih destruktif terus memenjarakan ketenangan mereka.

2. Gempa beruntun

Petugas terus berupaya masuk ke daerah terisolir pasca gempa Flores termasuk di Pulau Palue, Sikka. (Dok Polda NTT)

Menurut data Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), gempa Mbay dengan kekuatan M5,8 itu terasa hingga Kabupaten Sumba Timur, getaran dirasakan dengan intensitas III MMI. Setelah itu muncul gempa berkekuatan M5,4 yang tercatat pada pukul 11.36.41 WITA, dengan pusat gempa di 46 kilometer barat laut Mbay, pada kedalaman 10 kilometer. Berselang sekitar 11 menit kemudian, gempa berkekuatan magnitudo 5,1 kembali terjadi pada pukul 11.48.05 WITA.

"Pusat gempa M5,1 ini berada sekitar 41 kilometer barat laut Mbay, dengan kedalaman 10 kilometer," bunyi laporan tersebut.

Mbay sendiri sebelumnya menjadi pusat gempa berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpotensi tsunami. Hingga kini diketahui sekitar 50-an warga dilaporkan meninggal dunia sementara ribuan lainnya mengungsi. Gempa ini juga membuat wilayah Nagekeo hingga dengan operasi pasca bencana hari kedua, Minggu (16/8/2026), belum bisa diakses.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,8 muncul sekitar 40 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, dengan kedalaman 10 kilometer, pada Senin (17/8/2026). Gempa dangkal ini kembali membuat warga berlarian karena trauma dan ketakutan. Gempa yang melanda pada pukul 08.46.43 WITA ini terasa di Kabupaten Ende, Nagekeo, Manggarai, Ngada dan Manggarai Timur, juga Sikka. Gempa ini kemudian disusul beberapa kali gempa yang kekuatannya masih sekitar magnitudo 5.

3. Warga memilih bertahan di luar rumah

Korban gempa Flores di Sikka berdiam di tenda BNPB. (Dok BNPB)

Hingga saat ini gempa susulan berkekuatan magnitudo 4 hingga 5 masih terus berlangsung terutama di wilayah Ruteng, Manggarai. Gubernur NTT Melki Laka Lena sebelumnya mengatakan wilayah Flores bagian adalah kawasan yang paling terdampak serius akibat gempa M7,7 ini. Banyak warga yang akhirnya memilih evakuasi mandiri dan tidur di luar rumah hingga saat ini karena takut terhadap gempa susulan membahayakan mereka.

“Pasca kejadian gempa dengan magnitude 7,7 kemarin, hari ini masih banyak warga yang ketakutan dan memilih untuk tidur di luar rumah, antisipasi gempa susulan yang terus terjadi. Dan wilayah Flores bagian utara itu yang terdampak serius,” kata Melki, Minggu (16/8/2026).

This article is written by our community writers and has been carefully reviewed by our editorial team. We strive to provide the most accurate and reliable information, ensuring high standards of quality, credibility, and trustworthiness.

Curated For You

Editorial Team

Related Article