Kupang, IDN Times - Pagi itu, ketenangan warga Sikka mendadak buyar saat bumi yang mereka pijak berguncang hebat. Guncangan dengan Magnitudo 5,8 yang berlangsung cukup lama itu mengubah suasana pagi menjadi kepanikan massal. Tanpa berpikir panjang, warga berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri dari ancaman bangunan yang bisa roboh kapan saja.
Luna, seorang guru di salah satu sekolah di Sikka, mengingat betul kepanikan yang melingkupinya. Tubuhnya gemetaran saat goncangan tak kunjung berhenti. Dalam momen yang penuh ketakutan itu, pikiran Luna melayang pada keselamatan anak-anak dan orangtuanya.
"Kami semua ketakutan. Saya sampai gemetaran," tutur Luna mengenakan kembali ingatan mencekam pagi itu.
Saat ini, Luna dan keluarganya lebih memilih untuk bertahan di luar rumah. Sebelum gempa, rumah adalah tempat paling aman untuk dirinya, namun kini justru sebaliknya.
