TPA Penuh Desember 2026, Mataram dan Lobar Terancam Krisis Sampah

- TPA Regional Kebon Kongok diperkirakan penuh pada Desember 2026, mengancam krisis sampah di Kota Mataram dan Lombok Barat.
- Penggabungan landfill 1 dan 2, termasuk pemanfaatan akses jalan seluas 37 are, masih menunggu arahan gubernur dan berpotensi memperpanjang usia TPA hingga dua tahun.
- Mataram dan Lobar membuang 400–450 ton sampah per hari; mulai 2029, landfill akan digantikan pengolahan sampah menjadi energi, termasuk penjajakan PLTSa.
Mataram, IDN Times - TPA Regional Kebon Kongok di Lombok Barat (Lobar), Nusa Tenggara Barat, diperkirakan hanya mampu bertahan hingga Desember 2026. Kondisi tersebut mengancam Kota Mataram dan Lobar yang akan mengalami krisis sampah.
Kepala Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) NTB, Didik Mahmud Gunawan Hadi menjelaskan saat ini sedang direncanakan penggabungan landfill 1 dan landfill 2 TPA Regional Kebon Kongok. Jika dua landfill itu digabung maka akses jalan di dalam TPA dapat dialihfungsikan menjadi area penampungan baru.
"Kondisi landfill yang sekarang sampai Desember. Mohon Kota Mataram dan Lombok Barat mengurangi sampah dari sumbernya. Kalau itu digabung luasnya 37 are, akses jalan di dalam TPA itu dijadikan landfill," kata Didik usai rapat koordinasi di Kantor Gubernur NTB, Rabu (19/8/2026) sore.
1. Penggabungan landfill bisa memperpanjang usia TPA hingga dua tahun

Kepala Dinas LHK NTB Didik Mahmud Gunawan. (IDN Times/Muhammad Nasir) Didik menjelaskan dalam rapat koordinasi tersebut belum ada keputusan final terkait rencana penggabungan landfill 1 dan landfill 2 TPA Regional Kebon Kongok. Pihaknya masih menunggu arahan dari Gubernur NTB Lalu Muhamad Iqbal, apakah skema tersebut mulai dijalankan tahun ini atau tahun depan.
Jika dua landfill itu digabung maka diproyeksikan dapat memperpanjang usia TPA Regional Kebon Kongok hingga dua tahun ke depan. Kebijakan ini mencakup pemanfaatan area seluas 37 are, termasuk mengalihfungsikan akses jalan di dalam TPA menjadi area penampungan baru.
"Kalau landfill 1 dan landfill 2 digabung maka bisa sampai dua tahun (usia TPA Regional Kebon Kongok)," sebutnya.
2. Volume sampah yang dibuang ke TPA mencapai 450 ton per hari

Kolam penampungan air lindi TPA Regional Kebon Kongok. (IDN Times/Muhammad Nasir) Dia menyebut volume sampah yang dibuang dari Kota Mataram dan Lobar ke TPA Regional Kebon mencapai 400 hingga 450 ton per hari. Pemkot Mataram dan Pemda Lombok Barat diminta untuk dapat mengurangi sampah dari sumbernya.
Karena kondisi landfill saat ini yang diprediksi penuh pada Desember mendatang. Dia menjelaskan penggabungan landfill 1 dan 2 menjadi solusi jangka pendek untuk mengatasi ancaman krisis sampah di Kota Mataram dan Lobar. Setelah ini, kata dia, tidak ada lagi landfill di TPA Regional Kebon Kongok.
3. Mulai 2029 tidak ada lagi landfill

Fasilitas pengolahan sampah di TPA Regional Kebon Kongok. (IDN Times/Muhammad Nasir) Didik mengatakan mulai 2029, tidak ada lagi landfill di TPA Regional Kebon Kongok. Sebagai gantinya, pengolahan sampah menggunakan teknologi seperti pembangunan Pembangkit Listrik Tenaga Sampah (PLTSa).
Dia mengungkapkan sejumlah investor tertarik mengolah sampah menjadi energi listrik di TPA Regional Kebon Kongok. Pihaknya sedang menjajaki agar pengolahan sampah menjadi energi listrik dapat masuk proyek Danantara.
NTB belum masuk proyek PLTSa Danantara karena volume sampah di TPA Regional Kebon Kongok masih di bawah 1.000 ton per hari. "Sekarang Danantara itu sudah ada skemanya di bawah 1.000 ton, itu kita jajaki," tandas Didik.


















