Ada 783 ODGJ di Manggarai Timur, 51 Masih Dipasung

Dinas Kesehatan Manggarai Timur mencatat 783 ODGJ pada 2026; 715 orang atau 91,32 persen telah ditangani dengan obat, terutama kategori berat.
Sebanyak 51 ODGJ masih dipasung, sementara satu orang telah dilepas melalui kolaborasi Yayasan Ayo Indonesia. Penanganan terkendala kekurangan obat, tenaga terampil, dan koordinasi lintas sektor.
Bupati Agas Andreas meminta perhatian psikososial bagi pengungsi gempa, pemeriksaan berkala psikolog atau psikiater, penguatan 29 puskesmas, pelatihan tenaga kesehatan, serta distribusi obat sesuai kebutuhan.
Kupang, IDN Times - Dinas Kesehatan Kabupaten Manggarai Timur (Matim) mencatat jumlah Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ) di Matim pada tahun 2026 sebanyak 783 ODGJ. Penanganan terhadap ODGJ ini sudah mencapai 91,32 persen atau sudah 715 ODGJ.
Data ini disampaikan dalam rapat koordinasi yang dilaksanakan pada Rabu (30/9/2026) dan dihadiri anggota Satuan Tugas Kesehatan Jiwa Kabupaten Pemkab Matim dan dari berbagai unsur masyarakat. Dalam rapat tersebut Bupati Matim Agas Andreas menegaskan agar memperkuat upaya penanganan dan pelayanan kesehatan jiwa melalui kolaborasi lintas sektor, termasuk menargetkan ke pengungsi pasca gempa.
1. Sebanyak 51 ODGJ dipasung

Kemensos Bebaskan ODGJ Kakak Adik yang Dipasung 24 Tahun di Banten. (Dok. Kemensos) Bupati Matim, Agas Andreas, dalam data tersebut menyatakan penanganan yang telah dilakukan ini menyasar ODGJ dengan kategori berat.
"Sudah 715 ODGJ tertangani melalui pemberian obat dan masuk dalam kategori ODGJ berat," ungkapnya.
Ia juga menyebut saat ini masih ada 51 ODGJ yang masih dipasung dan sebelum itu salah satunya sudah tak lagi dipasung. ODGJ yang dilepas dari pasungan ini melalui kolaborasi dengan Yayasan Ayo Indonesia.
Namun ia mengakui dalam penanganan ODGJ ini, kendala yang dihadapi ialah kurangnya obat dan tenaga kesehatan terampil. Dalam pendampingan ODGJ diperlukan peran lintas sector yang belum maksimal.
2. Arahkan perangkat daerah perhatikan psikososial para pengungsi

Bupati Manggarai Timur Andreas Agas Andreas saat membuka rakor pengendalian kesehatan jiwa. (Dok Prokopim Manggarai Timur) Bupati Agas Andreas juga mengarahkan perangkat daerah terkait pemerintah desa dan kecamatan untuk memperhatikan kondisi psikososial para pengungsi penyintas gempa. Ia pada kesempatan itu menekankan penanganan kesehatan jiwa membutuhkan pendekatan yang menyeluruh dengan mengintegrasikan aspek promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
“Maka peran instanasi terkait adalah memastikan hal ini. Masyarakat juga harus diberikan pemahaman tentang buruknya stigma dan pentingnya memastikan ODGJ yang ada di lingkungannya mendapatkan penanganan yang sesuai,” ungkapnya.
3. Minta segera dijadwalkan pemeriksaan ke pengungsian

Bupati Manggarai Timur Andreas Agas Andreas saat membuka rakor pengendalian kesehatan jiwa. (Dok Prokopim Manggarai Timur) Ia menegaskan agar para pengungsi mendapat perhatian lebih saat ini. Menurutnya, kondisi di pengungsian dengan segala beban yang dihadapi tentunya tidak mudah.
"Karenanya saya minta agar kondisi mereka juga menjadi perhatian. Dukungan obat dan pendamingan pemberian untuk Orang Dengan Masalah Kejiwaan (ODMK) dan ODGJ di pengungsian harus diperhatikan betul," ungkapnya.
Ia ingin segera dijadwalkan kunjungan psikolog atau psikiater secara berkala dan rujuk ke RSUD atau RSJ jika pasien mengalami masalah kesehatan.
"Saya minta ini diperhatikan serius,” demikian disampaikan Bupat Agas.
Ia menegaskan agar pelayanan kesehatan jiwa di 29 puskesmas diperkuat dengan pelatihan bagi tenaga kesehatan jiwa, menunjuk dokter untuk memberikan konsultasi kesehatan jiwa khusus bagi puskesmas yang belum memiliki dokter, serta mendistribusikan obat sesuai kebutuhan pasien.
![[INFOGRAFIS] AI Jadi Tempat Curhat: Tren Baru Gen Z & Milenial](https://image.idntimes.com/post/20260429/upload_9c2883de31fbc7ad993691764c90e6e3_dfc3c6ee-e42f-48f6-9f1a-cde1ce74477c.jpg)



















